PERKEMBANGAN
AWAL ANTROPOLOGI EKONOMI
Antropologi
Ekonomi: Bidang Ini Merupakan Cara Manusia Dalam Mempertahankan Dan
Mengekspresikan Diri Melalui Penggunaan Barang Jasa Meterial. (Gudeman, 2000:
259). Masyarakat Sekarang Dan Masa Lampau, Termasuk Masyarakat Nonbarat, Yang
Fokusnya Terarah Pada Bentuk Dan Pengatuan Kehidupan Ekonomi, Dalam Kaitannya
Dengan Perbedaan Gaya Kekuasaan Dan Ideologi. Dengan Demikian Ruang-Lingkup
Antropologi Ekonomi Tersebut Mencakup; Riset Tentan Teknologi, Produksi,
Perdagangan, Dan Konsumsi, Serta Tinjauan Tentang Berbagai Bentuk Pengaturan
Sosisl Dan Ideologis Manusia Untuk Mendukung Kehidupan Materi Manusia.
Selain
Itu Juga Antropologi Ekonomi Berusaha Merangkum Aspek Etnografis Dan Teoretis,
Sekalipun Keduanya Acapkali Beretentangan. Sebab Di Satu Bidang Kajian Ini Juga
Membantu Pengujian Atas Teori-Teori Ekonomi Pada Umumnya, Dan Di Sisi Lain
Bidang Ini Juga Dipengaruhi Cabang-Cabang Lainnya Dari Ilmu Ekonomi, Khususnya
Aliran Mikro Dan Neoklasik. Melalui Pengkajian Pendekatan Neo-Klasik, Membuat
Para Pemerhati Antropologi Ekonomi Juga Meyakini Asumsi-Asumsinya Seperti
Rasionalitas Setiap Individu, Pengutamaan Kalkulasi, Optimalisasi, Dan
Sebagainya, Yang Tidak Begitu Relevan Terhadap Pendekatanpendekatan Lain Yang
Lebih Umum Dalam Antropologi (Gudeman, 2000: 259). Sedangkan Ekonomi Makro
Ternyata Tidak Banyak Memberi Pengaruh, Walaupun Cakupannya Begitu Besar
(Makro). Bahkan Yang Lebih Unik Lagi Adalah Aliran Marxisme, Justru Memberi
Pengaruh Terhadap Antropologi Ekonomi.
Pengaruh
Marxisme Tersebut, Nampak Sejak Tahun 1960-An Dan 1970-An Ketika Kaum Marxis
Melomtarkan Pertanyaan Kritis Tentang Asal-Mula Dan Pemanfaatan Surplus Dalam
Suatu Masyarakat. Namun Secara Formal Pengaruh Marxis Tersebut Justru
Berkembangnya Tahun 1980-An Dan 1990-An, Ketika Munculnya Studi-Studi Tentang
”Sistem Dunia” Sebagai Pengaruh Pemikiran-Pemikiran Karl Polanyi Dan Immanuel
Wallerstein
Pemikiran
Karl Polanyi Yang Mengembangkan Pendekatan Institusional, Mengemukakan Bahwa
Perekonomian Yang Bertumpu Pada Pasar, Bukanlah Sesuatu Yang Universal, Seperti
Diyakini Oleh Para Ekonom Klasik. Sebab, Di Banyak Negara Khususnya Di Luar
Eropa, Perekonmian Diatur Berdasarkan Kepentingan Bersama (Resiprositas).
Sayangnya Pendapat Tersebut Kalang Pengaruh Oleh Pemikiran Marxis Dan
Neo-Klasik Sehingga Pemikiran Polanyi Tidak Berkembang (Gudeman, 2000: 259).
Selanjutnya, Para Ahli Antropologi Ekonomi Mencoba Memadukan Pengetahuan Modern
Dan Non-Modern Dengan Pendekatan ”Dualisme Ekonomi” Dalam Semua Materi Antara
Produksi Untuk Diri Sendiri Dan Produksi Untuk Orang Lain. Untuk Tipe Yang
Pertama, Disebut Perkonomian Komunitas, Sedangkan Yang Keua, Disebut
Perekonomian Pasar (Gudeman, 2000: 260).
Perekonomian
Komunitas Dibentuk Tas Dasar Banyak Asosiasi Seperti Rumah-Tangga, Kelompok
Kekerabatan, Lingkungan Pemukiman, Serikat Pengrajin, Sekte Keagamaan,
Desadesa, Dan Sebagaina. Dalam Segenap Komunitaslokal Itu Saling Melebur Ketika
Melakukan Berbagai Kegiatan Pemenuhan Materi. Karena Itu Kepemilikan Bersama
Merupakan Prinsip Yangpenting, Baik Itu Terhadap Tanah, Pengetahuan, Alat
Produksi, Ajaran Leluhur, Dan Sebagainya. Sedangkan Dalam Perekonomian Pasar,
Sebaliknya Didasarkan Pada Persaingan Antara Pembeli Dan Penjual. Dalam Hal Ini
Semua Pihak Berhubungan Untuk Memperoleh Keuntungan. Melalui Aktivitas Tersebut
Perekonomian Pasar Menjanjikan Efisiensi Alokasi Sumber Daya, Walaupun Tidak
Ernah Menjanjikan Pemenuhan Kebutuhan Bagi Setiap Orang.
Daftar Pustaka
Gudeman, S. 2000. Antropologi Ekonomi dalam
Adam Kuper dan Jessica Kuper. Ensiklopedia Ilmu-ilmu Sosial. Diterjemahkan
oleh Haris Munandar dkk. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

0 komentar