-->
    BLANTERORBITv102

    PERKEMBANGAN AWAL ANTRPOLOGI EKONOMI

    Jumat, 24 September 2021

     

    PERKEMBANGAN AWAL ANTROPOLOGI EKONOMI


     

                Antropologi Ekonomi: Bidang Ini Merupakan Cara Manusia Dalam Mempertahankan Dan Mengekspresikan Diri Melalui Penggunaan Barang Jasa Meterial. (Gudeman, 2000: 259). Masyarakat Sekarang Dan Masa Lampau, Termasuk Masyarakat Nonbarat, Yang Fokusnya Terarah Pada Bentuk Dan Pengatuan Kehidupan Ekonomi, Dalam Kaitannya Dengan Perbedaan Gaya Kekuasaan Dan Ideologi. Dengan Demikian Ruang-Lingkup Antropologi Ekonomi Tersebut Mencakup; Riset Tentan Teknologi, Produksi, Perdagangan, Dan Konsumsi, Serta Tinjauan Tentang Berbagai Bentuk Pengaturan Sosisl Dan Ideologis Manusia Untuk Mendukung Kehidupan Materi Manusia.

    Selain Itu Juga Antropologi Ekonomi Berusaha Merangkum Aspek Etnografis Dan Teoretis, Sekalipun Keduanya Acapkali Beretentangan. Sebab Di Satu Bidang Kajian Ini Juga Membantu Pengujian Atas Teori-Teori Ekonomi Pada Umumnya, Dan Di Sisi Lain Bidang Ini Juga Dipengaruhi Cabang-Cabang Lainnya Dari Ilmu Ekonomi, Khususnya Aliran Mikro Dan Neoklasik. Melalui Pengkajian Pendekatan Neo-Klasik, Membuat Para Pemerhati Antropologi Ekonomi Juga Meyakini Asumsi-Asumsinya Seperti Rasionalitas Setiap Individu, Pengutamaan Kalkulasi, Optimalisasi, Dan Sebagainya, Yang Tidak Begitu Relevan Terhadap Pendekatanpendekatan Lain Yang Lebih Umum Dalam Antropologi (Gudeman, 2000: 259). Sedangkan Ekonomi Makro Ternyata Tidak Banyak Memberi Pengaruh, Walaupun Cakupannya Begitu Besar (Makro). Bahkan Yang Lebih Unik Lagi Adalah Aliran Marxisme, Justru Memberi Pengaruh Terhadap Antropologi Ekonomi.

    Pengaruh Marxisme Tersebut, Nampak Sejak Tahun 1960-An Dan 1970-An Ketika Kaum Marxis Melomtarkan Pertanyaan Kritis Tentang Asal-Mula Dan Pemanfaatan Surplus Dalam Suatu Masyarakat. Namun Secara Formal Pengaruh Marxis Tersebut Justru Berkembangnya Tahun 1980-An Dan 1990-An, Ketika Munculnya Studi-Studi Tentang ”Sistem Dunia” Sebagai Pengaruh Pemikiran-Pemikiran Karl Polanyi Dan Immanuel Wallerstein

    Pemikiran Karl Polanyi Yang Mengembangkan Pendekatan Institusional, Mengemukakan Bahwa Perekonomian Yang Bertumpu Pada Pasar, Bukanlah Sesuatu Yang Universal, Seperti Diyakini Oleh Para Ekonom Klasik. Sebab, Di Banyak Negara Khususnya Di Luar Eropa, Perekonmian Diatur Berdasarkan Kepentingan Bersama (Resiprositas). Sayangnya Pendapat Tersebut Kalang Pengaruh Oleh Pemikiran Marxis Dan Neo-Klasik Sehingga Pemikiran Polanyi Tidak Berkembang (Gudeman, 2000: 259). Selanjutnya, Para Ahli Antropologi Ekonomi Mencoba Memadukan Pengetahuan Modern Dan Non-Modern Dengan Pendekatan ”Dualisme Ekonomi” Dalam Semua Materi Antara Produksi Untuk Diri Sendiri Dan Produksi Untuk Orang Lain. Untuk Tipe Yang Pertama, Disebut Perkonomian Komunitas, Sedangkan Yang Keua, Disebut Perekonomian Pasar (Gudeman, 2000: 260).

    Perekonomian Komunitas Dibentuk Tas Dasar Banyak Asosiasi Seperti Rumah-Tangga, Kelompok Kekerabatan, Lingkungan Pemukiman, Serikat Pengrajin, Sekte Keagamaan, Desadesa, Dan Sebagaina. Dalam Segenap Komunitaslokal Itu Saling Melebur Ketika Melakukan Berbagai Kegiatan Pemenuhan Materi. Karena Itu Kepemilikan Bersama Merupakan Prinsip Yangpenting, Baik Itu Terhadap Tanah, Pengetahuan, Alat Produksi, Ajaran Leluhur, Dan Sebagainya. Sedangkan Dalam Perekonomian Pasar, Sebaliknya Didasarkan Pada Persaingan Antara Pembeli Dan Penjual. Dalam Hal Ini Semua Pihak Berhubungan Untuk Memperoleh Keuntungan. Melalui Aktivitas Tersebut Perekonomian Pasar Menjanjikan Efisiensi Alokasi Sumber Daya, Walaupun Tidak Ernah Menjanjikan Pemenuhan Kebutuhan Bagi Setiap Orang. 


     

    Daftar Pustaka

    Gudeman, S. 2000. Antropologi Ekonomi dalam Adam Kuper dan Jessica Kuper. Ensiklopedia Ilmu-ilmu Sosial. Diterjemahkan oleh Haris Munandar dkk. Jakarta: Raja Grafindo Persada.