ABSTRAK
Desa Adat Tenganan sejatinya satu diantara sejumlah
desa pakraman yang masuk dalam wilayah pemerintahan dinas Desa Tenganan. Desa
Pakraman Tenganan Pegringsingan terdiri dari tiga banjar yakni banjar Kauh di
bagian barat, banjar tengah di tengah-tengah serta Banjar kangin /pande
dibagian Timur. Masyarakat Desa Tenganan masih menghormati aturan adat (awig-awig)
yang mengatur segala aktivitas masyarakat Desa. Baik dalam cara berperilaku,
berpakaian, hingga yang sederhana yakni gaya rambut. Jika kita lihat masyarakat
di Desa Tenganan di golongkan menjadi tiga periode yaitu anak-anak, remaja dan
dewasa. Dimana anggapan masyarakat Desa Tenganan tentang remaja bukanlah dengan
umur 17 tahun, menstruasi bagi perempuan, dan sudah mimpi basah bagi laki-laki.
Disebut remaja karena sudah melewati upacara adat dan masuk dalam organisasi
remaja. Organisasi yang ada di Desa Tenganan memiliki nama tersendiri untuk
remaja laki-laki disebut taruna dan organisasi remaja perempuan disebut medaha.
Dalam organisasi remaja dibekali pengetahuan tentang tradisi adat istiadat
Tenganan. Sejak tahun 1970’an, Desa Tenganan sudah membuka diri terhadap dunia
luar, pariwisata dan teknologi, dampak positif dan negatif yang dibawa
wisatawan tentu akan berdampak pula terhadap pola pikir kehidupan remaja
Tenganan. Maka dibutuhkan kontrol dari orang tua dan pemangku adat agar
kehidupan remaja tetap bisa berjalan seimbang. Meskipun remaja Desa Adat
Tenganan terbuka akan perkembangan zaman dan pengaruh wisatawan namun, secara
bersamaan remaja juga harus tetap memegang teguh kearifan lokal yang diwariskan
turun-temurun dari leluhurnya baik dari aspek nilai-norma ataupun ritual-ritual
religi. Remaja diberi pendidikan tentang konsep keseimbangan dan mereka diberi
suatu makna disetiap upacara atau ritual yang mereka lakukan. Remaja sudah
mengikuti perkembangan teknologi yang sudah ada, namun remaja tetap menjaga
kebudayaan adat setempat. Pendidikan dan aspek pariwisata di Desa Tenganan
saling berkaitan. Sebagian besar remaja di Desa Tenganan sudah mengenyam
pendidikan pada jenjang perguruan tinggi, dan kebanyakan dari mereka mengambil
jurusan Bahasa dan Sastra Asing. Tujuan mereka, untuk ikut serta dalam
Kata kunci: remaja, gaya hidup, modern, Tenganan
ABSTRACT
Tenganan traditional village is actually one among a
number of villages in the region Pakraman incoming government agencies Tenganan
Village. Tenganan Pakraman Pegringsingan consists of three hamlets namely
“Banjar Kauh” in western, Tengah in the middle and Banjar kangin / pande in
East section. Tenganan village communities still respecting the rules of
customary (awig awig) which regulates all activities villagers. Both in how to
behave, dress, simple to style the hair. If we look at the people in the
village of Tenganan is classified into three periods, namely children,
adolescents and adults. Tenganan where the public perception of youth is not
the age of 17 years, menstruation for women, and had a wet dream for men. Teens
called because it passes into the ceremonies and youth organizations.
Organizations in the Tenganan village has its own name for a teenage boy called
taruna and youth women organizations called medaha. In youth organizations
equipped with knowledge about traditional customs of Tenganan. Since the 1970s,
the Tenganan village is opening up to the outside world, tourism and
technology, the positive and negative impacts brought travelers will certainly
have an impact on the mindset of teenage life Tenganan. Then takes control of a
parent and adat that teenage life can remain in balance. Although teens
Tenganan traditional village will open new development and tourist influence
however, teenagers also have to simultaneously hold these local knowledge
passed down through generations of ancestors of both aspects of value-norm or
religious rituals. Adolescents be educated about the concept of balance and
they are given a meaning in every ceremony or ritual that they do. Teens have
followed the development of existing technologies, but teens still maintain the
local indigenous culture. Education and aspects of tourism in the Tenganan
village interrelated. Most of the teenagers in the Tenganan village was
educated at the college level, and most of them majored in Foreign Languages
and Literature. Their goal, to take part in preserving tourism located in the
village of Tenganan example by being Tour Guide of the foreigners who come to the
village of Tenganan it self.
Keywords: adolescent, life style, modern, Tenganan
Pendahuluan
Menurut
Salim (2002:148) Modernisasi adalah suatu ‘proses transformasi besar’
masyarakat, suatu perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Modernisasi
ini juga berpengaruh terhadap keadaan diseluruh dunia, begitupula pada gaya
hidup remaja desa Tenganan Bali. Hal ini tampak pada aspek nilai dan norma,
penggunaan teknologi dan gaya berpakaian remaja yang mengalami pergeseran.
Remaja
merupakan bagian penting dari masyarakat. Peran remaja dalam suatu masyarakat
menjadi hal penting karena remaja merupakan generasi penerus bagi budaya dalam
masyarakatnya. Sehingga bagaimana peran serta eksistensi remaja dalam
masyarakat menentukan bagaimana keadaan
masyarakatnya sesuai karakter budaya yang mereka miliki. Kehidupan remaja dalam
setiap masyarakat akan memilki karakter berbeda satu dengan yang lainnya karena
terpengaruh oleh budaya disekitar mereka, lingkungan dan adat yang ada.
Remaja
di Desa Tenganan Bali merupakan kajian observasi yang sangat menarik, dimana para remaja disana hidup dalam
lingkungan adat yang bersahaja, disamping itu para remaja di Tenganan juga
hidup dalam lingkungan parawisata dengan tingkat pariwisata Internasional yang
menyebabkan para remaja dihadapkan pada wisatawan asing maupun lokal yang
berasal dari luar daerah Tenganan, dimana wisatawan membawa masing-masing
budaya yang berbeda. Dari masalah diatas tergambar jelas bagaimana keadaan yang
sangat kompleks yang dialami para remaja didesa Tenganan Bali. Maka dapat
dirumuskan masalah, sebagai berikut:
- Bagaimana
nilai dan norma Tenganan memberi suatu simbol kepada remaja?
- Bagaimana
pandangan remaja mengenai sosial religi dan pariwisata di Tenganan?
- Bagaimana
pengaruh teknologi terhadap remaja di desa Tenganan?
Metode
Penelitian
Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian di Desa Tenganan adalah metode
penelitian kualitatif. Menurut Usman (2004:81) metode penelitian kualitatif
adalah suatu penelitian yang berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu
peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu. Metode
penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data dengan urutan:
1) menyusun instrumen pertanyaan, 2) peneliti terjun langsung dalam masyarakat,
3) wawancara langsung dengan masyarakat dan pengumpulan dokumentasi, 4)
mempelajari suatu proses atau penemuan yang tenjadi secara alami, 5) mencatat,
6) menganalisis 7) menafsirkan dan melaporkan, 8) menarik kesimpulan-kesimpulan
dari proses tersebut.
Wawancara
dilakukan dengan cara berkomunikasi langsung dengan narasumber. Dalam
pelaksaannya, pewawancara membawa instrumen pertanyaan yang merupakan garis
besar mengenai hal-hal yang akan ditanyakan. Adapun narasumber yang peneliti
wawancarai meliputi: Kepala Desa Tenganan bapak Putu Suarjana (53 Th), Ibu
Remani(36 Th) seorang ibu rumah tangga, Bli Putu (24 Th) seorang pemuda desa,
Ibu Basak (41 Th) seorang ibu rumah tangga, Anita (19 Th) pelajar, Kadek (16
Th) pelajar, dan Sandy (15 Th) pelajar. Dalam melakukan penelitian, peneliti
mengambil beberapa gambar dan melakukan observasi. Dalam pelaksanaan observasi,
yaitu observasi mengenai gaya hidup remaja Tenganan, dilihat dari kegiatan
upacara, gaya pakaian remaja dan penggunaan teknologi pada remaja. Jenis observasi
adalah observasi partisipasif (participant observe) dimana peneliti terjun
langsung dengan narasumber, lokasi, aktivitas, dokumentasi, dan gambar-gambar
yang terdapat di sekitar desa Tenganan.
Teknis
analisis data dalam penelitian ini meliputi: Pengumpulan data, diperoleh dari
hasil wawancara dan observasi dari narasumber di desa Tenganan. Penyajian data
dalam laporan penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif. Penyajian
data disajikan dalam bab pembahasan. Penarikan kesimpulan dari penelitian ini
dilakukan dengan melihat hasil pada bab pembahasan, kumpulan data hasil
wawancara, dan dari hasil diskusi kelompok.
Nilai
dan NormaTenganan Sebagai Simbol Status Sosial Remaja
Desa
Tenganan terletak di bawah perbukitan disebelah timur pulau Bali. Desa Tenganan
dikelilingi dinding setinggi orang dewasa yang menyerupai benteng yang
mengelilingi desa, di dalamnya terdiri tiga banjar yaitu banjar kauh di bagian
barat, banjar tengah di tengah-tengah, dan banjar kangen atau pande di sebelah timur. Tembok yang mengelilingi desa
diartikan sebagai batas geografis Desa Tenganan dan untuk tujuan pengawasan
keamanan desa. Meskipun dikelilingi tembok besar bukan berarti masyarakat
Tenganan menutup diri terhadap dunia luar, wisatawan dan teknologi, sejak tahun
1970’an masyarakat sudah terbuka dengan wisatawan dan teknologi.
Remaja
diwajibkan mengikuti organisasi sosial. Dalam organisasi ini ada pemisahan
antara organisasi laki-laki dan perempuan. Organisasi untuk remaja laki-laki
disebut taruna (baca: terune) dan organisasi untuk perempuan disebut medahe.
Terune dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok utara, kelompok tengah da
kelompok selatan. Medahe juga dibagi menjadi tiga yaitu kelompok wayah,
kelompok tengah dan kelompok kangen. Keikutsertaan remaja, baik laki-laki dan
perempuan ini dalam organisasi tersebut ditentukan menurut garis keturunan
orang tua mereka. Misalnya, orang tua laki-laki (bapak) dulunya ikut dalam
kelompok tengah maka secara otomatis anaknya masuk dalam kelompok tengah tanpa
mendaftar. Hal ini juga berlaku untuk remaja putri, jika orang tua perempuan
(ibu) dulunya ikut dalam kelompok wayah maka secara otomatis anaknya akan masuk
dalam kelompok wayah tanpa mendaftar. Melalui organisasi ini, remaja akan
dididik menurut peraturan adat, misalnya tata cara upacara adat, cara
mempersiapkan bahan-bahan yang harus disiapkan dalam upacara, cara berpakain
saat upacara dan pendidikan sebelum menikah. Jadi, dikatakan remaja, jika
mereka sudah mengikuti upacara adat dan masuk dalam organisasi. Upacara ini
diadakan setiap 5 atau 6 tahun sekali. Jika ada seorang remaja yang menikah
dini, dia sudah tidak dikatakan remaja lagi karena upacara dan organisasi yang
harus diikuti berbeda dengan remaja atau sudah masuk dalam organisasi Krama
Desa.
Nilai dan norma disampaikan melalui pembiasaan
dan pemahaman, artinya mereka dibiasakan taat pada aturan dan tradisi, mereka
diberi pengertian tentang peraturan adat melalui penemuan maksud dan tujuan
atau pemahaman makna, contohnya upacara persembahan hasil bumi, dimaknai bahwa
remaja harus menjaga alam, jika hutannya lestari maka hutan dapat menyediakan
kebutuan untuk masyarakat pula. Artinya remaja diberi pendidikan tentang
“Konsep Keseimbangan” dan mereka diberi suatu makna disetiap upacara-upacara
atau ritual yang mereka lakukan. Menurut Sandy (15 th) salah satu remaja
mengatakan:
“Saya
sudah terbiasa dengan peraturan disini karena sejak kecil saya sudah dibiasakan
patuh, Saya juga tidak berani melanggar peraturan. Sebenarnya peraturan juga
untuk kebaikan kita sendiri jadi saya sudah terbiasa malah Saya bangga ketika
disekolah Saya paling dikenal karena Saya dari Tenganan”.
Ilustrasi
fenomena di atas memperlihatkan, kewajiban remaja dalam kehidupan sosial mereka
di Desa Tenganan. Remaja di wajibkan mengikuti aturan awig-awig dan wajib
mengikuti organisasi di Tenganan. Hal ini terlihat biasa ketika remaja tinggal
di Tenganan namun hal ini terlihat istimewa ketika mereka berada di luar
Tenganan. Keistimewaan ini dijadikan suatu simbol bagi remaja ketika mereka berada
di luar desa seperti di sekolah. Ada perasaan bangga karena orang lain memberi
suatu apresiasi terhadap kebudayaan mereka di desa. Sehingga remaja merasa
bangga karena memiliki ciri khas yang membedakan dirinya dengan remaja pada
umumnya.
Gaya
Sosial Religi dan Pengaruh Wisatawan Pada Remaja Tenganan
Sebagaimana institusi sosial
lainnya, agama juga memiliki fungsi yang sangat penting dalam masyarakat.
Fungsi yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan manusia untuk memepertahankan
kelangsungan hidup serta memeliharanya. Tidak terkecuali dalam kehidupan sosial
remaja, yang pada umumnya rentan dengan pengaruh yang ada disekeliling mereka,
baik pengaruh dari dalam ataupun dari luar masyarakat. Tiap lembaga dalam
kehidupan remaja memberikan peran, misalnya keluarga. Menurut Soekanto
(2009:41) menyatakan “pendikan keluarga mempunyai peranan penting. Karena
pendidikan keluarga merupakan suatu sarana untuk menghasilkan warga masyarakat
yang besar dan baik. Namun tidaklah semata-mata tergantung pada keluarga itu
sendiri. Oleh karena suatu keluarga tertentu hidup berdampingan dengan
keluarga-keluarga lain”. Tidak beda dengan remaja Desa Tenganan yang masih
memegang teguh adat istiadat, namun tetap ada yang melanggar aturan yang
berlaku, seperti halnya hamil di luar nikah, kemudian orang tuanya akan
dijatuhi sanksi oleh peraturan adat. Ketika ada peraturan yang dibuat pasti
akan ada saja yang melanggar, meskipun secara menyeluruh adat istiadat di Desa
Tenganan masih sangat di pegang kuat, tetapi kembali lagi kepada masing-masing
individu bagaimana mereka menyikapi peraturan tersebut.
Keadaan sosial agama remaja di desa
Tenganan tampak sudah mendapat pengaruh, seperti beberapa remaja yang hanya
menjalankan upacara, melaksanakan sembahyang, dan mengikuti aturan adat yang
berlaku di desa Tenganan namun mereka tidak mengetahui makna serta arti dari
aktifitas agama yang mereka lakukan tersebut. Mereka hanya menjalankan
peraturan adat yang berlaku serta mengikuti acara yang memang harus mereka
jalankan. Namun beberapa remaja desa Tenganan lainnya juga mengetahui arti dari
upacara serta aktifitas agama yang mereka lakukan. Seperti remaja Tenganan
bernama Kadek (16 th), Ia melakukan sembahyang sebagai sarana mendekatkan diri
kepada Tuhan. Sebagai rasa syukur kepada Tuhan terhadap apa yang sudah Tuhan
berikan kepadanya.
Desa yang kental dengan adat
istiadatnya ini memiliki beberapa upacara ritual keagamaan setiap harinya.
Seperti beribadah atau sembahyang yang dilakukan 3 kali dalam sehari merupakan
bukti taqwa mereka kepada Tuhan. Namun terkadang ia juga tidak melakukan ritual
sembahyang, dengan alasan kesibukan. Walaupun bagi agama Hindu ibadah 3 kali
dalam sehari itu wajib tetapi ada juga yang terkadang tidak mengerjakannya,
bisa jadi hal tersebut kembali lagi kepada masing-masing individu yang
menjalankannya. Untuk tata cara sembahyang remaja di Desa Tenganan sama saja
seperti orang dewasa yang membedakan hanyalah pakaian yang dikenakan yaitu di
tandai dari corak yang berbeda. Meskipun demikian, sebagai remaja Kadek juga mengalami
hal-hal yang dialami remaja pada umumnya. Seperti berinteraksi serta menjalin
hubungan dengan lawan jenis atau yang umumnya disebut pacaran. Dan Ia mengatakan bahwa ia baru saja putus dari
pacarnya. Kadek sendiri tidak memungkiri bahwa Ia sering bermain bersama
teman-temannya keluar desa hingga larut malam. Meskipun hanya berkumpul dan
bermain bersama teman-temannya dan tidak melakukan aktifitas yang negatif.
Namun Ia tetap mendapat teguran dari orang tuanya. Namun Kadek mencoba memberi
alasan kepada orang tuanya mengapa Ia pulang larut malam, karena masih ingin
bermain dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Ketika berada di luar
desa Tenganan seperti di lingkungan sekolah, Kadek bersikap sewajarnya, bahkan
dengan teman-temannya yang sudah terpengaruh gaya hidup masyarakat luar negeri,
seperti mengenakan piercing (tindikan menggunakan tindik yang panjang) di
telinga mereka sebagai gaya. Hal-hal tersebut diatas sudah tidak tabu lagi
untuk diperbincangkan karena pada kenyataannya masyarakat tenganan sudah
menerima hal-hal tersebut.
Di Desa Tenganan sendiri terdapat
organisasi bagi para remajanya, untuk mengembangkan potensi dan menjalin
kedekatan diantara para remaja desa. Tidak hanya organisasi tetapi remaja asli
desa Tenganan juga ikut berperan aktif pada lembaga sosial, seperti sebagai
tenaga pengajar di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang terdapat di desa
Tenganan. Remaja asli desa Tenganan diberikan kewenangan tersendiri oleh para
orang tua untuk menangani urusan pribadinya masing-masing. Seperti dalam
masalah pendidikan dan menjalin suatu hubungan dengan lawan jenis yang ia sukai
atau pacar.
Ritual-ritual yang diadakan di desa
tenganan juga menjadikan sarana mempererat hubungan antar remaja karena
kebanyakan remaja di desa Tenganan saat sekarang lebih senang memilih bekarja
diluar desa tenganan sehingga dalam pelaksanaan ritual dijadikan alat untuk
mempererat hubungan antar remaja. Dewasa ini kehidupan sosial religi remaja
desa Tenganan sudah mendapat pengaruh dari luar. Seperti gaya berpakaian remaja
yang sudah mengenakan pakaian yang lebih casual seperti remaja di daerah
lainnya, dan sudah tidak mengenakan pakaian adat yang berlaku di desa Tenganan.
Hal lainnya seperti mengenai pernikahan, beberapa remaja desa Tenganan sudah
tidak melalui perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya. Remaja desa Tenganan
sudah dapat menentukan jodoh untuk dirinya sendiri. Bahkan ada yang melanggar
aturan adat, yaitu menikah dengan orang luar desa adat Tenganan. Dimana hal ini
dilarang pada masyarakat desa Tenganan. Masa sekarang dengan masa dulu jauh
berbeda, seperti dengan kemajuan teknologi di desa Tenganan sudah masuk alat
komunikasi seperti HP dimana anak kecilpun sudah menggunakannya dan orang tua
di Desa Tenganan hanya membiarkan selagi itu tidak memberikan dampak buruk dan
masih dalam batas wajar.
Dalam
urusan pendidikan para remaja diberi kebebasan untuk memilih sekolah mana yang
mereka inginkan dan memilih jurusan apa yang disenangi seperti Kadek yang lebih
memilih jurusan bahasa. Karena ia ingin menjadi manager di Hotel milik Pamannya
di Denpasar. Orang tua di Tenganan selalu mendukung anak-anaknya dalam hal
pendidikan. Bahkan ada orangtua yang mengijinkan anaknya menempuh pendidikan
hingga keluar desa Tenganan. Ini juga dapat diketahui dari kepala desa secara
dinas desa Tenganan yang mempunyai gelar akademik dari Universitas Udayana di
Denpasar Bali yang mengambil jurusan Sastra Inggris. Juga anak dari salah satu
warga desa Tenganan yaitu ibu Basak yang memiliki empat orang anak perempuan
yang masing-masing menempuh sekolah hingga tingkat universitas di Denpasar
Bali. Ibu Basak mengijinkan anak-anaknya bersekolah hingga keluar desa karena
Beliau mendukung keinginan anak-anaknya yang ingin berkuliah. Anaknya memilih
jurusan pariwisata di protelan dan ada yang kuliah di STMIK di Denpasar Bali.
Inginnya berkuliah di jurusan pariwisata karena menurut mereka tempat tinggal
mereka yakni desa tenganan merupakan desa wisata yang pengunjungnya tidak hanya
lokal tetapi juga internasional.
Kontrol
yang diberikan orangtua terhadap anak-anak remaja di desa Tenganan tidak
terlalu ketat. Ini tampak dari orangtua sudah memberikan kepercayaan kepada
para anaknya namun tidak dalam segala aspek kehidupan. Karena orangtua tetap
memberikan nasihat kepada anak-anak remaja mereka apabila sudah mulai akan
menyeleweng dari aturan adat di desa Tenganan. Seperti orangtua memberikan
nasihat tentang aturan-aturan yang berlaku, mana yang boleh di lakukan selama
berada di dalam desa Tenganan, dan mana hal yang tidak boleh dilakukan. Namun
karena masalah perijinan yang diberikan orangtua terhadap anak-anaknya untuk
menempuh pendidikan diluar desa Tenganan malah sebenarnya membuat mereka
melanggar aturan adat desa. Seperti menikah dengan orang luar desa tenganan
yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Dan ini membuat remaja asli desa Tenganan
harus keluar dari desa dan tidak diperbolehkan lagi tinggal menetap di desa
atau dirumah orangtuanya. Akan tetapi diperbolehkan untuk menjenguk dan hanya
boleh menginap satu atau dua hari dirumah orangtuanya tersebut.
Pengaruh
dan Gaya Teknologi Remaja Tenganan
Aspek
teknologi merupakan aspek yang berhubungan dengan media massa yang terinjeksi
dalam setiap aktivitas masyarakat khususnya dalam hal ini dekat dengan
kehidupan remaja. Remaja sebagai penerus sebuah tradisi atau sebuah kebudayaan
masyarakat setempat. Menurut Barker (2004:334) menyatakan bahwa :“kemunculan
pemuda bukan merupakan satu kategori universal biologis. Melainkan satu kontruk
sosial yang ada di tengah, berubah yang muncul pada waktu tertentu dan pada
kondisi definitif, konsep ini bahwa pemuda tidak memiliki makna universal”.
Menurutnya kategori remaja bukan ditentukan oleh umur atau menstruasi dan
sebagainya yang umum dalam masyarakat karena dalam beberapa masyarakat temasuk
Tenganan, seseorang dikategorikan remaja adalah mereka yang sudah mengalami
upacara adat. Masyarakat Tenganan dianggap sebagai masyarakat yang masih asli
dan masih menjunjung tinggi adat-istiadat namun semua berbeda setelah masuknya
teknologi dalam kehidupan mereka, teknologi memang merupakan suatu hal yang
menjembatani untuk suatu masyarakat berkembang, teknologi seperti smartphone,
laptop merupakan gaya hidup masyarakat khususnya pemuda Tenganan sehari-hari.
Gaya
remaja menjadi menarik karena terpengaruh budaya modernisasi tersebut, yang
memberikan arti penting dalam perubahan sosial budaya. Media dapat mempengaruhi
masyarakat apalagi dalam hal ini pemuda yang masih dikatakan dalam masa
peralihan menuju kedewasaan. Media adalah peranan yang sangat penting, menurut
Cohen dan Young (Barker 2004:352) menyatakan bahwa : “penempatan liputan media
pada posisi sentral dalam penciptaan dan keberlangsungan penyimpangan kultur
pemuda. Media dikatakan terikat dalam kelompok pemuda dan dikatakan memberi
lebel perilaku mereka dengan sebutan menyimpang dari aspek kultural. Lalu
respon masyarakat adalah kepanikan moral yang mana masyarakat takut akan
lunturnya nilai, norma dan kultur setempat masyarakat. Dalam hal inilah dampak
negatif media yang kurang menyajikan nilai- nilai positif”
Teknologi
dan komunikasi yang berkembang telah berpengaruh pada kehidupan remaja
Tenganan, meskipun adat istiadat masih sangat dipegang kuat oleh remaja. Remaja
sudah menggunakan handphone untuk berkomunikasi dengan temanya. Bahkan anak di
bawah 13 th sudah ikut-ikutan menggunakan handphone milik orang tuanya. Menurut
Bli Putu (24th):
“Kami
sudah menerima teknologi dari dulu, sejak dulu kami juga sudah menggunaan HP
dan komputer namun pada saat yang sama kita juga harus berpegang teguh dengan
adat dan istiadat. Desa Tenganan memang berbeda dengan desa adat atau suku-suku
lain yang tidak menerima teknologi misalnya listrik. Kami sudah sangat terbuka
dengan teknologi. Jadi tegnologi merupakan gaya hidup remaja Tenganan saat ini,
dalam kesehariaanya mereka sudah terbiasa menggunakan hal-hal yang berbau
teknologi”.
Dalam
Tenganan ini terbagi dalam 3 banjar yang mana ada banjar kauh disamping kanan,
tengahan di tengah-tengah, dan banjar kangen atau pande di sebelah timur. Namun
banjar kauh yang berada disebelah kanan dianggap banjar yang paling kental
dengan adat istiadatnya karena balai- balai suci dan tempat upacara berada di
samping kanan. Jadi ke-tiga banjar di Tenganan sudah mengikuti dan terbuka
dengan perkembangan teknologi.Ungkap seorang ibu yang bernama Remani (36 th):
”banyak
remaja disini yang bekerja di luar, tetapi ketika masuk dalam Tenganan mereka
sadar dengan kebudayaan disini secara langsung taat dengan nilai dan norma
adat, mereka mengenal HP, TV, dan juga jejaring social, namun penggunaan
barang-barang tersebut tidak mengurangi kemalasan dalam sembayang atau upacara
adat”.
Penggunaan
jejaring social seperti Facebook, Twitter, atau berita- berita Online yang ada,
hanya bisa di akses di luar Tenganan karena kurangnya jaringan inernet yang tersedia,
begitupun dengan Jaringan HP. Demam K-POP yang kini sedang populer, diikuti
remaja melalui TV dan jejaring sosial. Jika dirumah, mereka mengikuti
berita-berita K-POP melalui TV Karena hampir setiap rumah ada meskipun dengan
tipe sederhana, sementara jika sedang berada disekolah, mereka mengikuti berita
malalui jejaring sosioal, facebook. Mereka mengikuti berita-berita yang sedang
populer mengenai “KOREA”, dengan cara mengkoleksi foto-foto artis Korea,
mengikuti drama Korea melalui televisi di rumah tetapi tidak di aplikasikan
dalam gaya hidup sehari-hari.
Kehidupan
remaja perkotaan yang mudah terpengaruh bahasa-bahasa alay, dan kemudian
diikuti remaja lain di daerah-daerah. Hal ini berbeda dengan remaja Tenganan
karena mereka tidak paham untuk menggunakannya. Mereka mengaku tidak mengenal
tokoh panutan khusus yang menjadi idola hanya orang tualah yang menjadi
teladan, dan merekapun patuh terhadapnya.
Model
pakaian yang mereka pakai mengikuti adat ketika mengikuti upacara- upacara,
tradisi kebudayaan dan sembayang, mereka menggunakan bahe yang merupakan pakaian untuk perempuan(semacam kemben), ada
perbedaan bahe yang dipakai perempuan yang sudah menikah dengan yang belum
menikah, bahe untuk remaja perempuan diberi selendang berwarna merah hati yang di ikat di perutnya,
sedangkan untuk perempuan yang sudah menikah menggunakan selendang berwarna
hitam. Selendang kain yang digunakan dalam upacara disebut kain tenun
geringsing. Model pakaian yang di pakai untuk sehari-hari pakaian biasa pada
umumnya yang sederhana, dan tetap menggunakan pakaian yang sopan. Menurut
Sandy(15 th):
“Remaja
disini sudah terbiasa dengan wisatawan asing yang memakai pakaian-pakain yang
“terbuka”, Kita juga sudah tahu adat pakain Mereka seperti itu. Ibu saya juga
pernah menasehati agar tidak berpakain seperti itu, namun saya juga sudah sadar
sendiri”
Gambar
1: Anita (19 Th) Gambar
2: Sandy (15 Th)
Inilah
contoh gambar remaja di Desa Tenganan, disebelah kiri Anita (19 Th) dan
disebelah kanan, Sandy(15 th). Mereka menggunakan smart phone untuk
berkomunikasi dengan teman-teman mereka. Dari gambar diatas dapat dilihat,
kedua remaja itu memakai kaos dan celana pendek untuk digunakan dalam pakaian
sehari-hari. Itulah remaja dilihat dari aspek pengaruh teknologi dan komunikasi
yang pada intinya, Remaja di desa Tenganan memiliki gaya hidup yang mengikuti,
mengetahui dan mengerti perkembangan teknologi dan komunikasi serta
mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari tanpa berlebihan menggunakannya
dan memfilter perkembangan zaman yang ada. Mereka mengerti dengan HP,FB,
Twitter, TV, K-POP, dan mereka masih menjalankan aturan adat istiadat meskipun
mengetahui teknologi dan komunikasi.
Penutup
Remaja
Tenganan Pengringsingan meskipun mereka berada di desa adat tidak menutup
kemungkinan mereka juga mengikuti perkembangan jaman karena kebanyakan dari
mereka sudah berpendidikan sampai Sekolah Menengah Atas dan bahkan juga yang
mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi. Remaja di Desa Tenganan sudah
terbuka, hal ini dibuktikan dengan pendidikan formal yang mereka tempuh, dan
penggunaan teknologi oleh remaja yaitu dengan penggunaan hand phone dan
jejaring sosial. Penggunaan teknologi ini, merupakan gaya hidup tersendiri bagi
remaja karena di tengah adat yang mengikat mereka, remaja tetap bisa mengakses
teknologi baru yang ada. Hal ini memberikan suatu identitas baru bagi remaja,
jika remaja Tenganan tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi. Disisi
lain, meskipun sudah ada keterbukaan dan perubahan, remaja Tenganan tetap berpegang
pada nilai dan norma adat. Di luar Tenganan nilai dan norma ini memberi suatu
simbol identitas bagi remaja Tenganan. Dimana remaja bangga akan identitas
tersebut.
.
Daftar
Pustaka
Barker,
Chris.2004. Cultural Studies: Teori dan Praktis. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Salim,
Agus.2002. Perubahan Sosial. Yogyakarta:
Tiara Wacana.
Soekanto,
Soerjono. 2009. Sosiologi Keluarga:
Tentang Ikhwal Kelurga, Remja dan
Anak.
Jakarta: Rineka Cipta.
Usman, Husaini dan Purnomo setiady
Akbar. 2004. Metodologi Penelitian Sosial.
Jakarta:
Bumi Aksara.


0 komentar