-->
    BLANTERORBITv102

    REMAJA TENGANAN: ANTARA TRADISIONAL DAN MODERN

    Selasa, 21 Januari 2014

    ABSTRAK
    Desa Adat Tenganan sejatinya satu diantara sejumlah desa pakraman yang masuk dalam wilayah pemerintahan dinas Desa Tenganan. Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan terdiri dari tiga banjar yakni banjar Kauh di bagian barat, banjar tengah di tengah-tengah serta Banjar kangin /pande dibagian Timur. Masyarakat Desa Tenganan masih menghormati aturan adat (awig-awig) yang mengatur segala aktivitas masyarakat Desa. Baik dalam cara berperilaku, berpakaian, hingga yang sederhana yakni gaya rambut. Jika kita lihat masyarakat di Desa Tenganan di golongkan menjadi tiga periode yaitu anak-anak, remaja dan dewasa. Dimana anggapan masyarakat Desa Tenganan tentang remaja bukanlah dengan umur 17 tahun, menstruasi bagi perempuan, dan sudah mimpi basah bagi laki-laki. Disebut remaja karena sudah melewati upacara adat dan masuk dalam organisasi remaja. Organisasi yang ada di Desa Tenganan memiliki nama tersendiri untuk remaja laki-laki disebut taruna dan organisasi remaja perempuan disebut medaha. Dalam organisasi remaja dibekali pengetahuan tentang tradisi adat istiadat Tenganan. Sejak tahun 1970’an, Desa Tenganan sudah membuka diri terhadap dunia luar, pariwisata dan teknologi, dampak positif dan negatif yang dibawa wisatawan tentu akan berdampak pula terhadap pola pikir kehidupan remaja Tenganan. Maka dibutuhkan kontrol dari orang tua dan pemangku adat agar kehidupan remaja tetap bisa berjalan seimbang. Meskipun remaja Desa Adat Tenganan terbuka akan perkembangan zaman dan pengaruh wisatawan namun, secara bersamaan remaja juga harus tetap memegang teguh kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun dari leluhurnya baik dari aspek nilai-norma ataupun ritual-ritual religi. Remaja diberi pendidikan tentang konsep keseimbangan dan mereka diberi suatu makna disetiap upacara atau ritual yang mereka lakukan. Remaja sudah mengikuti perkembangan teknologi yang sudah ada, namun remaja tetap menjaga kebudayaan adat setempat. Pendidikan dan aspek pariwisata di Desa Tenganan saling berkaitan. Sebagian besar remaja di Desa Tenganan sudah mengenyam pendidikan pada jenjang perguruan tinggi, dan kebanyakan dari mereka mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Asing. Tujuan mereka, untuk ikut serta dalam
    Kata kunci: remaja, gaya hidup, modern, Tenganan









    ABSTRACT
    Tenganan traditional village is actually one among a number of villages in the region Pakraman incoming government agencies Tenganan Village. Tenganan Pakraman Pegringsingan consists of three hamlets namely “Banjar Kauh” in western, Tengah in the middle and Banjar kangin / pande in East section. Tenganan village communities still respecting the rules of customary (awig awig) which regulates all activities villagers. Both in how to behave, dress, simple to style the hair. If we look at the people in the village of Tenganan is classified into three periods, namely children, adolescents and adults. Tenganan where the public perception of youth is not the age of 17 years, menstruation for women, and had a wet dream for men. Teens called because it passes into the ceremonies and youth organizations. Organizations in the Tenganan village has its own name for a teenage boy called taruna and youth women organizations called medaha. In youth organizations equipped with knowledge about traditional customs of Tenganan. Since the 1970s, the Tenganan village is opening up to the outside world, tourism and technology, the positive and negative impacts brought travelers will certainly have an impact on the mindset of teenage life Tenganan. Then takes control of a parent and adat that teenage life can remain in balance. Although teens Tenganan traditional village will open new development and tourist influence however, teenagers also have to simultaneously hold these local knowledge passed down through generations of ancestors of both aspects of value-norm or religious rituals. Adolescents be educated about the concept of balance and they are given a meaning in every ceremony or ritual that they do. Teens have followed the development of existing technologies, but teens still maintain the local indigenous culture. Education and aspects of tourism in the Tenganan village interrelated. Most of the teenagers in the Tenganan village was educated at the college level, and most of them majored in Foreign Languages and Literature. Their goal, to take part in preserving tourism located in the village of Tenganan example by being Tour Guide of the foreigners who come to the village of Tenganan it self.
    Keywords: adolescent, life style, modern, Tenganan





    Pendahuluan
    Menurut Salim (2002:148) Modernisasi adalah suatu ‘proses transformasi besar’ masyarakat, suatu perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Modernisasi ini juga berpengaruh terhadap keadaan diseluruh dunia, begitupula pada gaya hidup remaja desa Tenganan Bali. Hal ini tampak pada aspek nilai dan norma, penggunaan teknologi dan gaya berpakaian remaja yang mengalami pergeseran.
    Remaja merupakan bagian penting dari masyarakat. Peran remaja dalam suatu masyarakat menjadi hal penting karena remaja merupakan generasi penerus bagi budaya dalam masyarakatnya. Sehingga bagaimana peran serta eksistensi remaja dalam masyarakat  menentukan bagaimana keadaan masyarakatnya sesuai karakter budaya yang mereka miliki. Kehidupan remaja dalam setiap masyarakat akan memilki karakter berbeda satu dengan yang lainnya karena terpengaruh oleh budaya disekitar mereka, lingkungan dan adat yang ada.
    Remaja di Desa Tenganan Bali merupakan kajian observasi yang sangat menarik,  dimana para remaja disana hidup dalam lingkungan adat yang bersahaja, disamping itu para remaja di Tenganan juga hidup dalam lingkungan parawisata dengan tingkat pariwisata Internasional yang menyebabkan para remaja dihadapkan pada wisatawan asing maupun lokal yang berasal dari luar daerah Tenganan, dimana wisatawan membawa masing-masing budaya yang berbeda. Dari masalah diatas tergambar jelas bagaimana keadaan yang sangat kompleks yang dialami para remaja didesa Tenganan Bali. Maka dapat dirumuskan masalah, sebagai berikut:
    1. Bagaimana nilai dan norma Tenganan memberi suatu simbol kepada remaja?
    2. Bagaimana pandangan remaja mengenai sosial religi dan pariwisata di Tenganan?
    3. Bagaimana pengaruh teknologi terhadap remaja di desa Tenganan?
    Metode Penelitian
    Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian di Desa Tenganan adalah metode penelitian kualitatif. Menurut Usman (2004:81) metode penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu. Metode penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data dengan urutan: 1) menyusun instrumen pertanyaan, 2) peneliti terjun langsung dalam masyarakat, 3) wawancara langsung dengan masyarakat dan pengumpulan dokumentasi, 4) mempelajari suatu proses atau penemuan yang tenjadi secara alami, 5) mencatat, 6) menganalisis 7) menafsirkan dan melaporkan, 8) menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut.
    Wawancara dilakukan dengan cara berkomunikasi langsung dengan narasumber. Dalam pelaksaannya, pewawancara membawa instrumen pertanyaan yang merupakan garis besar mengenai hal-hal yang akan ditanyakan. Adapun narasumber yang peneliti wawancarai meliputi: Kepala Desa Tenganan bapak Putu Suarjana (53 Th), Ibu Remani(36 Th) seorang ibu rumah tangga, Bli Putu (24 Th) seorang pemuda desa, Ibu Basak (41 Th) seorang ibu rumah tangga, Anita (19 Th) pelajar, Kadek (16 Th) pelajar, dan Sandy (15 Th) pelajar. Dalam melakukan penelitian, peneliti mengambil beberapa gambar dan melakukan observasi. Dalam pelaksanaan observasi, yaitu observasi mengenai gaya hidup remaja Tenganan, dilihat dari kegiatan upacara, gaya pakaian remaja dan penggunaan teknologi pada remaja. Jenis observasi adalah observasi partisipasif (participant observe) dimana peneliti terjun langsung dengan narasumber, lokasi, aktivitas, dokumentasi, dan gambar-gambar yang terdapat di sekitar desa Tenganan.

    Teknis analisis data dalam penelitian ini meliputi: Pengumpulan data, diperoleh dari hasil wawancara dan observasi dari narasumber di desa Tenganan. Penyajian data dalam laporan penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif. Penyajian data disajikan dalam bab pembahasan. Penarikan kesimpulan dari penelitian ini dilakukan dengan melihat hasil pada bab pembahasan, kumpulan data hasil wawancara, dan dari hasil diskusi kelompok.


    Nilai dan NormaTenganan Sebagai Simbol Status Sosial Remaja
    Desa Tenganan terletak di bawah perbukitan disebelah timur pulau Bali. Desa Tenganan dikelilingi dinding setinggi orang dewasa yang menyerupai benteng yang mengelilingi desa, di dalamnya terdiri tiga banjar yaitu banjar kauh di bagian barat, banjar tengah di tengah-tengah, dan banjar kangen atau pande di sebelah  timur. Tembok yang mengelilingi desa diartikan sebagai batas geografis Desa Tenganan dan untuk tujuan pengawasan keamanan desa. Meskipun dikelilingi tembok besar bukan berarti masyarakat Tenganan menutup diri terhadap dunia luar, wisatawan dan teknologi, sejak tahun 1970’an masyarakat sudah terbuka dengan wisatawan dan teknologi.
    Remaja diwajibkan mengikuti organisasi sosial. Dalam organisasi ini ada pemisahan antara organisasi laki-laki dan perempuan. Organisasi untuk remaja laki-laki disebut taruna (baca: terune) dan organisasi untuk perempuan disebut medahe. Terune dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok utara, kelompok tengah da kelompok selatan. Medahe juga dibagi menjadi tiga yaitu kelompok wayah, kelompok tengah dan kelompok kangen. Keikutsertaan remaja, baik laki-laki dan perempuan ini dalam organisasi tersebut ditentukan menurut garis keturunan orang tua mereka. Misalnya, orang tua laki-laki (bapak) dulunya ikut dalam kelompok tengah maka secara otomatis anaknya masuk dalam kelompok tengah tanpa mendaftar. Hal ini juga berlaku untuk remaja putri, jika orang tua perempuan (ibu) dulunya ikut dalam kelompok wayah maka secara otomatis anaknya akan masuk dalam kelompok wayah tanpa mendaftar. Melalui organisasi ini, remaja akan dididik menurut peraturan adat, misalnya tata cara upacara adat, cara mempersiapkan bahan-bahan yang harus disiapkan dalam upacara, cara berpakain saat upacara dan pendidikan sebelum menikah. Jadi, dikatakan remaja, jika mereka sudah mengikuti upacara adat dan masuk dalam organisasi. Upacara ini diadakan setiap 5 atau 6 tahun sekali. Jika ada seorang remaja yang menikah dini, dia sudah tidak dikatakan remaja lagi karena upacara dan organisasi yang harus diikuti berbeda dengan remaja atau sudah masuk dalam organisasi Krama Desa.
     Nilai dan norma disampaikan melalui pembiasaan dan pemahaman, artinya mereka dibiasakan taat pada aturan dan tradisi, mereka diberi pengertian tentang peraturan adat melalui penemuan maksud dan tujuan atau pemahaman makna, contohnya upacara persembahan hasil bumi, dimaknai bahwa remaja harus menjaga alam, jika hutannya lestari maka hutan dapat menyediakan kebutuan untuk masyarakat pula. Artinya remaja diberi pendidikan tentang “Konsep Keseimbangan” dan mereka diberi suatu makna disetiap upacara-upacara atau ritual yang mereka lakukan. Menurut Sandy (15 th) salah satu remaja mengatakan:
    “Saya sudah terbiasa dengan peraturan disini karena sejak kecil saya sudah dibiasakan patuh, Saya juga tidak berani melanggar peraturan. Sebenarnya peraturan juga untuk kebaikan kita sendiri jadi saya sudah terbiasa malah Saya bangga ketika disekolah Saya paling dikenal karena Saya dari Tenganan”.


    Ilustrasi fenomena di atas memperlihatkan, kewajiban remaja dalam kehidupan sosial mereka di Desa Tenganan. Remaja di wajibkan mengikuti aturan awig-awig dan wajib mengikuti organisasi di Tenganan. Hal ini terlihat biasa ketika remaja tinggal di Tenganan namun hal ini terlihat istimewa ketika mereka berada di luar Tenganan. Keistimewaan ini dijadikan suatu simbol bagi remaja ketika mereka berada di luar desa seperti di sekolah. Ada perasaan bangga karena orang lain memberi suatu apresiasi terhadap kebudayaan mereka di desa. Sehingga remaja merasa bangga karena memiliki ciri khas yang membedakan dirinya dengan remaja pada umumnya.



    Gaya Sosial Religi dan Pengaruh Wisatawan Pada Remaja Tenganan
                Sebagaimana institusi sosial lainnya, agama juga memiliki fungsi yang sangat penting dalam masyarakat. Fungsi yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan manusia untuk memepertahankan kelangsungan hidup serta memeliharanya. Tidak terkecuali dalam kehidupan sosial remaja, yang pada umumnya rentan dengan pengaruh yang ada disekeliling mereka, baik pengaruh dari dalam ataupun dari luar masyarakat. Tiap lembaga dalam kehidupan remaja memberikan peran, misalnya keluarga. Menurut Soekanto (2009:41) menyatakan “pendikan keluarga mempunyai peranan penting. Karena pendidikan keluarga merupakan suatu sarana untuk menghasilkan warga masyarakat yang besar dan baik. Namun tidaklah semata-mata tergantung pada keluarga itu sendiri. Oleh karena suatu keluarga tertentu hidup berdampingan dengan keluarga-keluarga lain”. Tidak beda dengan remaja Desa Tenganan yang masih memegang teguh adat istiadat, namun tetap ada yang melanggar aturan yang berlaku, seperti halnya hamil di luar nikah, kemudian orang tuanya akan dijatuhi sanksi oleh peraturan adat. Ketika ada peraturan yang dibuat pasti akan ada saja yang melanggar, meskipun secara menyeluruh adat istiadat di Desa Tenganan masih sangat di pegang kuat, tetapi kembali lagi kepada masing-masing individu bagaimana mereka menyikapi peraturan tersebut.
                Keadaan sosial agama remaja di desa Tenganan tampak sudah mendapat pengaruh, seperti beberapa remaja yang hanya menjalankan upacara, melaksanakan sembahyang, dan mengikuti aturan adat yang berlaku di desa Tenganan namun mereka tidak mengetahui makna serta arti dari aktifitas agama yang mereka lakukan tersebut. Mereka hanya menjalankan peraturan adat yang berlaku serta mengikuti acara yang memang harus mereka jalankan. Namun beberapa remaja desa Tenganan lainnya juga mengetahui arti dari upacara serta aktifitas agama yang mereka lakukan. Seperti remaja Tenganan bernama Kadek (16 th), Ia melakukan sembahyang sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebagai rasa syukur kepada Tuhan terhadap apa yang sudah Tuhan berikan kepadanya.
                Desa yang kental dengan adat istiadatnya ini memiliki beberapa upacara ritual keagamaan setiap harinya. Seperti beribadah atau sembahyang yang dilakukan 3 kali dalam sehari merupakan bukti taqwa mereka kepada Tuhan. Namun terkadang ia juga tidak melakukan ritual sembahyang, dengan alasan kesibukan. Walaupun bagi agama Hindu ibadah 3 kali dalam sehari itu wajib tetapi ada juga yang terkadang tidak mengerjakannya, bisa jadi hal tersebut kembali lagi kepada masing-masing individu yang menjalankannya. Untuk tata cara sembahyang remaja di Desa Tenganan sama saja seperti orang dewasa yang membedakan hanyalah pakaian yang dikenakan yaitu di tandai dari corak yang berbeda. Meskipun demikian, sebagai remaja Kadek juga mengalami hal-hal yang dialami remaja pada umumnya. Seperti berinteraksi serta menjalin hubungan dengan lawan jenis atau yang umumnya disebut pacaran. Dan  Ia mengatakan bahwa ia baru saja putus dari pacarnya. Kadek sendiri tidak memungkiri bahwa Ia sering bermain bersama teman-temannya keluar desa hingga larut malam. Meskipun hanya berkumpul dan bermain bersama teman-temannya dan tidak melakukan aktifitas yang negatif. Namun Ia tetap mendapat teguran dari orang tuanya. Namun Kadek mencoba memberi alasan kepada orang tuanya mengapa Ia pulang larut malam, karena masih ingin bermain dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Ketika berada di luar desa Tenganan seperti di lingkungan sekolah, Kadek bersikap sewajarnya, bahkan dengan teman-temannya yang sudah terpengaruh gaya hidup masyarakat luar negeri, seperti mengenakan piercing (tindikan menggunakan tindik yang panjang) di telinga mereka sebagai gaya. Hal-hal tersebut diatas sudah tidak tabu lagi untuk diperbincangkan karena pada kenyataannya masyarakat tenganan sudah menerima hal-hal tersebut.
                Di Desa Tenganan sendiri terdapat organisasi bagi para remajanya, untuk mengembangkan potensi dan menjalin kedekatan diantara para remaja desa. Tidak hanya organisasi tetapi remaja asli desa Tenganan juga ikut berperan aktif pada lembaga sosial, seperti sebagai tenaga pengajar di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang terdapat di desa Tenganan. Remaja asli desa Tenganan diberikan kewenangan tersendiri oleh para orang tua untuk menangani urusan pribadinya masing-masing. Seperti dalam masalah pendidikan dan menjalin suatu hubungan dengan lawan jenis yang ia sukai atau pacar.
                Ritual-ritual yang diadakan di desa tenganan juga menjadikan sarana mempererat hubungan antar remaja karena kebanyakan remaja di desa Tenganan saat sekarang lebih senang memilih bekarja diluar desa tenganan sehingga dalam pelaksanaan ritual dijadikan alat untuk mempererat hubungan antar remaja. Dewasa ini kehidupan sosial religi remaja desa Tenganan sudah mendapat pengaruh dari luar. Seperti gaya berpakaian remaja yang sudah mengenakan pakaian yang lebih casual seperti remaja di daerah lainnya, dan sudah tidak mengenakan pakaian adat yang berlaku di desa Tenganan. Hal lainnya seperti mengenai pernikahan, beberapa remaja desa Tenganan sudah tidak melalui perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya. Remaja desa Tenganan sudah dapat menentukan jodoh untuk dirinya sendiri. Bahkan ada yang melanggar aturan adat, yaitu menikah dengan orang luar desa adat Tenganan. Dimana hal ini dilarang pada masyarakat desa Tenganan. Masa sekarang dengan masa dulu jauh berbeda, seperti dengan kemajuan teknologi di desa Tenganan sudah masuk alat komunikasi seperti HP dimana anak kecilpun sudah menggunakannya dan orang tua di Desa Tenganan hanya membiarkan selagi itu tidak memberikan dampak buruk dan masih dalam batas wajar.
    Dalam urusan pendidikan para remaja diberi kebebasan untuk memilih sekolah mana yang mereka inginkan dan memilih jurusan apa yang disenangi seperti Kadek yang lebih memilih jurusan bahasa. Karena ia ingin menjadi manager di Hotel milik Pamannya di Denpasar. Orang tua di Tenganan selalu mendukung anak-anaknya dalam hal pendidikan. Bahkan ada orangtua yang mengijinkan anaknya menempuh pendidikan hingga keluar desa Tenganan. Ini juga dapat diketahui dari kepala desa secara dinas desa Tenganan yang mempunyai gelar akademik dari Universitas Udayana di Denpasar Bali yang mengambil jurusan Sastra Inggris. Juga anak dari salah satu warga desa Tenganan yaitu ibu Basak yang memiliki empat orang anak perempuan yang masing-masing menempuh sekolah hingga tingkat universitas di Denpasar Bali. Ibu Basak mengijinkan anak-anaknya bersekolah hingga keluar desa karena Beliau mendukung keinginan anak-anaknya yang ingin berkuliah. Anaknya memilih jurusan pariwisata di protelan dan ada yang kuliah di STMIK di Denpasar Bali. Inginnya berkuliah di jurusan pariwisata karena menurut mereka tempat tinggal mereka yakni desa tenganan merupakan desa wisata yang pengunjungnya tidak hanya lokal tetapi juga internasional.
    Kontrol yang diberikan orangtua terhadap anak-anak remaja di desa Tenganan tidak terlalu ketat. Ini tampak dari orangtua sudah memberikan kepercayaan kepada para anaknya namun tidak dalam segala aspek kehidupan. Karena orangtua tetap memberikan nasihat kepada anak-anak remaja mereka apabila sudah mulai akan menyeleweng dari aturan adat di desa Tenganan. Seperti orangtua memberikan nasihat tentang aturan-aturan yang berlaku, mana yang boleh di lakukan selama berada di dalam desa Tenganan, dan mana hal yang tidak boleh dilakukan. Namun karena masalah perijinan yang diberikan orangtua terhadap anak-anaknya untuk menempuh pendidikan diluar desa Tenganan malah sebenarnya membuat mereka melanggar aturan adat desa. Seperti menikah dengan orang luar desa tenganan yang sebenarnya tidak diperbolehkan. Dan ini membuat remaja asli desa Tenganan harus keluar dari desa dan tidak diperbolehkan lagi tinggal menetap di desa atau dirumah orangtuanya. Akan tetapi diperbolehkan untuk menjenguk dan hanya boleh menginap satu atau dua hari dirumah orangtuanya tersebut. 
    Pengaruh dan Gaya Teknologi  Remaja Tenganan
    Aspek teknologi merupakan aspek yang berhubungan dengan media massa yang terinjeksi dalam setiap aktivitas masyarakat khususnya dalam hal ini dekat dengan kehidupan remaja. Remaja sebagai penerus sebuah tradisi atau sebuah kebudayaan masyarakat setempat. Menurut Barker (2004:334) menyatakan bahwa :“kemunculan pemuda bukan merupakan satu kategori universal biologis. Melainkan satu kontruk sosial yang ada di tengah, berubah yang muncul pada waktu tertentu dan pada kondisi definitif, konsep ini bahwa pemuda tidak memiliki makna universal”. Menurutnya kategori remaja bukan ditentukan oleh umur atau menstruasi dan sebagainya yang umum dalam masyarakat karena dalam beberapa masyarakat temasuk Tenganan, seseorang dikategorikan remaja adalah mereka yang sudah mengalami upacara adat. Masyarakat Tenganan dianggap sebagai masyarakat yang masih asli dan masih menjunjung tinggi adat-istiadat namun semua berbeda setelah masuknya teknologi dalam kehidupan mereka, teknologi memang merupakan suatu hal yang menjembatani untuk suatu masyarakat berkembang, teknologi seperti smartphone, laptop merupakan gaya hidup masyarakat khususnya pemuda Tenganan sehari-hari.
    Gaya remaja menjadi menarik karena terpengaruh budaya modernisasi tersebut, yang memberikan arti penting dalam perubahan sosial budaya. Media dapat mempengaruhi masyarakat apalagi dalam hal ini pemuda yang masih dikatakan dalam masa peralihan menuju kedewasaan. Media adalah peranan yang sangat penting, menurut Cohen dan Young (Barker 2004:352) menyatakan bahwa : “penempatan liputan media pada posisi sentral dalam penciptaan dan keberlangsungan penyimpangan kultur pemuda. Media dikatakan terikat dalam kelompok pemuda dan dikatakan memberi lebel perilaku mereka dengan sebutan menyimpang dari aspek kultural. Lalu respon masyarakat adalah kepanikan moral yang mana masyarakat takut akan lunturnya nilai, norma dan kultur setempat masyarakat. Dalam hal inilah dampak negatif media yang kurang menyajikan nilai- nilai positif”
    Teknologi dan komunikasi yang berkembang telah berpengaruh pada kehidupan remaja Tenganan, meskipun adat istiadat masih sangat dipegang kuat oleh remaja. Remaja sudah menggunakan handphone untuk berkomunikasi dengan temanya. Bahkan anak di bawah 13 th sudah ikut-ikutan menggunakan handphone milik orang tuanya. Menurut Bli Putu (24th):
    “Kami sudah menerima teknologi dari dulu, sejak dulu kami juga sudah menggunaan HP dan komputer namun pada saat yang sama kita juga harus berpegang teguh dengan adat dan istiadat. Desa Tenganan memang berbeda dengan desa adat atau suku-suku lain yang tidak menerima teknologi misalnya listrik. Kami sudah sangat terbuka dengan teknologi. Jadi tegnologi merupakan gaya hidup remaja Tenganan saat ini, dalam kesehariaanya mereka sudah terbiasa menggunakan hal-hal yang berbau teknologi”.
    Dalam Tenganan ini terbagi dalam 3 banjar yang mana ada banjar kauh disamping kanan, tengahan di tengah-tengah, dan banjar kangen atau pande di sebelah timur. Namun banjar kauh yang berada disebelah kanan dianggap banjar yang paling kental dengan adat istiadatnya karena balai- balai suci dan tempat upacara berada di samping kanan. Jadi ke-tiga banjar di Tenganan sudah mengikuti dan terbuka dengan perkembangan teknologi.Ungkap seorang ibu yang bernama Remani (36 th):
    ”banyak remaja disini yang bekerja di luar, tetapi ketika masuk dalam Tenganan mereka sadar dengan kebudayaan disini secara langsung taat dengan nilai dan norma adat, mereka mengenal HP, TV, dan juga jejaring social, namun penggunaan barang-barang tersebut tidak mengurangi kemalasan dalam sembayang atau upacara adat”.
    Penggunaan jejaring social seperti Facebook, Twitter, atau berita- berita Online yang ada, hanya bisa di akses di luar Tenganan karena kurangnya jaringan inernet yang tersedia, begitupun dengan Jaringan HP. Demam K-POP yang kini sedang populer, diikuti remaja melalui TV dan jejaring sosial. Jika dirumah, mereka mengikuti berita-berita K-POP melalui TV Karena hampir setiap rumah ada meskipun dengan tipe sederhana, sementara jika sedang berada disekolah, mereka mengikuti berita malalui jejaring sosioal, facebook. Mereka mengikuti berita-berita yang sedang populer mengenai “KOREA”, dengan cara mengkoleksi foto-foto artis Korea, mengikuti drama Korea melalui televisi di rumah tetapi tidak di aplikasikan dalam gaya hidup sehari-hari.
    Kehidupan remaja perkotaan yang mudah terpengaruh bahasa-bahasa alay, dan kemudian diikuti remaja lain di daerah-daerah. Hal ini berbeda dengan remaja Tenganan karena mereka tidak paham untuk menggunakannya. Mereka mengaku tidak mengenal tokoh panutan khusus yang menjadi idola hanya orang tualah yang menjadi teladan, dan merekapun patuh terhadapnya.
    Model pakaian yang mereka pakai mengikuti adat ketika mengikuti upacara- upacara, tradisi kebudayaan dan sembayang, mereka menggunakan bahe yang merupakan  pakaian untuk perempuan(semacam kemben), ada perbedaan bahe yang dipakai perempuan yang sudah menikah dengan yang belum menikah, bahe untuk remaja perempuan diberi selendang  berwarna merah hati yang di ikat di perutnya, sedangkan untuk perempuan yang sudah menikah menggunakan selendang berwarna hitam. Selendang kain yang digunakan dalam upacara disebut kain tenun geringsing. Model pakaian yang di pakai untuk sehari-hari pakaian biasa pada umumnya yang sederhana, dan tetap menggunakan pakaian yang sopan. Menurut Sandy(15 th):
    “Remaja disini sudah terbiasa dengan wisatawan asing yang memakai pakaian-pakain yang “terbuka”, Kita juga sudah tahu adat pakain Mereka seperti itu. Ibu saya juga pernah menasehati agar tidak berpakain seperti itu, namun saya juga sudah sadar sendiri”


     




                                                               

                  
    Gambar 1: Anita (19 Th)                                 Gambar 2: Sandy (15 Th)
    Inilah contoh gambar remaja di Desa Tenganan, disebelah kiri Anita (19 Th) dan disebelah kanan, Sandy(15 th). Mereka menggunakan smart phone untuk berkomunikasi dengan teman-teman mereka. Dari gambar diatas dapat dilihat, kedua remaja itu memakai kaos dan celana pendek untuk digunakan dalam pakaian sehari-hari. Itulah remaja dilihat dari aspek pengaruh teknologi dan komunikasi yang pada intinya, Remaja di desa Tenganan memiliki gaya hidup yang mengikuti, mengetahui dan mengerti perkembangan teknologi dan komunikasi serta mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari tanpa berlebihan menggunakannya dan memfilter perkembangan zaman yang ada. Mereka mengerti dengan HP,FB, Twitter, TV, K-POP, dan mereka masih menjalankan aturan adat istiadat meskipun mengetahui teknologi dan komunikasi.
    Penutup
    Remaja Tenganan Pengringsingan meskipun mereka berada di desa adat tidak menutup kemungkinan mereka juga mengikuti perkembangan jaman karena kebanyakan dari mereka sudah berpendidikan sampai Sekolah Menengah Atas dan bahkan juga yang mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi. Remaja di Desa Tenganan sudah terbuka, hal ini dibuktikan dengan pendidikan formal yang mereka tempuh, dan penggunaan teknologi oleh remaja yaitu dengan penggunaan hand phone dan jejaring sosial. Penggunaan teknologi ini, merupakan gaya hidup tersendiri bagi remaja karena di tengah adat yang mengikat mereka, remaja tetap bisa mengakses teknologi baru yang ada. Hal ini memberikan suatu identitas baru bagi remaja, jika remaja Tenganan tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi. Disisi lain, meskipun sudah ada keterbukaan dan perubahan, remaja Tenganan tetap berpegang pada nilai dan norma adat. Di luar Tenganan nilai dan norma ini memberi suatu simbol identitas bagi remaja Tenganan. Dimana remaja bangga akan identitas tersebut.
    .




    Daftar Pustaka
    Barker, Chris.2004. Cultural Studies: Teori dan Praktis. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
    Salim, Agus.2002. Perubahan  Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.
    Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi Keluarga:  Tentang Ikhwal Kelurga, Remja dan
    Anak. Jakarta: Rineka Cipta.
                Usman, Husaini dan Purnomo setiady Akbar. 2004. Metodologi Penelitian Sosial.

    Jakarta: Bumi Aksara.