-->
    BLANTERORBITv102

    Materi UTBK- sosialisasi

    Jumat, 24 September 2021

     


    A. SOSIALISASI

    1.       Definisi Sosialisasi

    Menurut Robert MZ. Lawang, sosialisasi adalah proses mempelajari norma, nilai peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan partisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial. Sosialisasi
    merupakan proses belajar menuju pembentukan kepribadian melalui pemahaman mengenai kesadaran terhadap peran yang dijalankan seseorang dan peran yang dijalankan orang lain.

    2.    Tahapan Sosialisasi

    Proses sosialisasi yang terjadi pada seorang individu berlangsung secara bertahap. Menurut George Herbert vead dalam teorinya mengenai Role Taking, yakni proses belajar mengetahui peran yang harus dijalankan
    dirinya dan orang lain, sosialisasi berlangsung secara bertahap melalui proses sebagai berikut:

    a.       Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
    Tahap persiapan adalah tahap pemahaman tentang diri sendiri. Pada tahap ini anak mulai melakukan tindakan meniru meskipun belum sempurna. Contohnya tahap persiapan dilakukan sejak individu lahir hingga balita mengenai nilai norma dasar yang dilakukan oleh orangtua, orang tua dalam hal ini menjadi significant other

    b.      Tahap Meniru (Play Stage) Pada tahap ini anak meniru perilaku orang dewasa dengan lebih sempurna. Anak menyadari keberadaan dirinya dan orang-orang terdekatnya serta mampu memahami suatu peran. Contohnya Ketika individu mulai meniru Gerakan ibunya saat menyapu rumah, namun individu tersebut belum mengerti apa tujuan dari menyapu.

    c.       Tahap Siap Bertindak (Game Stage) Pada tahap ini anak mulai memahami perannya dalam keluarga dan masyarakat. Anak mulai menyadari peraturan yang berlaku. Pada tahap ini, individu sudah mengetahui peran apa yang harus dilakukan dirinya dan orang lain. Contohnya, individu sudah mengetahui tujuannya untuk bersekolah dan perannya sebagai siswa di sekolah.

    d.      Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Others) Pada tahap ini anak sudah mencapai proses pendewasaan dan mengetahui dengan jelas mengenai kehidupan bermasyarakat. Anak mampu memaharni peran yang seharusnya dilakukan dalam masyarakat. Pada tahap ini, individu sudah memiliki peran dan tanggung jawab atas dirinya sendiri bahkan orang lain. Contohnya, seorang pekerja baru mengikuti pengenalan di kantornya agar bisa bekerja dengan baik

     

    3.       Fungsi Sosialisasi

    Fungsi sosialisasi sebagai berikut:

    a.       Membentuk pola perilaku individu berdasarkan kaidah dan norma yang berlaku dalam masyarakat

    b.      Menjaga keteraturan dalam masyarakat

    c.       Menjaga integerasi masyarakat

     

    4.      Tujuan Sosialisasi

    Tujuan sosialisai sebagai berikut:

    a.       Mewariskan nilai dan norma kepada generasi penerus

    b.      Membantu individu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar

    c.       Memberikan pengetahuan yang berhubungan dengan nilai dab norma dalam masyarakat

    d.      Mencegah terjadinya perilaku menyimpang

    e.       Tercapainya integerasi masyarakat

     

    5.       Definisi Sosialisasi

    Menurut Robert MZ. Lawang, sosialisasi adalah proses mempelajari norma, nilai peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan partisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial. Sosialisasi
    merupakan proses belajar menuju pembentukan kepribadian melalui pemahaman mengenai kesadaran terhadap peran yang dijalankan seseorang dan peran yang dijalankan orang lain.

    6.       Tahapan Sosialisasi

    Proses sosialisasi yang terjadi pada seorang individu berlangsung secara bertahap. Menurut George Herbert vead dalam teorinya mengenai Role Taking, yakni proses belajar mengetahui peran yang harus dijalankan
    dirinya dan orang lain, sosialisasi berlangsung secara bertahap melalui proses sebagai berikut:

    e.       Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
    Tahap persiapan adalah tahap pemahaman tentang diri sendiri. Pada tahap ini anak mulai melakukan tindakan meniru meskipun belum sempurna.

    f.        Tahap Meniru (Play Stage) Pada tahap ini anak meniru perilaku orang dewasa dengan lebih sempurna. Anak menyadari keberadaan
    dirinya dan orang-orang terdekatnya serta mampu memahami suatu peran.

    g.      Tahap Siap Bertindak (Game Stage) Pada tahap ini anak mulai memahami perannya dalam keluarga dan masyarakat. Anak mulai
    menyadari peraturan yang berlaku.

    h.      Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Others) Pada tahap ini anak sudah mencapai proses pendewasaan dan mengetahui dengan jelas mengenai kehidupan bermasyarakat. Anak mampu memaharni peran yang seharusnya dilakukan dalam masyarakat.

     

    7.       Fungsi Sosialisasi

    Fungsi sosialisasi sebagai berikut:

    d.      Membentuk pola perilaku individu berdasarkan kaidah dan norma yang berlaku dalam masyarakat

    e.       Menjaga keteraturan dalam masyarakat

    f.        Menjaga integerasi masyarakat

     

    8.       Tujuan Sosialisasi

    Tujuan sosialisai sebagai berikut:

    f.        Mewariskan nilai dan norma kepada generasi penerus

    g.      Membantu individu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar

    h.      Memberikan pengetahuan yang berhubungan dengan nilai dab norma dalam masyarakat

    i.        Mencegah terjadinya perilaku menyimpang

    j.        Tercapainya integerasi masyarakat

     

    9.       Bentuk Sosialisasi

    Berdasarkan bentuknya, sosialisasi dapat dibedakan menjadi:

    a.       Sosialisasi primer merupakan sosialisasi pertama yang dijalani seorang individu dalam lingkungan keluarganya.

    b.      Sosialisasi sekunder merupakan proses sosialisasi yang dijalani oleh seorang individu dalam lingkungan sosial yang lebih luas. Dalam proses sosialisasi sekunder terdapat dua proses sosialisasi antara lain:

    Desosialisasi

    Resosialisasi

    Pencabutan identitas lama dan akan diganti dengan identitas baru

     

    Proses pemasyarakatan individu agar mendapatkan identitas baru

    Setelah seseorang lulus dari sekolah menengah maka dia tidak akan memakai seragam tidak akan memakai pakaian putih biru

    Setelah seseorang memasuki sekolah SMA maka seseorang akan memakai seragam putih abu

     

    Berdasarkan jenis atau tipenya, sosialisasi dibedakan menjadi:

    a.       Sosialisasi formal merupakan sosialisasi yang berlangsung melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam suatu negara. Misalnya lembaga pendidikan militer.

    b.       Sosialisasi informal merupakan sosialisasi yang berlangsung di lingkungan masyarakat. Misalnya kelompok belajar.

    Sosialisasi formal

    Sosialisasi informal

    Dilakukan oleh Lembaga resmi pemerintahan

     

    Proses sosialisasi yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara kekeluargaan

    Sosialisasi yang dilakukan kepolisian akan pentingnya tertib lalulintas

    Teguran yang dilakukan oleh masyarakat

     

    Berdasarkan polanya, sosialisasi dibedakan menjadi dua, yakni:

     

    a.    Sosialisasi represif merupakan sosialisasi yang menekankan pada kepatuhan anak. Sosialisasi represif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

    1)      Hukuman dan imbalan bersifat material

    2)      Seorang anak harus patuh terhadap orang tua;

    3)      Komunikasi bersifat satu arah, nonverbal, dan
    berisi perintah;

    4)      Sosialisasi berpusat pada orang tua;

    5)      Keluarga berperan sebagai significant other (orang-orang yang berpengaruh).

    Contohnya liza dipaksa oleh orantuanya untuk berkuliah di jurusan kedokteran.

    b.    Sosialisasi partisipatoris/partisipatif adalah pola sosialisai yang lebih menekankan pada kebutuhan anak. Sosialisasi partisipatoris ditandai dengan ciri-ciri berikut ini:

    1)      Hukuman dan imbalan bersifat simbiolis;

    2)      Seorang anak diberikan kebebasan;

    3)      Komunikasi dua arah, verbal;

    4)      Sosialisasi berpusat pada anak;

    5)      Keluarga berperan sebagai generalized other.

    Contohnya Liza diajak diskusi oleh orangtuanya untuk menentukan jurusan perkuliahanya.

    PERBEDAAN BENTUK, POLA DAN TIPE  SOSIALISASI

    Bentuk

    Dilihat dari waktu atau periode seseorang mendapatkan Sosialisasi dari setiap agen Sosialisasi.

    Tipe

    Dilihat dari keresmian atau peraturan

    yang sah tidaknya suatu Iembagayang

    melakukan Sosialisasi.

    Pola

    Dilihat dari Cara penyampaian Sosialisasi yang dilakukan

    kepada seseorang.

     

    Berdasarkan posisinya, sosialisasi dapat dibedakan menjadi:

    a.       Sosialiasi ekualitatif merupakan sosialisasi berdasarkan atas persamaan kedudukan antara pihak yang melakukan sosialisasi dan pihak yang disosialisasi (memiliki hubungan sederajat).

    b.      Sosialisasi otoritatif merupakan sosialisasi yang memberi kesempatan kepada individu secara bebas atau tanpa paksaan menerima atau menolak perilaku tertentu.

     

    B. FAKTOR PEMBENTUK KEPRIBADIAN

    Beberapa faktor pembentuk kepribadian sebagai berikut:

    1.   Faktor biologis, yaitu faktor pembentuk kepribadian yang diperoleh dari gen keturunan orang tua

    2.   Faktor kelompok yaitu kepribadian yang terbentuk dari pengaruh lingkungan kelompok social

    3.   Faktor prenatal yaitu faktor yang berkaitan dengan
    pemberian rangsangan atau stimulus ketika anak masih dalam kandungan

    4.   Faktor geografis, yaitu faktor pembentuk kepribadian yang dipengaruhi oleh lingkungan alam

    5.   Faktor kebudayaan, yaitu faktor pembentuk kepribadian yang dipengaruhi oleh lingkungan budaya

    6.   Faktor pengalaman, yaitu faktor pembentuk kepribadian yang ber hubungan dengan pengalaman hidup

    Dalam sosialisasi, terdapat media yang berperan penting
    demi tercapainya tujuan dari proses sosialisasi. Media
    sosialisasi diidentifikasikan sebagai berikut:

    1.    Media Keluarga

    Proses sosialisasi yang terjadi dalam lingkungan keluarga
    sebagai berikut:

    a.    Keluarga merupakan kelompok primer yang memiliki intensitas tinggi untuk mengawasi perilaku anggota keluarganya

    b.    Orang tua berperan mendidik anak agar kehadirannya dapat diterima oleh masyarakat

    c.     Sosialisasi diberikan oleh orang tua kepada anak agar membentuk ciri khas kepribadian

     

    2.    Media sekolah

    Proses sosialisasi di lingkungan sekolah sebagai berikut: Berperan dalam proses sosialisasi sekunder

    a.       Melibatkan interaksi yang tidak sederajat (antara guru dan siswa) serta interaksi sederajat (antara siswa dengan siswa)

    b.      Cakupan sosialisasi lebih luas

    c.       Berorientasi untuk mempersiapkan penguasaan peran siswa pada masa mendatang

    d.      Menanamkan nilai kedisiplinan yang lebih tinggi dan mutlak

     

    3.    Media Kelompok Bermain

    Proses sosialisasi dalam kelompok bermain sebagai
    berikut:

    a.       Dilakukan antarteman, baik teman sebaya maupun teman tidak sebaya

    b.      Terjadi secara ekualitas (hubungan sosialisasi yang sederajat)

    c.       Kelompok bermain ikut menentukan cara ber- perilaku anggota kelompoknya

    d.      Menjadi bagian dari subkultur yang dapat memberikan pengaruh positif atau negative

     

    4.    Media Lingkungan Kerja

    Proses sosialisasi yang terjadi di lingkungan kerja sebagai berikut:

    a.       Diutamakan untuk mencapai kesuksesan dan keunggulan hasil kerja

    b.      Sosialisasi tahap lanjut setelah memasuki masa dewasa

    c.       Adaptasi dalam proses sosialisasi lingkungan kerja dilakukan berdasarkan tuntutan system

    d.      Intensitas sosialisasi tertinggi dilakukan antar kolega

     

    5.    Media Massa

    Identifikasi proses sosialisasi media massa sebagai
    berikut:

    a.       Dilakukan untuk menghadapi masyarakat luas

    b.      Peran sosialisasi lebih bersifat umum

    c.       Diperlakukan peran serta masyarakat untuk bersikap selektif terhadap informasi yang akan diserap oleh anak

    d.      Sosialisasi selalu mengikuti segala bentuk perkembangan dan perubahan sosial yang bersifat universal

    e.       Berperan penting untuk menyampaikan nilai dan norma untuk menghadapi masyarakat yang heterogeny

     

    C. TEORI PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

    Charles H. Cooley menekankan peran interaksi dalam proses sosialisasi. Menurut Cooley, konsep diri (self concept) seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Proses ini dinamakan looking glass self (diri yang bercermin/memandang diri sendiri) yang terbentuk melalui tiga tahap berikut.

    1.)    Membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.

    Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling penting karena prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai perlombaan atau liza selalu bertanya di kelas Ketika gurunya sedang menjelaskanmateri dikelas.

    2.)    Membayangkan bagaimana orang lain menilai diri kita.

    Seorang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya. Dia merasa orang lain selalu memujinya dan selalu percaya pada tindakannya. Perasaan ini juga bisa terjadi sebaliknya, si anak yang merasa dirinya hebat belum tentu benar jika dibandingkan dengan orang lain, dia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini akan turun jika si anak mengetahui informasi bahwa ada anak yang lebih hebat dari dirinya. Atau teman teman menganggap liza sebagai siswa yang pintar karena selalu bertanya kepada guru

    3.)    Bagaimana perasaan kita sebagai akibat penilaian tersebut.

    Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri. Ingat juga bahwa pandangan negatif juga memiliki efek yang sama. Seorang anak yang selalu dijelek-jelekan dapat merasa dirinya jelek, padahal pandangan itu belum tentu benar. Atau liza merasa bangga dengan penilain teman temanya.

     

    D. Faktor pembentuk kepribadian

    Kepribadian terbentuk, berkembang, dan berubah seiring dengan proses sosialisasi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut.

    a.        Faktor biologis/keturunan/genetika Warisan biologis seseorang bersifat unik. Artinya, tidak seorang pun yang mempunyai karakteristik fisik yang sama, bahkan anak kembar sekalipun. Hal lain yang juga memengaruhi kepribadian seseorang adalah kematangan biologis. Kematangan biologis lebih menekankan pada perkembangan individu secara fisik berdasarkan usia atau umur. Tidak semua faktor karakteristik fisik menggambarkan kepribadian seseorang. Namun harus diakui karakteristik fisik dapat pula menjadi faktor penentu dalam perkembangan dan diperlukan dalam kepribadian sesuai dengan pandangan dalam masyarakat atau kelompok acuan.

    b.       Faktor geografis/fisik Lingkungan fisik atau lingkungan geografis sangat memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang. Misalnya lingkungan fisik desa dan kota memiliki peranan besar dalam membentuk kepribadian.

    c.        Faktor pengalaman unik

    d.       Menurut Paul H. Horton, kepribadian tidak dibangun dengan menyusun peristiwa di atas peristiwa lainnya. Arti dan pengaruh suatu pengalaman bergantung pada pengalaman-pengalaman yang mendahuluinya. Pengalaman unik akan memengaruhi kepribadian seseorang. Kepribadian yang berbeda-beda antara satu dan lainnya karena pengalaman yang dialami seseorang itu unik dan tidak ada satu orang pun yang dapat menyamainya.

    e.        Faktor pengalaman kelompok/sosial

    f.         Kelompok yang dapat memengaruhi perkembangan kepribadian antara lain:

    1.)    kelompok acuan (kelompok referensi) merupakan kelompok yang dijadikan acuan/model yang penting bagi gagasan atau norma-norma perilaku;

    2.)    Kelompok majemuk merujuk pada masyarakat yang memiliki keanekaragaman. Kelompok ini memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang aneka nilai dan norma dalam masyarakat.

    g.        Faktor kebudayaan

    Perbedaan dalam setiap masyarakat dapat memengaruhi kepribadian seseorang. Memang terdapat karakteristik kepribadian umum dari suatu masyarakat, namun tidak berarti semua anggota termasuk di dalamnya.