ABSTRAK
Desa bali aga Tenganan memiliki kepercayaan yang
berbeda dengan warga Bali pada umumnya. Umat Hindu Bali pada umumnya menjadikan
Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa sebagai dewa tertinggi.Namun bagi warga
Tenganan Dewa Indra adalah dewa tertinggi, mengapa demikian?karena upacara di
tenganan ini menganut agama hindu aliran indra dan sudah di ketahui bahwa dewa
indra adalah dewa kemakmuran, dewa perang, Dewa yang merupakan simbol ibu
pertiwi dan dewa dari segala dewa. Upacara yang digunakan oleh masyarakat desa
bali aga tenganan untuk menghormati dewa tertinggi dan leluhurnya tersebut
adalah megaret pandan. Megaret pandan merupkan istilah local (emik/ dari
masyarakat desa tenganan Bali. Megaret pandan berarti berperang dengan cara
menggaret atau menggosok-gosokan daun pandan punggung lawan hingga mereka
terluka. Bisa juga diartikan berperang pandan,
Megaret pandan hampir sama seperti perang lainnya yaitu bagaimana caranya untuk mengenai musuhnya.
Namun, dalam megaret pandan tidak ada kalah dan menang karna memang perang ini
bukanlah ditujukan sebagai sebuah kompetisi, melainkan ritual upacara keagamaan
masyarakat bali aga tenganan. Sehingga perang ini mempunya makna yang sangat
mendalam
Dalam
meneliti tradisi khusus (tradisi megaret pandan) di desa tenganan ini kami
menggunakan metode penelitian kualitatif, sebuah metode yang fokus terhadap
asumsi berdasarkan fakta yang mengkaji tentang fenomena dan situasi sosial.
Adapun topik bahasan yang kami teliti adalah mengenai latar belakang, proses,
fungsi dan eksistensi megaret pandan khususnya bagi masyarakat desa tenganan
itu sendiri. metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah data primer
dan data sekunder. metode pengumpulan data dengan data primer antara lain yaitu
wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedang data sekunder adalah bersumber
dari internet dan beberapa referensi buku yang ada.
Kesimpulan
dari hasil laporan yang kami buat adalah bahwa megaret pandan adalah sebuah
ritual yang sarat fungsi dan makna. Kesimpulan dari hasil laporan yang kami
buat yaitu bahwa dalam proses megaret pandan tidak mengalami perubahan yang
signifikan, artinya Megaret pandan yang di laksanakan pada saat ini masih
menggunakan tata cara dan tradisi yang telah ditentukan oleh nenek moyang
mereka, saat ini masih menggunakan pandan dan tameng yang terbuat dari rotan
sebagai alatnya.
Dari aspek fungsi, Megaret pandan saat ini
telah mengalami perubahan fungsi, yaitu ketika pada masa lalu fungsi Megaret
pandan benar-benar hanya menjadi tradisi yang bersifat sakral, sedangkan pada
saat ini Megaret pandan telah berkembang dan memiliki fungsi-fungsi profan
tertentu, salah satunya kepentingan pariwisata.
Dari aspek eksistensi, hingga saat
ini Megaret pandan masih menjadi tradisi, masyarakat desa Tenganan masih
berusaha melestarikan, menjaga, dan memperkenalkan Megaret pandan kepada para
pemuda dan anak-anak Desa Tenganan.
Kata kunci ;Megaret pandan, Tradisi, Desa
Tenganan.
SETETES
DARAH DALAM MEGARET PANDAN
KELOMPOK
5
ABSTRACT
Bali Aga village
Tenganan Bali, has different in believing something,unlike others Balinese.
Hinduism in Bali,mostly believe in Tri Murti those are Brahma, Wisnu, and Siwa
as the highest Goddess. Unlike in Tenganan, Indra is considered as the highest
Goddess, why? It is because the people in Tenganan profess Indraism. Indraism
consideres that Indra is the highest Goddess and the he is the one among
others, the God of War, symbol of prosperity. The ritual for Indra in Bali Aga
village Tenganan is held with a symbolic
dance called Pandan War. Same as other war dance, Pandan War dance also has
intention in attacking the enemies. Because it is only for the ceremonial, in
this war, there will not be a winner or
looser, the main intention of this war is just to respect Indra as the hihgest
God, so this war has a great insight for people in Tenganan.
In conducting
the research of this study, our group used qualitative method. Qualitative
method is method which is recite the fenomena based on the asumption and also
the facts in society. In this research we will deliver the background of the
study, function and the existence of Pandan War, especially in Tenganan.
Primary and Secondary data will be the procedure in collecting the data. The
primary data are by interview, observation, and documentation. References from
some books and the internet are the secondary data.
The conclusion
of our study is, Pandan War has the great insight and function. Other
conclusion is, Pandan War for Tenganan people has no significant changing,
which means Pandan War still has its original rules based on their
ancient. They still use pandanus and
rattan as their shield.
From functional
aspect, Pandan War has change its function. In the past, this war is used for
very sacred ritual in Tenganan, but now this war has change and becomes an
attractive icon for tourism.
From existential aspect, until now Pandan War stiil become the
tradition of Tenganan people and so for the people of Tenganan, they still keep
trying in preserve it. They keep and introducing this war dance to young
generation in Tenganan.
Keywords : Megaret Pandan, tradition, Tenganan village
PENDAHULUAN
Megaret pandan merupakan sebuah tradisi yang hingga kini
masih dijaga keberadaannya atau dilestarikan oleh masyarakat desa Aga Tenganan,
Bali.Megaret pandan sudah menjadi tradisi yang wajib ada di setiap
tahunnya.Menurut sejarah masyarakat desa Aga Tenganan Bali, dahulu desa Aga
Tenganan, Bali dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Maya Denawa.Raja Maya
Denawa dikenal sebagai raja yang kejam dan tidak adil.Ia menganggap dirinya
sebagai Tuhan, Raja Maya Denawa juga melarang Masyarakat desa Aga Tenganan
untuk melakukan ritual-ritual keagamaan di Bali. Hal ini mengakibatkan Dewa di
surga murka dan memerintahkan dewa Indra sebagai panglima perang untuk memimpin
pertempuran darah (perang)dengan raja Maya Denawa.
Perang atau pertempuran sengit
itu berlangsung, dewa Indera diikuti oleh banyak -pasukannya memimpin perang
melawan Raja Maya Denawa, terjadi peertumpahan darah dan setelah peliknya
perang itu akhirnya , dewa indera bisa mengalahkan Raja Maya Denawa, Dewa
indera dan para pasukannya memenangkan perang tersebut dan menyelamatkan warga
desa Tenganan dari genggaman Raja yang kejam.
Dari peristiwa itu, masyarakat desa
Tenganan menjadi menghormati dewa Indera (dewa perang), mereka ingin mengenang
peristiwa pengorbanan beliau ketika berperang untuk membela warga desa dengan
mengadakan megaret pandan. Megaret pandang dilaksanakan setiap satu tahun sekali pada akhir bulan juni
atau awal bulan juli (pada bulan purnama). Tradisi megaret pandan dilakukan
atau dimainkan oleh dua orang laki-laki sebagai simbol keberanian mereka hingga
meneteskan darah dari luka bekas geretan pandan.
Megaret pandan merupakan bagian
dari upacara besar yang disebut Usaba Sembah, semula megaret pandan dilakukan
tertutup, yaitu hanya untuk warga Tenganan.Namun, ketika pariwisata mulai masuk
di desa Tenganan, yaitu pada tahun 1930-an, megaret pandan yang semula sakral
pun menjadi profan, orang luar tidak hanya boleh menonton, namun mereka pun
boleh ikut bertarung.
Berdasarkan latar belakang masalah
diatas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan berikut:
- Bagaimana proses berlangsungnya megaret pandan di desa Tenganan ?
- Apa fungsi megaret pandan bagi masyarakat desa Tenganan?
- Bagaimana eksistensi tradisi
megaret pandan di masyarakat Desa Tenganan pada saat ini?
Metode penelitian
Dalam
penelitian tradisi khusus (tradisi megaret pandan) di desa Tenganan ini kami
menggunaan metode penelitian kualitatif, sebuah metode yang fokus terhadap
asumsi berdasarkan fakta yang mengkaji tentang fenomena dan situasi sosial.
Metode
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
Metode pengumpulan data dengan data primer antara lain yaitu wawancara,
observasi, dan dokumentasi. Sedangkan data sekunder adalah bersumber dari
internet dan beberapa referensi buku yang ada. Informan peneliti adalah
orang masyarakat Tenganan, antara lain
kades, pemuda, anak-anak dan perempuan desa aga Tenganan, Bali.
PEMBAHASAN
ü Proses Terjadinya Megaret pandan
Di
Desa Adat Tenganan, Bali, terdapat suatu tradisi masyarakat yang unik yaitu
tradisi “Perang pandan” atau “Magaret Pandan” dan dalam bahasa Bali disebut
dengan “Mekare-kare”. menurut Kepala Desa Tenganan, I Putu mengatakan:
”dinamakan
megaret pandan karena dalamperang tersebut digunakan daun pandan yang berduri
agar mudah melukai lawan main”.
. Tradisi ini
dilaksanakan setiap satu tahun sekali pada sasih kalima (bulan kelima pada kalender Bali) dan merupakan
bagian dari upacara Sasih Sembah yaitu upacara keagamaan terbesar di Desa
Tenganan.Sasih Kalima yang berlangsung adalah antara bulan
Mei sampai Juni. Terkadang waktu
pelaksanaan juga ditentukan oleh karma desa, namun tetap mengacu pada kalender adat
Bali.Megaret pandan biasanya dilaksanakan pada siang hari, sekitar pukul 14.00.
Sebelum megaret pandan dimulai, masyarakat menabuh gamelan di bale pertemuan.
Bale pertemuan, sebagai tanda sudah dimulainya megaret pandan. Panggung untuk
tempat bermainnya megaret pandan benar-benar seperti ring tinju. Bedanya
panggung megaret pandan itu tanpa tali pengaman yang mengelilingi, tetapi
pengamannya adalah para pemedek (orang yang ikut upacara) itu sendiri. Sebelum
megaret pandan dimulai, ada upacara minum tuak dulu. Tuak di bambu dituangkan
kedau pisang yang berfungsi seperti seperti gelas. Peserta perang saling
menuangkan tuak itu ke daun pisang peserta lain semua lalu dikumpulkan pada
satu orang yang kemudian membuang tuak itu ke samping panggung hingga bau tuak
tercium sangat kuat.
Megaret pandan
dilaksanakan di tempat yang lapang karena tentunya akan diikuti oleh banyak
warga dan juga akan disaksikan oleh masyarakat, baik warga local, maupun turis
domestik dan turis asing.
Sebelum melaksanakan
megaret pandan, terdapat upacara atau ritual yang harus dilaksanakan terlebih
dahulu, yaitu para peserta megaret pandan harus mengelilingi desa sebagai wujud
permohonan perlindungan dan keselamatan agar pelaksanaan megaret pandan dapat
berlangsung dengan lancar.Selain itu, juga dilakukan tari abuang yang ditarikan
oleh para peserta megaret pandan.
Secara teknis, megaret
pandan dilaksanakan oleh dua orang pemuda yang bertindak sebagai lawan layaknya
pertandingan karate yang juga terdapat wasit untuk memimpin jalannya perang.Megaret
pandan juga dilaksanakan dengan diiringi gamelan khas Bali.
Pelaku megaret pandan
harus laki-laki, karena memang belum pernah ada peserta perempuan dalam
pelaksanaan megaret pandan. Pelaku megaret pandan juga tidak ditentukan batasan
usia dan jumlahnya, karena syaratnya adalah berani terkena duri daun pandan.
Biasanya anak-anak kecil juga bisa mengikuti tradisi tersebut apabila ada lawan
yang seimbang. Anak-anak yang mengikuti tradisi megaret pandan biasanya mulai
dari usia delapan atau sepuluh tahun. Pelaku megaret pandan juga tidaklah harus
warga asli desa Tenganan.Warga di luar desa, bahkan turis asing juga bisa
menjadi pelaku megaret pandan.
Pelaksanaan
megaret pandan
Syarat khusus
pelaksanaan megaret pandan adalah harus mengenakan pakaian adat pemuda Bali
“Kamben” dengan bertelanjang dada.Alat utama dalam tradisi ini adalah Tameng /
perisai yang biasanya terbuat dari bambu atau rotan dan daun pandan.Daun pandan
tersebut terdiri dari dua puluh lembar daun yang diikat dengan panjang sekitar
30 cm. Daun pandan digunakan layaknya pedang.
Pemain
memukul punggung lawan dengan cara merangkulnya terlebih dahulu. Mereka
berpelukan, saling memukul punggung lawan dengan daun pandan lalu menggeretnya,
sehingga ritual ini disebut Megeret Pandan. Megaret pandan memang kegiatan
maskulin, macho pesertanya hanya laki-laki. Perempuan hanya menjadi penyaksi
ketika perang berlangsung. Namun begitu perang selesai, para perempuan sigap memberikan obat.
Bagian tubuh yang tidak boleh dikenai
adalah bagian kepala dan alat vital.Pelaksanaan perang dianggap selesai ketika
salah satu dari pemuda ada yang melambaikan tangan sebagai tanda menyerah atau
setelah salah satu peserta sudah menyerah atau dirasa sudah cukup oleh pemimpin
pertandingan.Dalam megaret pandan tidak ada istilah menang ataupun kalah,
karena merupakan salah satu dari pelaksanaan tradisi perang layaknya
pertandingan persahabatan.Karena tajamnya duri-duri daun pandan, maka akan
terjadi luka goresan pada tubuh pelaku megaret pandan. Para pelaku perang yang
terluka diobati secara tradisional dengan menggunakan “Boreh Rempah” yang
terbuat dari kunyit, lengkuas dan cuka yang dibuat oleh “Dahe” (Perempuan
pembuat Boreh Rempah) dan memang menimbulkan rasa perih pada bagian yang
terluka. Namun, para pemuda pelaku perang mayoritas juga bisa membuat obat
tersebut.
Menurut I Nyoman Patra Gunawan:
“ada obat
tradisional yang di buat oleh masyarakat Tenganan. Obat tersebut terbuat dari
kunyit dan sedikit cuka, tidak sampai dua minggu luka itu dapat sembuh.Karena obatanya
sangat mujarab”.
Selesai perang, punggung dan pundak
peserta memang penuh bercak darah yang mengalir akibat geretan daun pandan.
Masyarakat menganggap bahwa jika mereka sudah mengeluarkan darah mereka merasa
sudah melakukan bakti kepada leluhur, mereka menghormati dewa Indera dan
berbakti kepada tradisinya.Menurut mereka, darah yang menetes ke tanah
berfungsi sebagai penyeimbang alam.Daun pandan digunakan dalam megaret pandan
karena daun pandan berduri tetapi tidak menimbulkan infeksi.
Selain mengingatkan kepada dewa
Indera, tradisi ini juga untuk mengingatkan bahwa desa Tenganan merupakan suatu
desa yang memiliki benteng, sehingga dianggap perlu dilengkapi dengan kekuatan
atau pertahanan prajurit.nyembuhan dengan “Boreh
Rempah’ adalah sekitar dua sampai tiga hari.
Setelah pelaksanaan
perang dan pengobatan seketika di lapangan, para pelaku perang melakukan
upacara penutupan dengan makan “jajan” bersama.
Kemudian pada hari
setelah perang dilaksanakan upacara pemotongan babi dengan syarat beratnya adalah
100 kg.
ü Fungsi Megaret
pandan
- Fungsi
sebagai penghormatan kepada Dewa
Indera
Megaret pandan yang
merupakan bagian dari tradisi masyarakat Desa Aga Tenganan antara lain befungsi
sebagai, kepercayaan warga Tenganan agak berbeda dengan warga Bali pada umumnya.
Umat Hindu Bali pada umumnya menjadikan Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa
sebagai dewa tertinggi.Namun bagi warga Tenganan Dewa Indra adalah dewa dari
segala dewa.Dewa Indra adalah dewa perang. Menurut sejarahnya Tenganan adalah
hadiah dari Dewa Indra pada wong peneges, leluhur desa Tenganan.
Salah satu warga
desa Tenganan Mengatakan:
“Semua
masyarakat tetap menerima warisan-warisan dari leluhur. Tak ada masyarakat yang
tidak menerima. Megaret pandan merupakan tanda setia pada yang Maha Kuasa dan
untuk menghormati dewa perang yaitu dewa Indra dengan cara mengeluarkan darah
pada saat perang berlangsung”.
Perang
ini adalah bagian dari upacara agama, karena fungsi perang ini juga sebagai
persembahan kepada dewa indra. Megaret pandan di katagorikan sebagai Tari wali/
tari sakral yang hanya bisa di pentaskan dan diadakan pada saat yang sudah di
tentukan, jadi tidak boleh digeser dan ditambah. Kemudian megaret pandan
merupakan salah satu rangkaiaan tari persembahan, khususnya kepada dewa indra
juga terhadap ida sang widhiwasa.
secara
umum mengapa dewa indra yang dijadikan sebagai dewa tertinggi, karena upacara
di tenganan ini menganut agama hindu aliran indra dan sudah di ketahui bahwa
dewa indra sebagai dewa kemakmuran juga di kenal sebagai dewa perang. Megaret
pandan juga bersifat seperti perang yang
lainnya yaitu bagaimana caranya untuk
mengenai musuhnya, dalam arti tidak ada kalah menang di jauh kan dari rasa
dendam dan yang terpenting intinya
megaret pandan ini secara jelas untuk melengkapi upacara.
Fungsi
pandan, jika satu durinya patah tidak menyebabkan luka kalau durinya sampai
tertanam dan jika tidak di obati pun tidak akan infeksi. Untuk mempercepat
proses pengeringan diobati dengan campuran lengkuas,air cuka sedikit dan kunyit
sehingga mempercepat penyembuhan luka tersebut. Saat terkena duri rasa
sakit memang belum terasa akan tetapi saat diberi obat akan terasa sedikit
perih namun rasa perih tersebut tidak berlangsung lama.
Sebenarnya
pemaknaannya tidak hanya sekedar meneteskan darah saja namun lebih dari
itu,seperti yang telah disebutkan di atas bahwa makna ritual perang ini adalah
pertama wujud bakti pada dewa indra, yang kedua agar para pemuda di desa
tenganan belajar introspeksi diri, dimana musuh kita itu bukan hanya berasal
dari luar diri, namun terkadang musuh kita itu muncul dari dalam diri sendiri,
bagaimana para pemuda atau peserta megaret pandan itu menunjukkan seninya
mengeluarkan emosi. Makna selanjutnya adalah sebagai persembahan keseimbangan
kepada bumi.
2. Sebagai upaya menciptakan keseimbangan
antara dunia natural dengan supernatural.
Pemain
megaret pandan biasanya terluka hingga meneteskan darah mereka ke tanah. Mereka
menganggaps bahwa darah yang menetes tersebut sebagai penyeimbang alam, artinya
mereka (masyarakat desa aga Tenganan) masih mempercayai hal-hal gaib seperti
roh halu, dewa-dewa dan kekuatan magic. Yang meneteskan tersebut dipercayai
sebagai simbol persembahan untuk roh halus dan dewa yang ada di alam
supranatural.
Menurut
mereka hubungan keserasian antara alam nyata dan alam gaib itu harus dijaga,
dan masyarakat Aga Tenganan berusaha untuk menciptakan hubungan atau suasana
harmonis antara manusia (masyarakat desa
Tenganan) dengan roh halus yang ada disana.
3.
Sebagai Arena untuk mempertunjukkan kesejahteraan dan
keperwiraan.
Megaret
pandan biasanya dilakukan oleh para laki-laki, karena megaret pandan itu
menggambarkan kekuatan dan kejantanan,m aka seyogyanyamemang laki-laki lah yang
memainkanya. Megaret pandan yang membutuhkan kekuatan fisit memang sudah identik
dengan laki-laki. Biasanya para lelaki sangat antusiasuntuk mengikutinya
disebabkan kekuatan seseorang lebih terlihat dengan mengikuti tradisi megaret
pandan ini. Mereka bisa saling unjuk kejantanan mereka sebagai seorang
laki-laki yang mampu melindungi perempuan dan keluarga dengan kekuatan fisiknya
dan juga ketangkasannya dalam melawan apa yang menjadi tantangan bagi diri dan
orang-orang disekitarnya, sehingga tidak ada wanita yang memainkan megaret
pandan. Karena wanita cenderung takut perang dan megaret pandan memang hanya
identik dimainkan oleh laki-laki sebagai simbol kejantanan dan keperwiraan
mereka, jadi masyarakat menganggap wanita tidak pantas untuk memainkan megaret
pandan.
4.
Sebagai pariwisata untuk menarik pengunjung.
Tidak
terlepas dari beberapa fungsi megaret pandan sebagai suatu ritual yag sakral
dalam keagamaan, tetapi megaret pandan juga memiliki fungsi yang mungkin tidak
hubungannya dengan pemujaan atau persembahan kepada dewa indera. Yaitu
berfungsi sebagai menarik minat wisatawan yang justru mendukung kelangsungan
megaret pandan tersebut. Hampir setiap harinya banyak wisatawan lokal maupun
asing yang berdatangan ke desa Tenganan meskipun megaret pandan dilaksanankan
satu tahu sekali. Peserta megaret pandan pun yang dulunya hanya dilakukan oleh
masyarakat Tenganan sendiri, tetapi sekarang orang dari luar Tenganan maupun
asing dapat menjadi peserta. Dan itu salah satu cara masyarakat Tenganan untuk
memepekenalkan megaret pandan kepada orang asing.
Keberlangsungan
tersebut kini malah membawa dampak untuk perekonomian masyarakat desa Tenganan
itu sendiri. Masyarakat dalam kesempatan ini mempunyai usaha untuk memajukan
perekonomian mereka, misalkan saja kerajinan membuat pernak-pernik khas
Tenganan seperti.
ü Eksistensi
Megaret pandan
Masyarakat dalam menyikapi perkembangan zaman sangat
tertutup dengan perubahan tersebut.Masyarakat tetap memegang teguh dan
mempertahankan budaya seperti aslinya karena masyarakat menganggap bahwa budaya
tersebut merupakan warisan dari leluhur dan mereka tidak berani merubah dalam
artian tidak berani mengurangi maupun menambahkan sesuatu sekecil apapun dari
budaya-budaya yang mereka punya.
Hingga
saat ini pun tradisi megaret pandan selalu diterima oleh masyarakat desa
Tenganan secara langsung.Masyarakat sangat antusias ketika acara tersebut
berlangsung.Tak ada masyarakat yang tidak menerima terhadap tradisi kebudayaan
tersebut.Masyarakat Tenganan justru sangat bangga dengan kebudayaan-kebudayaan
yang ada di dalam desanya karena kebudayaan mereka menyenangkan, unik dan hanya
ada dalam desa tersebut di daerah Bali, terutama megaret pandan itu sendiri.
Karena dengan melestarikan kebudayaan tersebut, berarti mereka setia pada Tuhan
Yang Maha Esa karena meniru apa yang dilakukan oleh Dewa Indra sebagai dewa
perang, juga untuk menghormati Dewa Indra dan mengikuti jalannya dewa Indra ke
tempat ia berada. Dewa Indra juga merupakan simbol ibu pertiwi.Megaret pandan
merupakan kebudayaan yang berbeda dari kebudayaan lainnya, dan mereka sangat
menjunjung tinggi kebudayaan dari leluhur mereka itu. Bahkan dipercayai apabila
ada warga yang menentang kebudayaan tersebut seseorang itu akan mudah terkena
musibah. Namun tidak ada hukuman langsung dari pihak adat, yang mereka yakini
adalah adanya hukuman dari roh-roh yang dipercaya oleh masyarakat Tenganan.
Hingga saat ini,
megaret pandan berusaha untuk dijaga kelestarianya oleh masyarakat desa Aga
Tenganan. Megaret pandan yang dimainkan di tanah lapang maupun dibale yang
tingginya 1 meter ini telah menarik perhatian masyarakat desa Tenganan dan
tidak sedikit pula berhasil menarik perhatian para turis mancanegara. Hingga
pada kehidupan sehari-hari, anak-anak desa Tenganan sudah terbiasa bermain
Megaret pandan (hanya sekedar untuk bermain). Menurut salah seorang desa
Tenganan. Hal itu juga sebagai latihan mempersiapkan dirinya agar terbiasa dan
bisa memainkan megaret pandan kelak pada saatnya dewasa. Masyarakat desa
Tengana terbuka mengajarkan megaret pandan kepada siapapun, tidak ada latihan
khusus bagi anak-anak, namun anak-anaklah yang berinisiatif sendiri untuk
memainkan atau meniru bermain megaret pandan. Turis wisatawanpun diperbolehkan
untuk memainkan megaret pandan dengan syarat memakai pakaian adat Tenganan.
Salah satu warga desa
Tenganan, I Nyoman Parta Gunawan mengatakan:
“Tidak ada
perubahan sama sekali dalam tata cara, pakaian, dan waktunya. Karena masyarakat
tidak berani merubah-rubah apa yang telah di wariskan oleh para leluhur kepada
kita. Kita sangat menghormati apa yang telah di berikan oleh para leluhur.
Sehingga tidak ada perubahan hingga saat ini.Tak ada penambahan dan pengurangan
dalam Megaret pandan ini”.
Pada kenyataannya saat ini memang tidak
ada perubahan secara teknis dalam pelaksanaan megaret pandan, tetapi megaret pandan yang semula sakral
pun menjadi profan, orang luar tidak hanya menonton, namun mereka pun boleh
ikut bertarung dan berpartisipasi dalam megaret pandan. Saat ini megaret pandan
menjadi penarik Pariwisata dan berpengaruh dalam pemasok perekonomian
masyarakat desa Tenangan.
KESIMPULAN
Dari paparan yang telah diuraikan
sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:
1)
Proses berlangsungnya megaret pandan dilaksanakan pada
setiap bulan purnama (antara akhir Juni atau awal Juli) satu tahun sekali,
berdasarkan kalender Tenganan, syarat megaret pandan dimainkan oleh laki-laki
minimal berusia 8 tahun berni terkena duri (satu kali pertandingan dua orang
laki-laki). Peralatan yang diperlukan yaitu daun pandan dan tameng yang terbuat
dari rotan.
2)
Fungsi megaret pandan yaitu sebagai penghormatan kepada
dewa indra.
·
Sebagai upaya menciptakan keseimbangan antara
dunia natural dengan supranatural
·
Sebagai arena untuk mempertunjukan kejantanan
dan keperwiraan.
·
Sebagai fungsi pariwisata
3)
Eksistensi tradisi megaret pandan yaitu masyarakat desa
tenganan berusaha untuk selalu menjaga dan melestarikan tradisi megaret pandan
serta selalu akan dilaksanakan setiap tahunya. Secara teknis tidak ada
perubahan dalam peraturan megaret pandan, namun saat ini megaret pandan menjadi
provan bagi masyarakat Tenganan untuk menarik pariwisata.
DAFTAR
PUSTAKA


0 komentar