-->
    BLANTERORBITv102

    “SETETES DARAH DALAM MEGARET PANDAN”

    Rabu, 22 Januari 2014

    ABSTRAK
    Desa bali aga Tenganan memiliki kepercayaan yang berbeda dengan warga Bali pada umumnya. Umat Hindu Bali pada umumnya menjadikan Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa sebagai dewa tertinggi.Namun bagi warga Tenganan Dewa Indra adalah dewa tertinggi, mengapa demikian?karena upacara di tenganan ini menganut agama hindu aliran indra dan sudah di ketahui bahwa dewa indra adalah dewa kemakmuran, dewa perang, Dewa yang merupakan simbol ibu pertiwi dan dewa dari segala dewa. Upacara yang digunakan oleh masyarakat desa bali aga tenganan untuk menghormati dewa tertinggi dan leluhurnya tersebut adalah megaret pandan. Megaret pandan merupkan istilah local (emik/ dari masyarakat desa tenganan Bali. Megaret pandan berarti berperang dengan cara menggaret atau menggosok-gosokan daun pandan punggung lawan hingga mereka terluka. Bisa juga diartikan berperang pandan,   Megaret pandan hampir sama seperti perang lainnya yaitu  bagaimana caranya untuk mengenai musuhnya. Namun, dalam megaret pandan tidak ada kalah dan menang karna memang perang ini bukanlah ditujukan sebagai sebuah kompetisi, melainkan ritual upacara keagamaan masyarakat bali aga tenganan. Sehingga perang ini mempunya makna yang sangat mendalam
    Dalam meneliti tradisi khusus (tradisi megaret pandan) di desa tenganan ini kami menggunakan metode penelitian kualitatif, sebuah metode yang fokus terhadap asumsi berdasarkan fakta yang mengkaji tentang fenomena dan situasi sosial. Adapun topik bahasan yang kami teliti adalah mengenai latar belakang, proses, fungsi dan eksistensi megaret pandan khususnya bagi masyarakat desa tenganan itu sendiri. metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. metode pengumpulan data dengan data primer antara lain yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedang data sekunder adalah bersumber dari internet dan beberapa referensi buku yang ada.
    Kesimpulan dari hasil laporan yang kami buat adalah bahwa megaret pandan adalah sebuah ritual yang sarat fungsi dan makna. Kesimpulan dari hasil laporan yang kami buat yaitu bahwa dalam proses megaret pandan tidak mengalami perubahan yang signifikan, artinya Megaret pandan yang di laksanakan pada saat ini masih menggunakan tata cara dan tradisi yang telah ditentukan oleh nenek moyang mereka, saat ini masih menggunakan pandan dan tameng yang terbuat dari rotan sebagai alatnya.
    Dari aspek fungsi, Megaret pandan saat ini telah mengalami perubahan fungsi, yaitu ketika pada masa lalu fungsi Megaret pandan benar-benar hanya menjadi tradisi yang bersifat sakral, sedangkan pada saat ini Megaret pandan telah berkembang dan memiliki fungsi-fungsi profan tertentu, salah satunya kepentingan pariwisata.
                Dari aspek eksistensi, hingga saat ini Megaret pandan masih menjadi tradisi, masyarakat desa Tenganan masih berusaha melestarikan, menjaga, dan memperkenalkan Megaret pandan kepada para pemuda dan anak-anak Desa Tenganan.
    Kata kunci ;Megaret pandan, Tradisi, Desa Tenganan.


    SETETES DARAH DALAM MEGARET PANDAN
    KELOMPOK 5

    ABSTRACT

    Bali Aga village Tenganan Bali, has different in believing something,unlike others Balinese. Hinduism in Bali,mostly believe in Tri Murti those are Brahma, Wisnu, and Siwa as the highest Goddess. Unlike in Tenganan, Indra is considered as the highest Goddess, why? It is because the people in Tenganan profess Indraism. Indraism consideres that Indra is the highest Goddess and the he is the one among others, the God of War, symbol of prosperity. The ritual for Indra in Bali Aga village Tenganan  is held with a symbolic dance called Pandan War. Same as other war dance, Pandan War dance also has intention in attacking the enemies. Because it is only for the ceremonial, in this war,  there will not be a winner or looser, the main intention of this war is just to respect Indra as the hihgest God, so this war has a great insight for people in Tenganan.
    In conducting the research of this study, our group used qualitative method. Qualitative method is method which is recite the fenomena based on the asumption and also the facts in society. In this research we will deliver the background of the study, function and the existence of Pandan War, especially in Tenganan. Primary and Secondary data will be the procedure in collecting the data. The primary data are by interview, observation, and documentation. References from some books and the internet are the secondary data.
    The conclusion of our study is, Pandan War has the great insight and function. Other conclusion is, Pandan War for Tenganan people has no significant changing, which means Pandan War still has its original rules based on their ancient.  They still use pandanus and rattan as their shield.
    From functional aspect, Pandan War has change its function. In the past, this war is used for very sacred ritual in Tenganan, but now this war has change and becomes an attractive icon for tourism. 
    From existential  aspect, until now Pandan War stiil become the tradition of Tenganan people and so for the people of Tenganan, they still keep trying in preserve it. They keep and introducing this war dance to young generation in Tenganan.

    Keywords : Megaret Pandan, tradition, Tenganan village







    PENDAHULUAN   
    Megaret pandan merupakan sebuah tradisi yang hingga kini masih dijaga keberadaannya atau dilestarikan oleh masyarakat desa Aga Tenganan, Bali.Megaret pandan sudah menjadi tradisi yang wajib ada di setiap tahunnya.Menurut sejarah masyarakat desa Aga Tenganan Bali, dahulu desa Aga Tenganan, Bali dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Maya Denawa.Raja Maya Denawa dikenal sebagai raja yang kejam dan tidak adil.Ia menganggap dirinya sebagai Tuhan, Raja Maya Denawa juga melarang Masyarakat desa Aga Tenganan untuk melakukan ritual-ritual keagamaan di Bali. Hal ini mengakibatkan Dewa di surga murka dan memerintahkan dewa Indra sebagai panglima perang untuk memimpin pertempuran darah (perang)dengan raja Maya Denawa.
    Perang atau pertempuran sengit itu berlangsung, dewa Indera diikuti oleh banyak -pasukannya memimpin perang melawan Raja Maya Denawa, terjadi peertumpahan darah dan setelah peliknya perang itu akhirnya , dewa indera bisa mengalahkan Raja Maya Denawa, Dewa indera dan para pasukannya memenangkan perang tersebut dan menyelamatkan warga desa Tenganan dari genggaman Raja yang kejam.
    Dari peristiwa itu, masyarakat desa Tenganan menjadi menghormati dewa Indera (dewa perang), mereka ingin mengenang peristiwa pengorbanan beliau ketika berperang untuk membela warga desa dengan mengadakan megaret pandan. Megaret pandang dilaksanakan  setiap satu tahun sekali pada akhir bulan juni atau awal bulan juli (pada bulan purnama). Tradisi megaret pandan dilakukan atau dimainkan oleh dua orang laki-laki sebagai simbol keberanian mereka hingga meneteskan darah dari luka bekas geretan pandan.
    Megaret pandan merupakan bagian dari upacara besar yang disebut Usaba Sembah, semula megaret pandan dilakukan tertutup, yaitu hanya untuk warga Tenganan.Namun, ketika pariwisata mulai masuk di desa Tenganan, yaitu pada tahun 1930-an, megaret pandan yang semula sakral pun menjadi profan, orang luar tidak hanya boleh menonton, namun mereka pun boleh ikut bertarung.




    Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan berikut:
    1. Bagaimana proses berlangsungnya megaret pandan di desa Tenganan ?
    2. Apa fungsi megaret pandan bagi masyarakat desa Tenganan?
    3. Bagaimana eksistensi  tradisi megaret pandan di masyarakat Desa Tenganan pada saat ini?


    Metode penelitian
                Dalam penelitian tradisi khusus (tradisi megaret pandan) di desa Tenganan ini kami menggunaan metode penelitian kualitatif, sebuah metode yang fokus terhadap asumsi berdasarkan fakta yang mengkaji tentang fenomena dan situasi sosial.
                Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data dengan data primer antara lain yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan data sekunder adalah bersumber dari internet dan beberapa referensi buku yang ada. Informan peneliti adalah orang  masyarakat Tenganan, antara lain kades, pemuda, anak-anak dan perempuan desa aga Tenganan, Bali.


    PEMBAHASAN
    ü  Proses Terjadinya Megaret pandan
    Di Desa Adat Tenganan, Bali, terdapat suatu tradisi masyarakat yang unik yaitu tradisi “Perang pandan” atau “Magaret Pandan” dan dalam bahasa Bali disebut dengan “Mekare-kare”. menurut Kepala Desa Tenganan, I Putu mengatakan:
    ”dinamakan megaret pandan karena dalamperang tersebut digunakan daun pandan yang berduri agar mudah melukai lawan main”.

    . Tradisi ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali pada sasih kalima (bulan kelima pada kalender Bali) dan merupakan bagian dari upacara Sasih Sembah yaitu upacara keagamaan terbesar di Desa Tenganan.Sasih Kalima yang berlangsung adalah antara bulan Mei  sampai Juni. Terkadang waktu pelaksanaan juga ditentukan oleh karma desa, namun tetap mengacu pada kalender adat Bali.Megaret pandan biasanya dilaksanakan pada siang hari, sekitar pukul 14.00. Sebelum megaret pandan dimulai, masyarakat menabuh gamelan di bale pertemuan. Bale pertemuan, sebagai tanda sudah dimulainya megaret pandan. Panggung untuk tempat bermainnya megaret pandan benar-benar seperti ring tinju. Bedanya panggung megaret pandan itu tanpa tali pengaman yang mengelilingi, tetapi pengamannya adalah para pemedek (orang yang ikut upacara) itu sendiri. Sebelum megaret pandan dimulai, ada upacara minum tuak dulu. Tuak di bambu dituangkan kedau pisang yang berfungsi seperti seperti gelas. Peserta perang saling menuangkan tuak itu ke daun pisang peserta lain semua lalu dikumpulkan pada satu orang yang kemudian membuang tuak itu ke samping panggung hingga bau tuak tercium sangat kuat.
    Megaret pandan dilaksanakan di tempat yang lapang karena tentunya akan diikuti oleh banyak warga dan juga akan disaksikan oleh masyarakat, baik warga local, maupun turis domestik dan turis asing.
    Sebelum melaksanakan megaret pandan, terdapat upacara atau ritual yang harus dilaksanakan terlebih dahulu, yaitu para peserta megaret pandan harus mengelilingi desa sebagai wujud permohonan perlindungan dan keselamatan agar pelaksanaan megaret pandan dapat berlangsung dengan lancar.Selain itu, juga dilakukan tari abuang yang ditarikan oleh para peserta megaret pandan.
    Secara teknis, megaret pandan dilaksanakan oleh dua orang pemuda yang bertindak sebagai lawan layaknya pertandingan karate yang juga terdapat wasit untuk memimpin jalannya perang.Megaret pandan juga dilaksanakan dengan diiringi gamelan khas Bali.
    Pelaku megaret pandan harus laki-laki, karena memang belum pernah ada peserta perempuan dalam pelaksanaan megaret pandan. Pelaku megaret pandan juga tidak ditentukan batasan usia dan jumlahnya, karena syaratnya adalah berani terkena duri daun pandan. Biasanya anak-anak kecil juga bisa mengikuti tradisi tersebut apabila ada lawan yang seimbang. Anak-anak yang mengikuti tradisi megaret pandan biasanya mulai dari usia delapan atau sepuluh tahun. Pelaku megaret pandan juga tidaklah harus warga asli desa Tenganan.Warga di luar desa, bahkan turis asing juga bisa menjadi pelaku megaret pandan.
      
    Pelaksanaan megaret pandan
    Syarat khusus pelaksanaan megaret pandan adalah harus mengenakan pakaian adat pemuda Bali “Kamben” dengan bertelanjang dada.Alat utama dalam tradisi ini adalah Tameng / perisai yang biasanya terbuat dari bambu atau rotan dan daun pandan.Daun pandan tersebut terdiri dari dua puluh lembar daun yang diikat dengan panjang sekitar 30 cm. Daun pandan digunakan layaknya pedang.
    Pemain memukul punggung lawan dengan cara merangkulnya terlebih dahulu. Mereka berpelukan, saling memukul punggung lawan dengan daun pandan lalu menggeretnya, sehingga ritual ini disebut Megeret Pandan. Megaret pandan memang kegiatan maskulin, macho pesertanya hanya laki-laki. Perempuan hanya menjadi penyaksi ketika perang berlangsung. Namun begitu perang selesai, para  perempuan sigap memberikan obat.
    Bagian tubuh yang tidak boleh dikenai adalah bagian kepala dan alat vital.Pelaksanaan perang dianggap selesai ketika salah satu dari pemuda ada yang melambaikan tangan sebagai tanda menyerah atau setelah salah satu peserta sudah menyerah atau dirasa sudah cukup oleh pemimpin pertandingan.Dalam megaret pandan tidak ada istilah menang ataupun kalah, karena merupakan salah satu dari pelaksanaan tradisi perang layaknya pertandingan persahabatan.Karena tajamnya duri-duri daun pandan, maka akan terjadi luka goresan pada tubuh pelaku megaret pandan. Para pelaku perang yang terluka diobati secara tradisional dengan menggunakan “Boreh Rempah” yang terbuat dari kunyit, lengkuas dan cuka yang dibuat oleh “Dahe” (Perempuan pembuat Boreh Rempah) dan memang menimbulkan rasa perih pada bagian yang terluka. Namun, para pemuda pelaku perang mayoritas juga bisa membuat obat tersebut.


    Menurut I Nyoman Patra Gunawan:
    “ada obat tradisional yang di buat oleh masyarakat Tenganan. Obat tersebut terbuat dari kunyit dan sedikit cuka, tidak sampai dua minggu luka itu dapat sembuh.Karena obatanya sangat mujarab”.

    Selesai perang, punggung dan pundak peserta memang penuh bercak darah yang mengalir akibat geretan daun pandan. Masyarakat menganggap bahwa jika mereka sudah mengeluarkan darah mereka merasa sudah melakukan bakti kepada leluhur, mereka menghormati dewa Indera dan berbakti kepada tradisinya.Menurut mereka, darah yang menetes ke tanah berfungsi sebagai penyeimbang alam.Daun pandan digunakan dalam megaret pandan karena daun pandan berduri tetapi tidak menimbulkan infeksi.
    Selain mengingatkan kepada dewa Indera, tradisi ini juga untuk mengingatkan bahwa desa Tenganan merupakan suatu desa yang memiliki benteng, sehingga dianggap perlu dilengkapi dengan kekuatan atau pertahanan prajurit.nyembuhan dengan “Boreh Rempah’ adalah sekitar dua sampai tiga hari.
    Setelah pelaksanaan perang dan pengobatan seketika di lapangan, para pelaku perang melakukan upacara penutupan dengan makan “jajan” bersama.
    Kemudian pada hari setelah perang dilaksanakan upacara pemotongan babi dengan syarat beratnya adalah 100 kg.

    ü  Fungsi Megaret pandan

    1. Fungsi sebagai  penghormatan kepada Dewa Indera
    Megaret pandan yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Desa Aga Tenganan antara lain befungsi sebagai, kepercayaan warga Tenganan agak berbeda dengan warga Bali pada umumnya. Umat Hindu Bali pada umumnya menjadikan Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa sebagai dewa tertinggi.Namun bagi warga Tenganan Dewa Indra adalah dewa dari segala dewa.Dewa Indra adalah dewa perang. Menurut sejarahnya Tenganan adalah hadiah dari Dewa Indra pada wong peneges, leluhur desa Tenganan.


    Salah satu warga desa Tenganan Mengatakan:
    “Semua masyarakat tetap menerima warisan-warisan dari leluhur. Tak ada masyarakat yang tidak menerima. Megaret pandan merupakan tanda setia pada yang Maha Kuasa dan untuk menghormati dewa perang yaitu dewa Indra dengan cara mengeluarkan darah pada saat perang berlangsung”.
    Perang ini adalah bagian dari upacara agama, karena fungsi perang ini juga sebagai persembahan kepada dewa indra. Megaret pandan di katagorikan sebagai Tari wali/ tari sakral yang hanya bisa di pentaskan dan diadakan pada saat yang sudah di tentukan, jadi tidak boleh digeser dan ditambah. Kemudian megaret pandan merupakan salah satu rangkaiaan tari persembahan, khususnya kepada dewa indra juga terhadap ida sang widhiwasa.
    secara umum mengapa dewa indra yang dijadikan sebagai dewa tertinggi, karena upacara di tenganan ini menganut agama hindu aliran indra dan sudah di ketahui bahwa dewa indra sebagai dewa kemakmuran juga di kenal sebagai dewa perang. Megaret pandan juga  bersifat seperti perang yang lainnya yaitu  bagaimana caranya untuk mengenai musuhnya, dalam arti tidak ada kalah menang di jauh kan dari rasa dendam  dan yang terpenting  intinya megaret pandan ini secara jelas untuk melengkapi upacara.
    Fungsi pandan, jika satu durinya patah tidak menyebabkan luka kalau durinya sampai tertanam dan jika tidak di obati pun tidak akan infeksi. Untuk mempercepat proses pengeringan diobati dengan campuran lengkuas,air cuka sedikit dan kunyit sehingga mempercepat penyembuhan luka tersebut. Saat terkena duri rasa sakit memang belum terasa akan tetapi saat diberi obat akan terasa sedikit perih namun rasa perih tersebut tidak berlangsung lama.
    Sebenarnya pemaknaannya tidak hanya sekedar meneteskan darah saja namun lebih dari itu,seperti yang telah disebutkan di atas bahwa makna ritual perang ini adalah pertama wujud bakti pada dewa indra, yang kedua agar para pemuda di desa tenganan belajar introspeksi diri, dimana musuh kita itu bukan hanya berasal dari luar diri, namun terkadang musuh kita itu muncul dari dalam diri sendiri, bagaimana para pemuda atau peserta megaret pandan itu menunjukkan seninya mengeluarkan emosi. Makna selanjutnya adalah sebagai persembahan keseimbangan kepada bumi.



    2.    Sebagai upaya menciptakan keseimbangan antara dunia natural dengan supernatural.
    Pemain megaret pandan biasanya terluka hingga meneteskan darah mereka ke tanah. Mereka menganggaps bahwa darah yang menetes tersebut sebagai penyeimbang alam, artinya mereka (masyarakat desa aga Tenganan) masih mempercayai hal-hal gaib seperti roh halu, dewa-dewa dan kekuatan magic. Yang meneteskan tersebut dipercayai sebagai simbol persembahan untuk roh halus dan dewa yang ada di alam supranatural.
    Menurut mereka hubungan keserasian antara alam nyata dan alam gaib itu harus dijaga, dan masyarakat Aga Tenganan berusaha untuk menciptakan hubungan atau suasana harmonis antara manusia (masyarakat  desa Tenganan) dengan roh halus yang ada disana.

    3.    Sebagai Arena untuk mempertunjukkan kesejahteraan dan keperwiraan.
    Megaret pandan biasanya dilakukan oleh para laki-laki, karena megaret pandan itu menggambarkan kekuatan dan kejantanan,m aka seyogyanyamemang laki-laki lah yang memainkanya. Megaret pandan yang membutuhkan kekuatan fisit memang sudah identik dengan laki-laki. Biasanya para lelaki sangat antusiasuntuk mengikutinya disebabkan kekuatan seseorang lebih terlihat dengan mengikuti tradisi megaret pandan ini. Mereka bisa saling unjuk kejantanan mereka sebagai seorang laki-laki yang mampu melindungi perempuan dan keluarga dengan kekuatan fisiknya dan juga ketangkasannya dalam melawan apa yang menjadi tantangan bagi diri dan orang-orang disekitarnya, sehingga tidak ada wanita yang memainkan megaret pandan. Karena wanita cenderung takut perang dan megaret pandan memang hanya identik dimainkan oleh laki-laki sebagai simbol kejantanan dan keperwiraan mereka, jadi masyarakat menganggap wanita tidak pantas untuk memainkan megaret pandan.

    4.    Sebagai pariwisata untuk menarik pengunjung.
    Tidak terlepas dari beberapa fungsi megaret pandan sebagai suatu ritual yag sakral dalam keagamaan, tetapi megaret pandan juga memiliki fungsi yang mungkin tidak hubungannya dengan pemujaan atau persembahan kepada dewa indera. Yaitu berfungsi sebagai menarik minat wisatawan yang justru mendukung kelangsungan megaret pandan tersebut. Hampir setiap harinya banyak wisatawan lokal maupun asing yang berdatangan ke desa Tenganan meskipun megaret pandan dilaksanankan satu tahu sekali. Peserta megaret pandan pun yang dulunya hanya dilakukan oleh masyarakat Tenganan sendiri, tetapi sekarang orang dari luar Tenganan maupun asing dapat menjadi peserta. Dan itu salah satu cara masyarakat Tenganan untuk memepekenalkan megaret pandan kepada orang asing.
    Keberlangsungan tersebut kini malah membawa dampak untuk perekonomian masyarakat desa Tenganan itu sendiri. Masyarakat dalam kesempatan ini mempunyai usaha untuk memajukan perekonomian mereka, misalkan saja kerajinan membuat pernak-pernik khas Tenganan seperti.

    ü  Eksistensi Megaret pandan
                            Masyarakat dalam menyikapi perkembangan zaman sangat tertutup dengan perubahan tersebut.Masyarakat tetap memegang teguh dan mempertahankan budaya seperti aslinya karena masyarakat menganggap bahwa budaya tersebut merupakan warisan dari leluhur dan mereka tidak berani merubah dalam artian tidak berani mengurangi maupun menambahkan sesuatu sekecil apapun dari budaya-budaya yang mereka punya.
                Hingga saat ini pun tradisi megaret pandan selalu diterima oleh masyarakat desa Tenganan secara langsung.Masyarakat sangat antusias ketika acara tersebut berlangsung.Tak ada masyarakat yang tidak menerima terhadap tradisi kebudayaan tersebut.Masyarakat Tenganan justru sangat bangga dengan kebudayaan-kebudayaan yang ada di dalam desanya karena kebudayaan mereka menyenangkan, unik dan hanya ada dalam desa tersebut di daerah Bali, terutama megaret pandan itu sendiri. Karena dengan melestarikan kebudayaan tersebut, berarti mereka setia pada Tuhan Yang Maha Esa karena meniru apa yang dilakukan oleh Dewa Indra sebagai dewa perang, juga untuk menghormati Dewa Indra dan mengikuti jalannya dewa Indra ke tempat ia berada. Dewa Indra juga merupakan simbol ibu pertiwi.Megaret pandan merupakan kebudayaan yang berbeda dari kebudayaan lainnya, dan mereka sangat menjunjung tinggi kebudayaan dari leluhur mereka itu. Bahkan dipercayai apabila ada warga yang menentang kebudayaan tersebut seseorang itu akan mudah terkena musibah. Namun tidak ada hukuman langsung dari pihak adat, yang mereka yakini adalah adanya hukuman dari roh-roh yang dipercaya oleh masyarakat Tenganan.
    Hingga saat ini, megaret pandan berusaha untuk dijaga kelestarianya oleh masyarakat desa Aga Tenganan. Megaret pandan yang dimainkan di tanah lapang maupun dibale yang tingginya 1 meter ini telah menarik perhatian masyarakat desa Tenganan dan tidak sedikit pula berhasil menarik perhatian para turis mancanegara. Hingga pada kehidupan sehari-hari, anak-anak desa Tenganan sudah terbiasa bermain Megaret pandan (hanya sekedar untuk bermain). Menurut salah seorang desa Tenganan. Hal itu juga sebagai latihan mempersiapkan dirinya agar terbiasa dan bisa memainkan megaret pandan kelak pada saatnya dewasa. Masyarakat desa Tengana terbuka mengajarkan megaret pandan kepada siapapun, tidak ada latihan khusus bagi anak-anak, namun anak-anaklah yang berinisiatif sendiri untuk memainkan atau meniru bermain megaret pandan. Turis wisatawanpun diperbolehkan untuk memainkan megaret pandan dengan syarat memakai pakaian adat Tenganan.
    Salah satu warga desa Tenganan, I Nyoman Parta Gunawan mengatakan:
    “Tidak ada perubahan sama sekali dalam tata cara, pakaian, dan waktunya. Karena masyarakat tidak berani merubah-rubah apa yang telah di wariskan oleh para leluhur kepada kita. Kita sangat menghormati apa yang telah di berikan oleh para leluhur. Sehingga tidak ada perubahan hingga saat ini.Tak ada penambahan dan pengurangan dalam Megaret pandan ini”.

    Pada kenyataannya saat ini memang tidak ada perubahan secara teknis dalam pelaksanaan megaret pandan, tetapi  megaret pandan yang semula sakral pun menjadi profan, orang luar tidak hanya menonton, namun mereka pun boleh ikut bertarung dan berpartisipasi dalam megaret pandan. Saat ini megaret pandan menjadi penarik Pariwisata dan berpengaruh dalam pemasok perekonomian masyarakat desa Tenangan.














    KESIMPULAN
    Dari paparan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:
    1)      Proses berlangsungnya megaret pandan dilaksanakan pada setiap bulan purnama (antara akhir Juni atau awal Juli) satu tahun sekali, berdasarkan kalender Tenganan, syarat megaret pandan dimainkan oleh laki-laki minimal berusia 8 tahun berni terkena duri (satu kali pertandingan dua orang laki-laki). Peralatan yang diperlukan yaitu daun pandan dan tameng yang terbuat dari rotan.
    2)      Fungsi megaret pandan yaitu sebagai penghormatan kepada dewa indra.
    ·         Sebagai upaya menciptakan keseimbangan antara dunia natural dengan supranatural
    ·         Sebagai arena untuk mempertunjukan kejantanan dan keperwiraan.
    ·         Sebagai fungsi pariwisata
    3)      Eksistensi tradisi megaret pandan yaitu masyarakat desa tenganan berusaha untuk selalu menjaga dan melestarikan tradisi megaret pandan serta selalu akan dilaksanakan setiap tahunya. Secara teknis tidak ada perubahan dalam peraturan megaret pandan, namun saat ini megaret pandan menjadi provan bagi masyarakat Tenganan untuk menarik pariwisata.










    DAFTAR PUSTAKA