Abstrak
Pada awalnya mata pencaharian masyarakat
Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem adalah sebagai petani Akan tetapi, pada perkembangan zaman
serta tingginya pengaruh modernisasi yang dialami masyarakat Desa Tenganan
menjadikan masyarakat di Desa Tenganan mencari alternatif mata pencaharian
lainnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena dirasa menjadi petani tidak
dapat memenuhi kebutuhannya. Masyarakat Tenganan sekarang telah memilih mata pencaharian disektor lain, yaitu
sebagai pengrajin untuk mendukung pariwisata yang diantaranya usaha kerajinan
kain Geringsing, lukisan daun lontar, dan anyaman tumbuhan ate. Perubahan
tersebut mulai terjadi sejak
ditetapkannya Desa Tenganan sebagai salah satu desa wisata adat sekitar tahun
1930 oleh masyarakat Hindia-Belanda. Masyarakat mulai menekuni usaha kerajinan
yang mereka hasilkan kemudian dipajang di rumah dan menjadi komoditas ekonomi
yang bernilai jual tinggi, contohnya kain gringsing yang dijual kepada para
wisatawan yang mengunjungi Tenganan. Kerajinan tenun Kain Geringsing adalah salah
satu kerajinan yang memiliki nilai seni yang tinggi dengan harga jual yang
mahal. Ini disebabkan karena proses pembuatan kain tenun Geringsing membutuhkan
waktu yang lama, serta teknik yang digunakan sangat unik, rumit, sulit dan
hanya dapat dijumpai ditiga lokasi di dunia, seperti di Tenganan (Indonesia),
Jepang, serta di India. Namun setiap motif dari kain gringsing memiliki arti
tersendiri dalam upacara keagamaan. Dalam perkembangannya produksi kerajinan
tersebut menjadi sumber ekonomi utama masyarakat, akan tetapi berdasarkan data
statistika nasional dari tahun 2008 sampai 2012 terjadi fruktuasi jumlah
pengunjung. Dari hal tersebut kami melakukan penelitian lebih dalam mengenai
jenis mata pencaharian utama masyarakat Tenganan? Dan kelanjutan dari pariwisata
di Tenganan? Berkaitan pula dengan sistem Jaringan Ekowisata Desa yang
diharapkan mampu menjadikan masyarakat Tenganan tidak selalu menggantungkan
wisatawan yang datang ke Tenganan.
Kata Kunci: Mata pencaharian, ekonomi, pariwisata.
Abstract
At first the
people's livelihood Tenganan Village, District Manggis, Karangasem regency is a
farmer, however, at the times and the high influence of modernization
experienced by people in the community to make Tenganan Village Tenganan seek
other livelihood alternatives to meet their daily needs because it is felt to
be farmers can not meet their needs. Tenganan community now have chosen other
livelihood sectors, namely as a craftsman to support tourism businesses
including fabric crafts grimace, palm leaf paintings, and woven ate plants. The
changes began to occur after the issuance of Tenganan village as one of the
tourist village of indigenous communities around the year 1930 by the Dutch
East Indies. People are starting to pursue the craft that they produced and
then displayed at home and become an economic commodity that high value, for
example gringsing fabrics are sold to the tourists who visit Tenganan. Cloth
weaving craft Geringsing is one craft that has high artistic value with an
expensive price. This is because the process of manufacture of woven fabrics
grimace took a long time, as well as the techniques used are very unique,
complicated, difficult and can only be found ditiga locations in the world,
like in Tenganan (Indonesia), Japan, as well as in India. But every motive of
gringsing fabric has a special meaning in religious ceremonies. In the
development of craft production is a major economic source of society, but
based on national statistics from 2008 to 2012 occurred fruktuasi number of visitors.
From this we do more research on the type of main livelihood Tenganan
community? And the continuation of tourism in Tenganan? Also related to the
Village Ecotourism Network system is expected to make Tenganan community is not
always rely tourists coming to Tenganan.
Keywords:
livelihoods, economy, tourism.
Pendahuluan
Masyarakat
Bali sangat menarik perhatian mata dunia, dengan segala keindahan alamnya yang
tidak diragukan lagi. Keunikan dan kekhasan yang dimiliki, terlebih di bidang
sosial dan budayanya. Di era yang modern ini masyarakat Bali tetap menjaga kuat
tradisi leluhur mereka dengan tetap menjalankan ritual Hindu yang kental
ditambah seni budaya yang beraneka ragam dan memiliki nilai estetika yang
tinggi seperti kerajinan ukir yang hampir bisa dijumpai pada setiap rumah yang
ada di Bali. Kemudian ada pula lukisan yang khas, adat-istiadat yang masih
dengan mudah dijumpai pada masyarakat Desa Tenganan Bali.
Wisata
di Tenganan sudah di perkenalkan sejak jaman pemerintahan Hindia-Belanda tahun
1930, kemudian pada tahun 1960 Tenganan ditetapkan sebagai daerah tujuan budaya
oleh pemerintah Indonesia. Pesatnya pariwisata di Tenganan memberikan pengaruh
yang nyata bagi masyarakat Tenganan. Sektor pariwisata menjadi sumber ekonomi
yang sangat diandalkan Mayoritas dari masyarakat
Tenganan bekerja sebagai pengerajin, seperti kain tenun gringsing, lukisan
lontar dan pembuat kerajianan ata. Kerajinan Tenganan seperti kain tenun
gringsing dan ata telah meramba pasar dunia, banyak pesanan berdatangan dari
luar maunpun dalam negeri. Sehingga sektor pariwisata dianggap lebih
menguntungkan dan mampu meningkatkan taraf ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan
sektor pertanian. Namun, berdasarkan data Badan Statistik menunjukan terjadinya
fruktuasi jumlah wisatawan yang datang ke Bali dari tahun 2007 sampai 2011.
Berkaitan dengan hal tersebut, kami melakukan pengamatan dan penelitian secara
langsung untuk mendapatkan data tentang jenis mata pencaharian masyarakat Tenganan? dan kelanjutan
pariwisata di Tenganan sebagai sumber ekonomi masyarakat ? Metode yang digunakan untuk mengetahui hal tersebut
adalah dengan menerapkan metode penelitian kualitatif yaitu dengan melakukan
wawancara dan obsevasi langsung ke
Desa Tenganan Pegringsingan, Bali. Dari penelitian yang dilakukan penulis dapat
mengetahui jenis mata pencaharian masyarakat Tenganan khususnya yang berkaitan
dengan pariwisata dan kelanjutan dari pariwisata di Desa Tenganan.
A.
Jenis Mata
Pencaharian Masyarakat Tenganan
Desa Tenganan terletak
di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem di sebelah timur pulau Bali. Desa
Tenganan berada di antaradua bukit yaitu Bukit Barat (Bukit Kauh) dan Bukit
Timur (Bukit Kangin). Jenis tanah yang ada di Tenganan adalah tanah yang subur
dan baik untuk bercocok tanam, sehingga banyak masyarakatnya yang berprofesi
sebagai petani (I nyoman Sandra : 2008). Sejak ditetapkannya Desa Tenganan
sebagai salah satu tujuan wisata pada tahun 60-an ketika masa pemerintahan
Soekarno menjadikan Tenganan mulai didatangi oleh para wisatawan dari luar
maupun dalam negeri. Tenganan memiliki
keunikan budaya yang jarang di temui di masyarakat Bali umumnya, masyarakatnya
masih menjaga kuad adat istiadat seperti bentuk rumah, memiliki aturan
tersendiri atau awig-awig dan tetap melaksanakan tradisi seperti perang pandan
atau upacara keagamaan lain yang menjadikan banyak wisatawan berkunjung ke
Teganan untuk melihat langsung keunikan yang dimiliki masyaraat Tenganan.
Pesatnya pariwisata Tenganan pada tahun 1980 menjadikan masyarakatnya memiliki
mata pencaharian ganda, yaitu sebagai petani dan pengerajin untuk daerah wisata
(I nyoman Sandra : 2008 ). Para petani yang awalnya rajin mendatangi sawah
mereka dan berbincang dengan penggarap, sekarang masyarakat tidak terlalu
memperdulikan berapa jumlah hasil panen yang dihasilkan oleh para penggarap.Hal
itu terjadi karena banyak dari masyarakat lebih menekuni mata perekonomian dari
sektor pariwisata yang lebih menjanjikan. Hal ini menunjukan pengaruh
parawisata terhadap jenis mata pencaharian masyarakat Tenganan. Lebih lanjut
secara rinci tentang gambaran mata pencaharian masyarakat Tenganan, yaitu:
1.
Pertanian
Pertanian tidak dapat dilepaskan dari masyakat
Indonesia. Hampir setiap wilayah di Indonesia
memiliki lahan pertanian. Indonesia dikenal sebagai negara agraris
karena struktur tanah dan iklimnya mendukung untuk bercocok tanam, berdasarkan
pernyataan bapak kepala Desa setempat
masyarakat Tenganan yang memiliki lahan seluas 917,5 hektar dengan pembagian
wilayahnya menjadi 8% pemukiman penduduk, 22% wilayahnya adalah
sawah dan sampai saat ini beberapa masyarakatnya bekerja sebagai petani,
terutama mereka yang tinggal di Banjar Kauh dan Banjar Tengah Tenganan.
Letak sawah yang ada di
Tenganan berada jauh di belakang bukit, menjadikan para petani di Tenganan
tidak menggarap sendiri sawahnya. Para petani di Tenganan sebagai tuan tanah
atau pemilik lahan. Para petani Tenganan memperkerjakan penduduk luar Tenganan
untuk menggarap sawah mereka yang disebut penyakap atau penggarap. Para pemilik tanah hanya berperan
sebagai penyedia modal, pembayaran pajak bumi dan bangunan, serta mengatur
sistem pengairannya. Selebihnya para petani mereka mempercayakan pengelolaan
sawahnya kepada penyakap. Para penyakap melakukan penggarapan atas
perintah dari tuan tanah atau pemilik lahan. Pembagian hasil panen diatur dalam
aturan desa yang disebut sebagai sistem nyakap
atau di Jawa sering disebut sistem paro.
Sistem nyakap membagi hasil panen
dengan sebagian atau 50% untuk pemilik tanah dan 50% untuk penggarap atau penyakap. Namun, sekarang sistem
perbandingan pembagian hasil yang
digunakan sesuai kesepakatan antara pemilik sawah dan penyakap. Hasil panen padi berupa gabah di bagi sesuai kesepakatan awal. Para petani menjual hasil panen
sawahnya dalam bentuk gabah kepada pengepul, mereka lebih memilih membeli beras
di toko atau di pasar agar lebih praktis. Padahal dahulu masyarakat Desa
Tenganan memiliki lumbung padi, yang digunakan untuk menyimpan padi sebagai
cadangan makanan masyarakat Tenganan, dan
seluruh hasil panen mereka konsumsi sendiri. Namun, sekarang lumbung – lumbung
padi milik warga tidak berfungsi lagi, karena warga lebih memilih membeli beras
di luar Tenganan.
Masyarakat Desa
Tenganan masih menjaga kuat keyakinan dan tradisi mereka sampai saat ini. Setiap sendi
kehidupan masyakatnya tidak terlepas dari
pengaruh tradisi yang mereka jalani. Para petani di Tenganan tidak
menjual lahan sawah mereka kepada orang lain atau kepada para penyekap, karena di Tenganan para tuan
tanah mentaati aturan dalam awig-awig yang melarang penjualan tanah
Tenganan. Para leluhur Tenganan beralasan sebab larangan menjual lahan untuk
mempertahankan luas wilayah Tenganan . Sampai saat inipun jumlah wilayah dulu
sampai sekarang tetap 917,5 hektar.
2.
Pengrajin Kain Tenun
a.
SejarahKain
Tenun Gringsing
Secara
etimologi kata Gringsing berasal bahasa Bali lokal
yang terdiri dari dua kata yaitu, katagering
yang berarti 'sakit' dan sing yang
berarti 'tidak'. Jadi secara harafiah kain
Gringsing berarti “tidak
sakit”.
Maksud yang terkandung di dalam kata tersebut adalah penolak bala, yaitu dapat
mengantisipasi dan menyembuhkan penyakit. Baik itu fisiknya maupun rohaniahnya.
Kain
Gringsing mempunyai fungsi visual maupun
fungsi magic pada masyarakat desa
Tenganan. Penggunaan kain Gringsing salah satunya tradisi perang Pandan, ritus
penghormatan kepada Dewa Indra selalu menggunakan kain Gringsing. Pada saat
upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lain, dilakukan dengan
bersandar pada kekuatan kain Gringsing.
Malcolm
Barnard mengemukakan bermacam-macam fungsi dari kain, yang salah satunya untuk
menunjukkan kondisi magis-religius. Praktik-praktik magis dan religius
bergantung pada unsur-unsur tertentu seperti status resmi yang baku atau
anugerah Tuhan, dihargai tinggi dalam tradisinya untuk menjaga tatanan, serta
menunjuk pemakaian jimat dan hiasan
magis lain untuk menangkal kekuatan-kekuatan dengki spiritual dan magis
(Barnard,1996:95). Sesuai dengan mitos yang hidup dalam tatanan masyarakat
Tenganan, kain Gringsing dipercaya sebagai kain yang berfungsi tolak bala dari segala penyakit bagi pemakainya.
Pada
tahun 1984, Urs Ramseyer (1984) dalam tulisannya yang berjudul Clothing,
Ritual and Society in Tenganan Pegeringsingan Bali menyatakan bahwa
masyarakat Tenganan sebagai sesama penganut Dewa Indra (Dewa Perang) merupakan
imigran dari India kuno. Imigran tersebut membawa teknik dobel ikat melalui
pelayaran dari Orrisa atau Andhra Pradeshdan
mengembangkan teknik tersebut secara independent
di DesaTenganan. Kemudian para imigran
menguraikan kutipan-kutipan dari beberapa jenis tenun patola untuk dikembangkan
di Bali. Kain Patola adalah jenis tenunan ikat ganda terbaik dari Gujarat di
India Utara.
b.
Jenis Tenun Gringsing
Pada zaman
dahulu, ragam jenis tenun Geringsing ada 20 jenis. Namun kini yang masih
dikerjakan hanya 7jenis saja, yaitu:
1)
Geringsing
Lubeng
Geringsing Lubeng terdiri dari Gringsing
Lubeng Luhur, Gringsing Lubeng Petang Dasa dan Gringsing Lubeng Pat Likur.
Motifnya bernama Lubeng dan kekhasannya adalah berisi kalajengking. Lubeng
Luhur ukurannya paling panjang dengan 3 bunga berbentuk kalajengking yang masih
utuh bentuknya.
2) Geringsing Sanan Empeg
Geringsing Sanan Empeg fungsi sebagai sarana upacara keagamaan dan adat,
yaitu sebagai pelengkap sesajian bagi masyarakat Tenganan Pegeringsingan. Ciri
khas dan motif Sanan Empeg adalah adanya tiga bentuk kotak-kotak/poleng
berwarna merah dan hitam.
3)
Geringsing
Cecempakan
Geringsing Cecempakan bermotif bunga cempaka. Jenis Geringsing Cecempakan
terdiri dari Gringsing Cecempakan Petang Dasa (ukuran empat puluh), Geringsing
Cecempakan Putri, dan Geringsing Cecempakan Pat Likur (ukuran 24 benang).
Fungsi Geringsing Cecempakan adalah sebagai busana adat dan upacara agama.
4) Geringsing Cemplong
Motif Geringsing Cemplong adalah bunga-bunga besar diantara bunga-bunga
kecil seolah-olah ada kekosongan/lobang-lobang diantara bunga dan terlihat
cemplong. Jenis Geringsing Cemplong adalah ukuran Pat Likur (24 benang),
senteng/anteng (busana di pinggang wanita), dan ukuran Petang Dasa (40 benang).
Namun ukuran Petang Dasa sudah hampir punah. Fungsi Geringsing cemplong adalah
sebagai busana adat dan upacara agama.
5)
Geringsing
Isi
Pada Geringsing Isi ini motifnya semua berisi atau penuh, tidak ada
bagian kain yang kosong. Ukuran yang ada hanya ukuran Pat Likur (24 benang) dan
berfungsi untuk sarana upacara, bukan untuk busana.
6) Geringsing Batun Tuung
Batun Tuung artinya biji terong. Dengan demikian pada Geringsing Batun
Tuung motifnya penuh dengan biji-biji terong. Ukurannya tidak besar, untuk
senteng (selendang) pada wanita dan untuk sabuk (ikat pinggang) tubumuhan bagi
pria. Jenis Geringsing ini sudah hampir punah.
Perlu
diketahui bahwa pada semua kain Geringsing (double
ikat) pasti ada “telupuhnya” (motif pinggirnya) dan juga “penekek” (bagian
paling pinggir). Kadang-kadang diisi pula tambang, “tetubahan” semacam hiasan
kreasi di pinggir kain sesuai selera pembuat.
7) Geringsing Wayang
c.
Proses Produksi
dan Distribusi Kain Gringsing
Proses
pembuatan kain Gringsing dari awal hingga akhir dikerjakan secara manual
menggunakan tangan. Benang yang digunakan merupakan hasil pintalan tangan
dengan alat pintal tradisional, bukan mesin. Benang tersebut diperoleh dari
kapuk berbiji satu yang didatangkan dari Nusa Penida
(pulau yang terletak di
sebelah tenggara Bali yang dipisahkan oleh Selat Badung),
karena hanya di tempat tersebut bisa didapatkan kapuk
berbiji satu. Setelah selesai dipintal, benang akan mengalami proses perendaman
dalam minyak kemiri sebelum dilanjutkan ke proses ikat dan pewarnaan.
Perendaman tersebut bisa berlangsung lebih dari 40 hari hingga maksimum satu
tahun dengan penggantian air rendaman setiap 25-49 hari. Semakin lama
perendaman, benang akan makin kuat dan lebih lembut.
Tenun
Gringsing terbuat dari benang kapas yang ditenun menggunakan teknik double ikat, yaitu teknik dengan
mengikatkan benang lungsi dan benang pakan secara bersamaan. Teknik ini dikenal
sangat langka, karena akan membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan satu
lembar kain, berkisar antara 1-5 tahun. Di Asia hanya (Tenganan)Indonesia, Jepang dan India yang masih menerapkan teknik tenun ganda ini. Hingga tidak aneh jika kain tenun
Gringsing ini memiliki harga yang sangat mahal.
Berdasarkan
sumber informan Ni Nengah Suwastini yang berusia sekitar 40 tahunan mengatakan
rapi
dan “ pembuatan kain Gringsing dari awal itu membutuhkan waktu sekitar satu
tahun. Proses yang cukup panjang tidak seperti batik. Bahan pewarna yang
digunakan pun dari alam semua tidak menggunakan bahan pewarna buatan/kimia.
Warna alami itu bisa menjadi warna yang sempurna (bagus dan tahan lama). Kain
yang di buat itu dengan 3 warna, yaitu warna merah, hitam, dan kuning. Warna
merah di ambil dari kulit akar mengkudu, warna hitam dari daun tarung yang
warna awalnya itu biru, dan yang terakhir warna kuning dari minyak kemiri.”
Supaya
kain dapat bertahan lama sebelum ditenun, benang-benang yang sudah ditata sudah
diberi warna, kemudian diberi bubur beras putih, hal ini
membutuhkan ketelatenan karena harus disisir dan diangin-anginkan dengan panas
sinar matahari sampai kering supaya tidak menggumpal. Selain itu manfaaat dari
pemberian bubur beras itu agar benangnya mejadi kuat.
Pengerjaan
kain Gringsing ini sudah sangat spesifik, ada yang
bagian memintal benang, pewarnaan, pengikatan benang, dan proses terakhir
adalah menenun. Pekerjaan ini biasanaya dilakukan oleh ibu – ibu rumah tangga
dan anak perempuan. Kain gringsing yang bagus harganyanya di atas sepuluh juta rupiah, pada proses penenunannya itu
dilakukan oleh ahlinya sendiri biasanya untuk tenun yang bagus upah tenunnya di
atas satu juta lima ratus ribu rupiah”.
Namun
bila kain Grinsing mengalami kegagalan dalam produksi seperti warna yang di
inginkan pemesan tidak sesuai dengan hasil akhir, pengrajin mengalami kerugian.
Pembeli hanya akan membeli kain ini dengan harga
yang murah atau bahkan tidak jadi membeli. Akhirnya kain ini di jual kepada
masyarakat biasa dengan harga yang juga murah. Untuk itu bagi mereka yang
diminta untuk membuat kain Grinsing ini
harus hati- hati dan juga teliti agar
bisa menghasilkan kain yang sempurna.
Informan
lain yaitu I Nengah Wartawan (alumni antropologi UDAYANA) suami dari Ni Nengah
Suwartini menuturkan
:
“pada bulan februari ada upacara yang biasanya memakai
pakaian adat dan pakaian adat tersebut biasanya memakai kain Gringsing yang
telah berumur ratusan tahun. Karena didalamnya terdapat suatu gengsi
tersendiri. Semakin tua usia kain yang mereka gunakan itu mereka semakin
disegani atau dihormati. Karena semakin tua usia kain maka, semakin mahal harga
suatu kain tersebut. Jika mereka tak mempunyai kain yang sudah tua mereka akan
menggunakan kain yang baru namun mereka kurang dihormati. “
Jadi
dapat disimpulkan bahwa penggunaan kain Gringsing yang ada pada masyarakat Desa
Tenganan Bali, dijadikan tolak ukur stratifikasi sosial (semakin tinggi
kedudukan suatu individu semakin lama umur kain tenun Gringsing yang digunakan)
walaupun, dari berbagai sumber mengatakan tidak
ada penggolongan-penggolongan semacam kasta, akan tetapi dalam pemakaian jenis
kain gringsing ketika masyarakat menjalankan ritual adat atau upacara-upacara
adat akan sangat tampak pembedannya.. Ini dilakukan sejak dahulu dan turun
temurun.
Hampir
setiap keluarga di Desa Tenganan ini memiliki kain warisan dari leluhur. Kain
yang usianya ratusan tahun memiliki nilai yang sangat tinggi. Berkisar mulai
ratusan juta rupiah sampai milyaran rupiah, semakin tua usia sebuah kain
gringsing dan semakin sulit motif pada kain gringsing itu maka harganya pun
akan semakin tinggi.
d.
Cara Perawatan
Kain Gringsing
Penyimpanan
kain Gringsing sangat perlu diperhatikan, kain harus ditempatkan pada kotak
yang rapat dan di dalamnya diberi kapur barus supaya tidak ada kutu yang akan
menghancurkan kualitas kain tersebut. Kain juga tidak perlu dicuci, setelah
dipakai cukup di angin-anginkan. Jika memang sudah kotor dicuci menggunakan air
hujan saja tanpa menggunnakan deterjen. Perawatan kain Gringsing ini memang
harus sangat hati-hati dikarenakan takut mempengaruhi kualitas kain. Kain
Gringsing yang paling mahal adalah jenis Gringsing wayang, kain Gringsing jenis
ini harganya hingga mencapai milyaran rupiah hal ini disebabkan karena
masyarakat Tenganan sudah tidak bisa membuatnya, mereka sangat kesusahan dalam
membuat motif ragam hias yang serupa dengan kain Gringsing Wayang. Kain
Gringsing wayang dibuat oleh para leluhur masyarakat Desa Tenganan.
3.
Kerajinan Lontar
Anyaman
lontar
adalah
anyaman
yang dibuat
dari
daun
lontar
dan
sudah
berkembang
sejak
zaman
dahulu.
Daun lontar bagi orang Bali memegang peran penting untuk sarana informasi dan
komunikasi. Artinya, sebelum ditemukannya buku tulis (kertas) sebagai alat
untuk menulis, orang Bali
memanfaatkandaunlontarsebagaialatuntukmenulis.
Tradisi
menulis di atas daun lontar merupakan tradisi kuno yang dilakukan oleh nenek
moyang masyarakat Bali sejak ratusan tahun yang laludan masih bertahan
hingga sekarang. Tradisi ini masih dilestarikan terutama untuk kebutuhan
menulis awig-awig adat (aturan-aturan desa).
Ada tiga jenis lontar yang ada diDesaTenganan Bali yaitu lontarjenisPetapulau Bali, lontarjenisPrimbon
(kelahiran),
dan
lontarjenisjodoh
Usada (alat petunjuk pengobatan). Lontar jenis Usada
dibagi menjadi dua yaitu ada jenis Lontar usada sari dan lontar usada punggung
tiwas. Lontar Tenung (tindik sejati) digunakan untuk meramal atau mendeteksi
suatu penyakit atau untuk mendeteksi keberadaan seseorang yang hilang secara
gaib.
a.
Proses Produksi Kerajinan Daun
Lontar
Proses
produksi kerajinan daun Lontar masih terus berjalan sampai sekarang. Pertama, daun-daun pohon siwalan
dipetik dari pohon. Pemetikan biasa dilakukan pada bulan Maret/April atau September/Oktober karena
daun-daun pada masa ini sudah tua. Kemudian daun-daun dipotong secara kasar dan
dijemur menggunakan panas matahari. Proses ini membuat warna daun yang semula
hijau menjadi kekuningan. kemudian daun-daun yang telah berubah warna, direndam
di dalam air yang mengalir selama beberapa hari dan kemudian digosok sampai
bersih dengan kain atau serabut kelapa. Setelah itu, daun-daun dijemur,kemudian
dipotong, dan diikat. Lalu lidi yang terdapat pada daun Lontar juga dipotong
dan dibuang.Setelah kering daun-daun lalu direbus dalam sebuah kuali besar
dicampur dengan beberapa ramuan. Hal inibertujuan untuk membersihkan daun-daun
dari sisa kotoran dan melestarikan struktur daun supaya tetap baik.Setelah
direbus lebih kurang selama 8 jam kemudian daun-daun diangkat dan dijemur
kembali di atas tanah.
Pada sore hari
daun-daun diambil. Kemudian, tanah di bawah dedaunan dibasahi dengan air
kemudian daun-daun ditaruh kembali supaya lembap dan menjadi lurus. Keesokan
harinya diambil dan dibersihkan dengan sebuah lap.Daun-daun tersebut ditumpuk
dan dipres pada sebuah alat yang di Bali disebut sebagai pamlagbagan. Alat ini merupakan
penjepit kayu yang berukuran sangat besar. Daun-daun ini dipres selama kurang
lebih enam bulan. Namun setiap dua minggu diangkat dan dibersihkan.Setelah itu
daun-daun dipotong lagi sesuai ukuran yang diminta dan diberi tiga lubang. Tiga
lubang itu adalahlubang yang berada di ujung kiri, tengah, dan ujung kanan.
Jarak dari lubang tengah ke ujung kiri harus lebih pendek daripada ke ujung
kanan. Hal ini dimaksudkan sebagai penanda pada saat penulisan nanti.Tepi-tepi
lontar juga dicat, biasanya dengan cat warna merah. Lontar yang siap ditulisi
disebut dengan istilah pepesan dalam bahasa Bali
dan sebuah lembar lontar disebut sebagai lempir.
Para
pengerajin melukis dengan pensil lalu di ukir sesuai motif menggunakan pisau,
kemudian digosokan buah kemiri bakar untuk memberi warna pada lontar yang telah
diukir. Buah kemiri diusap dengan kain maka gambar yang telah diukir akan
menampakkan warna hitam yang memperindah dan mempertegas ukiran. Mereka memilih
kemiri sebagai bahan bakar karena warnanya tahan lama dan tidak mudah pudar.
a. Pemasaran Kerajinan Daun Lontar
Para
penjual menjualkan hasil karyanya sesuai dengan tingkat kesulitan gambar atau
ukiran dan ukuran panjang atau pendeknya daun lontar tersebut. Jadi semakin
rumit dan semakin panjang ukuran daun lontar maka harga jualnya juga semakin
tinggi.
Biasanya
harga jual antara masyarakat dalam negeri dengan wisatawan luar negeri berbeda.
Mereka menjual kapada masyarakat dalam negeri sekitar Rp 100.000,00 (sertusribu
rupiah) hingga Rp 150.000,00 (seratuslimapuluh ribu rupiah). Akan tetapi mereka
menjual kepada wisatawan luar negeri jauh lebih mahal yaitu sekitar harga Rp
300.000,00 (tigaratus ribu rupiah) hingga Rp 400.000,00 (empatratus ribu
rupiah). Hal ini dikarenakan wisatawan luar negeri yang menyukai seni tidak
mempermasalahkan soal harga. Selain itu seni ini jarang ditemukan di tempat
lain. Oleh karena itu bagi para pengunjung banyak yang membeli kerajinan lukis
ini sebagai oleh- oleh.
b. Kerajianan Ata
Desa
Tenganan sebagai desa wisata adat, dengan kerajinankain yang terkenal di dalam
dan luar negeri. Hal yang menarik di Tenganan seperti seni kerajinan semakin di
gemari. Salah satu kerajinan yang di gamari adalah kerajiana ata. Pada awalnya hasil kerajianan
ata ini di kerjakan dan dikenalkan oleh I Nengah Kedep yang berasal dari Desa
Tenganan. Anyaman yang pertama kali dibuat berbentuk sederhana berupa bentuk
bola yang digunakan sebagai gantungan kunci.
Kerajinan
ata berasal dari tumbuhan ata atau hata dari keluarga paku-pakuan. Tanaman ata
dahulu banyak ditemukan di Tegalan, pinggir jurang atau sungai di sekitar
perbukitan Karangasem. Namun tanaman ate sekarang sulit ditemukan. Hal ini dikarenakan
banyaknya pemburu liar tanaman ata oleh pengrajin ata lainnya selain itu,
tanaman yang tumbuh di Bali berukuran lebih kecil di banding yang ada Jawa dan
Flores. Sehingga, para pengrajin ata
mendatangkan bahan baku dari luar Bali seperti Jawa, Flores dan Sumatra.
Sepintas
kerajinan ata mirip seperti kerajianan ketak Lombok. Bedanya kerajianan ketak
memiliki rangka yang terbuat dari rotan yang dililit anyaman ata. Sedangkan
kerajianan ate Tenganan tidak memiliki kerangka dan hanya menggunkan bahan aae
saja. Proses pembuatan kerajianan ata cukup rumit dan membutuhkan kesabaran
tinggi. Proses pembuatan diawali dengan menganyam tumbuhan ata yang telah
dikeringkan baik menggunakan proses penjemuran atau proses pengovenan. Bentuk
yang dibuat sesuai dengan permintaan pasar. Kemudian anyaman yang telah
dibentuk di jemur kembali diatas terik matahari
agar lebih kuat dan warnanya lebih kecoklatan.
Bentuk
Kerajinan Ata yang dihasilkan mulai dari tas, pajangan pot bunga, taplak meja,
keranjang tempat pakaian (laundry basket),bokor, cindera
mata untuk pernikahan, keranjang sampah, tempat tisu, tempat permen, alas
piring dan gelas. Motif yang dibuat
bermacam-macam seperti motif polos, segi tiga, dan motif bunga.Warna asli daun
ata adalah coklat dengan variasi warna hitam di dapatkan dari akar ata yang
telah dikeringkan.Metode
yang digunakan untuk mengetahui hal tersebut adalah dengan menerapkan
metode penelitian kualitatif yaitu dengan melakukan wawancara dan obsevasi
langsung ke Desa Tenganan Pegringsingan, Bali. Dari penelitian yang dilakukan
penulis dapat menetahui bagaimana perkembangan pariwisata yang ada di Tenganan
dan mengetahui ancaman-ancaman yang
dialami masyarakat Tenganan dari perkembangan wisata yang ada di Tenganan.
Dalam
produksi kerajinan ata biasanya ada pemilik modal atau pengepul yang
memperkerjakan para ibu rumah tangga di Desa Tenganan. Para pengrajin dibayar
sesuai dengan jumlah ata yang dibuat. Dalam sehari pengerajin mampu
menghasilkan tiga sampai lima kerajinan yang berukuran kecil, dan tiga sampai lima jenis anyaman besar
dalam waktu seminggu. Selain para Ibu rumah tangga yang dipekerjakan oleh
pemilik modal, beberapa pengrajin juga memproduksi dan memasarkan sendiri atau independent hasilnya. Para pengrajin Independent mendapatkan bahan bakunya
tidak dari penengepul namun, membeli sendiri bahan baku dari pasar.
Kerajinan
Ata merupakan kerajinan tangan yang terlihat eksotik, alami, dan tidak mudah
rusak sehingga banyak diminati wisatawan dalam dan luar negeri. Para produsen
memasarkan hasil kerajinan mereka di depan rumah yang difungsikan sebagai artshop, terutama pengerajin yang berada
di Banjar Kauh. Pesanan juga datang dari luar negeri seperti Jepang, Korea,
Australia, dan negara asal para turis yang datang ke Tenganan.
Kerajianan
Ata secara langsung berdampak pada perekonomi masyarakat Tenganan karena
menjadi salah satu komoditas ekonomi lokal Tenganan. Namun, Ada beberapa
kendala yang dihadapi para pengerajin Ata di Tenganan diantaranya :
1. Jumlah tumbuhan ata
yang sulit untuk di dapat terutama adanya pembatasan pemasokan Ata dari
Sumatra.
2. Faktor cuaca yang
kurang bersahabat dan tidak menentu sehingga, menghambat proses penjemuran Ata.
3. Bertambahanya
kebutuhan pokok. Hal ini menjadikan beberapa pengerajin beralih ke profesi lain
untuk memenuhi kebutuhan.
Kendala yang dihadapi
oleh para pengrajin, terutama pada keterbatasan jumlah bahan baku ata. Padahal
komuditas ekonomi lokal ini menjadi salah satu andalan sumber pendapatan
masyarakat Tenganan
B.
Sektor
pariwisata sebagai sumber ekonomi masyarat Tenganan
Sektor
pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan di Bali. Segala
daya tarik Pulau Bali baik alam, tradisi dan seni, serta budayanya banyak mengundang
decak kagum masyarakat dunia. Banyak turis dalam dan luar negeri menjadikan
Bali sebagai salah satu tujuan favorit untuk berwisata. Awal berkembanagnya
pariwisata di Bali setelah pemerintah Hindia Belanda mendatangkan 213 orang
turis dari KPM, salah satu agen travel
tahun 1924,(Picard, 1996: 25). Berdasarkan data statistik jumlah wisatawan yang
datang ke Bali selama tahun 2007 – 2011 mengalami fluktuasi, yaitu datatabel 1
sebagai berikut :
B u l a n
|
T a h u n
|
|||||
2007
|
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
||
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
(6)
|
|
1
|
Januari
|
109 875
|
147 799
|
174 541
|
179 273
|
209 093
|
2.
|
Pebruari
|
118 483
|
161 776
|
147 704
|
191 926
|
207 195
|
3.
|
M a r e t
|
119 458
|
160 708
|
168 205
|
192 579
|
207 907
|
4.
|
A p r i l
|
125 393
|
154 911
|
188 776
|
184 907
|
224 704
|
5.
|
M e i
|
129 039
|
167 463
|
190 803
|
203 388
|
209 058
|
6.
|
J u n i
|
145 500
|
178 404
|
200 566
|
228 045
|
245 652
|
7.
|
J u l i
|
164 972
|
190 854
|
235 198
|
254 907
|
283 524
|
8.
|
Agustus
|
167 031
|
195 549
|
232 255
|
243 154
|
258 377
|
9.
|
September
|
152 804
|
189 346
|
218 443
|
240 947
|
258 440
|
10.
|
Oktober
|
146 385
|
189 234
|
221 282
|
229 904
|
247 565
|
11.
|
Nopember
|
142 124
|
173 077
|
184 803
|
199 861
|
221 603
|
12.
|
Desember
|
147 467
|
175 963
|
222 546
|
227 251
|
253 591
|
J u m l ah :
|
1 668 531
|
2 085 084
|
2 385 122
|
2 576 142
|
2 826 709
|
|
Pertumbuhan (%)
|
32.16
|
24.97
|
14.39
|
8.01
|
9.73
|
|
Sumber: Bali Dalam Angka 2012
|
||||||
Selain
dikenal sebagai daerah wisata adat, Tenganan juga terkenal sebagai penghasil
berbagi jenis kerajinan yang unik dan
berkualitas tinggi, seperti kain tenun Gringsing merupakan salah satu
kain langka yang hanya bisa ditemukan di Bali, India dan Jepang. Nilai jual
kain Gringsing tergolong tinggi. Hal ini dikarenakan proses pembuatannya yang
rumit dan lama. Adanya kelebihan kain tenun gringsing Tenganan tersebut,
menjadikan semakin banyaknya pengerajin tenun Gringsing di Tenganan. Begitu
juga dengan berbagai pengerajin lain seperti pengerajin lontar, dan pengerajin
ata. Mereka menggantungkan
hidup mereka dari penjualan hasil kerajinan yang mereka produksi. Hal ini
menunjukan masyarakat Tenganan mulai menjadikan sektor pariwisata sebagai
sumber ekonomi utama. Banyak-sedikitnya wisatawan akan mempengaruhi pendapat
daerah Bali umumnya dan pendapatan masyarakat Tenganan pada khususnya. Namun apabila dilihat dari data statistika, jumlahwisatawan
yang dating ke Bali mengalami fluktuasi bahkan menurun drastic sejak tahun 2008. Hal tersebut yang mesti nyamen dapat perhatian lebih, karena tidak selamanya masyarakat bisa bergantungdariparawisatawan. Sektorpertanian yang
kurangdiperdulikansudahsaatnyauntuk di kembangkan secara lebih lanjut agar sumbere konomi masyarakat tidak selalu bergantung dari wisatawan yang datang saja. Larangan dalam awig– awig, yang salah satuisinya melarang masyarak at untuk menjual tanah membuka peluang bagi masyarakat untuk tetap mempertahankan dan mengelola lahan yang mereka miliki sebagai sumber mata pencahari antra disionalmasyarakat Tenganan.
Kesimpulan
Letak
geografis Desa Tenganan yang berada di daerah perbukitan, menjadikan sumber
ekonomi utama masyarakat berpusat pada sektor pertanian dan mayoritas warga
Tenganan bekerja sebagai petani. Namun, sejak ditetapkannya Tenganan sebagai
daerah wisata adat menjadikan masyarakat memiliki mata pencaharian ganda yaitu
bekerja sebagai petani dan berkerja dalam suatu kepariwisataan, seperti
pengerajin kain Gringsing, pengerajin Lontar dan pengerajin Ata. Sektor wisata
menjadikan hampir seluruh masyarakat Tenganan menggantungkan hidup masyarakat
dari pembuatan dan penjualan kerajinan. Perkembangan yang pesat pada sektor
pariwisata masyarakat Tenganan mengakibatkan masyarakat Tenganan tidak terlalu
peduli dengan sawah mereka. Hal ini dibuktikan dengan cara pengolahan sawah
dengan menyerahkan garapan sawah kepada penyakap.Sektor
pariwisata dipandang lebih menguntungkan dan menjajanjikan, karena mereka hanya
membuat dan memasarkan hasil kerajinan di rumah yang difungsikan sebagai artshop. Namun, berdasarkan dari data
statistika Bali tahun 2008 yang menunjukan jumlah wisatawan yang datang di Bali
bersifat Fluktuatif bahkan bisa dikatakan menurun drastis sejak tahun 2008. Hal
ini menggambarkan bahwa masyarakat tidak bisa selamanya menggantungkan hidup
mereka dari sektor pariwisata saja.
Nenek moyang masyarakat Tenganan yang melarang penjualan lahan yang diatur dalam
awig – awig, dapat dijadikan sebagai solusi. Sektor pertanian yang sebelumnya
tidak terlalu di perdulikan akan menjadi solusi
ketika penurunan pengunjung wisata. Ditambah dengan pengembangan program
Jaringan Ekowisata Desa ( JET ) yang mengkolaborasikan antara pengembangan
pertanian dengan pariwisata. Jika
dilaksanakan dengan baik JET akan menjadikan masyarakat Desa Tenganan mandiri
arena mampu menghasilkan komuditas padi unggulan dan menjadi pemasok beras di
sekitar Bali. Pelaksaan JET setidaknya menjadikan masyarakat Tenganan tidak
menggantungkan kehidupan mereka pada wisawan yang datang.
Daftar Pustaka
Sandra, I nyoman 2008 Desa Adat Tenganan Pegringsingan.
Wawancara Nyoman Suastini, 2 Juni 2013
Wawancara Nengah Wartawan, 2 Juni 2013
http://www.kriyalea.com/motif-dan-jenis-kain-tenun-tenganan-pegringsingan/Senin,
17 Juni 2013.
http://balibaguz.blogspot.com/2013/01/kain-tenun-bali-dan-jenisnya.htmlSenin,
17 Juni 2013.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kain_gringsingSenin,
17 Juni 2013.
http://irmajuanandreas.blogspot.com/2011/09/artikel-kain-gringsing-warisan-leluhur.htmlSenin,
17 Juni 2013.
http://id.wikipedia.org/wiki/LontarSenin, 17 Juni
2013.
http://karangasemnews.blogspot.com/2012/01/kerajinan-ate-karangasem.htmlSenin,
17 Juni 2013.
http://kerajinanata.blogspot.com/Senin, 17 Juni 2013.
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Tenganan,_Manggis,_Karangasemselasa,18Juni2013.


0 komentar