-->
    BLANTERORBITv102

    MATA PENCAHARIAN DAN PENGARUH KEPARIWISATAAN BAGI MASYARAKAT DESA TENGANAN

    Minggu, 31 Maret 2019


    Abstrak
    Pada awalnya mata pencaharian masyarakat Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem adalah sebagai  petani Akan tetapi, pada perkembangan zaman serta tingginya pengaruh modernisasi yang dialami masyarakat Desa Tenganan menjadikan masyarakat di Desa Tenganan mencari alternatif mata pencaharian lainnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena dirasa menjadi petani tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Masyarakat Tenganan sekarang telah  memilih mata pencaharian disektor lain, yaitu sebagai pengrajin untuk mendukung pariwisata yang diantaranya usaha kerajinan kain Geringsing, lukisan daun lontar, dan anyaman tumbuhan ate. Perubahan tersebut mulai terjadi sejak ditetapkannya Desa Tenganan sebagai salah satu desa wisata adat sekitar tahun 1930 oleh masyarakat Hindia-Belanda. Masyarakat mulai menekuni usaha kerajinan yang mereka hasilkan kemudian dipajang di rumah dan menjadi komoditas ekonomi yang bernilai jual tinggi, contohnya kain gringsing yang dijual kepada para wisatawan yang mengunjungi Tenganan. Kerajinan tenun Kain Geringsing adalah salah satu kerajinan yang memiliki nilai seni yang tinggi dengan harga jual yang mahal. Ini disebabkan karena proses pembuatan kain tenun Geringsing membutuhkan waktu yang lama, serta teknik yang digunakan sangat unik, rumit, sulit dan hanya dapat dijumpai ditiga lokasi di dunia, seperti di Tenganan (Indonesia), Jepang, serta di India. Namun setiap motif dari kain gringsing memiliki arti tersendiri dalam upacara keagamaan. Dalam perkembangannya produksi kerajinan tersebut menjadi sumber ekonomi utama masyarakat, akan tetapi berdasarkan data statistika nasional dari tahun 2008 sampai 2012 terjadi fruktuasi jumlah pengunjung. Dari hal tersebut kami melakukan penelitian lebih dalam mengenai jenis mata pencaharian utama masyarakat Tenganan? Dan kelanjutan dari pariwisata di Tenganan? Berkaitan pula dengan sistem Jaringan Ekowisata Desa yang diharapkan mampu menjadikan masyarakat Tenganan tidak selalu menggantungkan wisatawan yang datang ke Tenganan.
     Kata Kunci: Mata pencaharian, ekonomi, pariwisata.









    Abstract
    At first the people's livelihood Tenganan Village, District Manggis, Karangasem regency is a farmer, however, at the times and the high influence of modernization experienced by people in the community to make Tenganan Village Tenganan seek other livelihood alternatives to meet their daily needs because it is felt to be farmers can not meet their needs. Tenganan community now have chosen other livelihood sectors, namely as a craftsman to support tourism businesses including fabric crafts grimace, palm leaf paintings, and woven ate plants. The changes began to occur after the issuance of Tenganan village as one of the tourist village of indigenous communities around the year 1930 by the Dutch East Indies. People are starting to pursue the craft that they produced and then displayed at home and become an economic commodity that high value, for example gringsing fabrics are sold to the tourists who visit Tenganan. Cloth weaving craft Geringsing is one craft that has high artistic value with an expensive price. This is because the process of manufacture of woven fabrics grimace took a long time, as well as the techniques used are very unique, complicated, difficult and can only be found ditiga locations in the world, like in Tenganan (Indonesia), Japan, as well as in India. But every motive of gringsing fabric has a special meaning in religious ceremonies. In the development of craft production is a major economic source of society, but based on national statistics from 2008 to 2012 occurred fruktuasi number of visitors. From this we do more research on the type of main livelihood Tenganan community? And the continuation of tourism in Tenganan? Also related to the Village Ecotourism Network system is expected to make Tenganan community is not always rely tourists coming to Tenganan.

     Keywords: livelihoods, economy, tourism.




    Pendahuluan
    Masyarakat Bali sangat menarik perhatian mata dunia, dengan segala keindahan alamnya yang tidak diragukan lagi. Keunikan dan kekhasan yang dimiliki, terlebih di bidang sosial dan budayanya. Di era yang modern ini masyarakat Bali tetap menjaga kuat tradisi leluhur mereka dengan tetap menjalankan ritual Hindu yang kental ditambah seni budaya yang beraneka ragam dan memiliki nilai estetika yang tinggi seperti kerajinan ukir yang hampir bisa dijumpai pada setiap rumah yang ada di Bali. Kemudian ada pula lukisan yang khas, adat-istiadat yang masih dengan mudah dijumpai pada masyarakat Desa Tenganan Bali.
    Wisata di Tenganan sudah di perkenalkan sejak jaman pemerintahan Hindia-Belanda tahun 1930, kemudian pada tahun 1960 Tenganan ditetapkan sebagai daerah tujuan budaya oleh pemerintah Indonesia. Pesatnya pariwisata di Tenganan memberikan pengaruh yang nyata bagi masyarakat Tenganan. Sektor pariwisata menjadi sumber ekonomi yang sangat diandalkan Mayoritas dari masyarakat Tenganan bekerja sebagai pengerajin, seperti kain tenun gringsing, lukisan lontar dan pembuat kerajianan ata. Kerajinan Tenganan seperti kain tenun gringsing dan ata telah meramba pasar dunia, banyak pesanan berdatangan dari luar maunpun dalam negeri. Sehingga sektor pariwisata dianggap lebih menguntungkan dan mampu meningkatkan taraf ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan sektor pertanian. Namun, berdasarkan data Badan Statistik menunjukan terjadinya fruktuasi jumlah wisatawan yang datang ke Bali dari tahun 2007 sampai 2011. Berkaitan dengan hal tersebut, kami melakukan pengamatan dan penelitian secara langsung untuk mendapatkan data tentang jenis mata pencaharian  masyarakat Tenganan? dan kelanjutan pariwisata di Tenganan sebagai sumber ekonomi masyarakat ? Metode  yang digunakan untuk mengetahui hal tersebut adalah dengan menerapkan metode penelitian kualitatif yaitu dengan melakukan wawancara dan obsevasi langsung ke Desa Tenganan Pegringsingan, Bali. Dari penelitian yang dilakukan penulis dapat mengetahui jenis mata pencaharian masyarakat Tenganan khususnya yang berkaitan dengan pariwisata dan kelanjutan dari pariwisata di Desa Tenganan.
    A.           Jenis Mata Pencaharian Masyarakat Tenganan
    Desa Tenganan terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem di sebelah timur pulau Bali. Desa Tenganan berada di antaradua bukit yaitu Bukit Barat (Bukit Kauh) dan Bukit Timur (Bukit Kangin). Jenis tanah yang ada di Tenganan adalah tanah yang subur dan baik untuk bercocok tanam, sehingga banyak masyarakatnya yang berprofesi sebagai petani (I nyoman Sandra : 2008). Sejak ditetapkannya Desa Tenganan sebagai salah satu tujuan wisata pada tahun 60-an ketika masa pemerintahan Soekarno menjadikan Tenganan mulai didatangi oleh para wisatawan dari luar maupun dalam negeri.  Tenganan memiliki keunikan budaya yang jarang di temui di masyarakat Bali umumnya, masyarakatnya masih menjaga kuad adat istiadat seperti bentuk rumah, memiliki aturan tersendiri atau awig-awig dan tetap melaksanakan tradisi seperti perang pandan atau upacara keagamaan lain yang menjadikan banyak wisatawan berkunjung ke Teganan untuk melihat langsung keunikan yang dimiliki masyaraat Tenganan. Pesatnya pariwisata Tenganan pada tahun 1980 menjadikan masyarakatnya memiliki mata pencaharian ganda, yaitu sebagai petani dan pengerajin untuk daerah wisata (I nyoman Sandra : 2008 ). Para petani yang awalnya rajin mendatangi sawah mereka dan berbincang dengan penggarap, sekarang masyarakat tidak terlalu memperdulikan berapa jumlah hasil panen yang dihasilkan oleh para penggarap.Hal itu terjadi karena banyak dari masyarakat lebih menekuni mata perekonomian dari sektor pariwisata yang lebih menjanjikan. Hal ini menunjukan pengaruh parawisata terhadap jenis mata pencaharian masyarakat Tenganan. Lebih lanjut secara rinci tentang gambaran mata pencaharian masyarakat Tenganan, yaitu:
    1.      Pertanian
    Pertanian  tidak dapat dilepaskan dari masyakat Indonesia. Hampir setiap wilayah di Indonesia  memiliki lahan pertanian. Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena struktur tanah dan iklimnya mendukung untuk bercocok tanam, berdasarkan pernyataan bapak kepala Desa setempat  masyarakat Tenganan yang memiliki lahan seluas 917,5 hektar dengan pembagian wilayahnya menjadi 8% pemukiman penduduk, 22% wilayahnya adalah sawah dan sampai saat ini beberapa masyarakatnya bekerja sebagai petani, terutama mereka yang tinggal di Banjar Kauh dan Banjar Tengah Tenganan.
    Letak sawah yang ada di Tenganan berada jauh di belakang bukit, menjadikan para petani di Tenganan tidak menggarap sendiri sawahnya. Para petani di Tenganan sebagai tuan tanah atau pemilik lahan. Para petani Tenganan memperkerjakan penduduk luar Tenganan untuk menggarap sawah mereka yang disebut penyakap atau penggarap. Para pemilik tanah hanya berperan sebagai penyedia modal, pembayaran pajak bumi dan bangunan, serta mengatur sistem pengairannya. Selebihnya para petani mereka mempercayakan pengelolaan sawahnya kepada penyakap. Para penyakap melakukan penggarapan atas perintah dari tuan tanah atau pemilik lahan. Pembagian hasil panen diatur dalam aturan desa yang disebut sebagai sistem nyakap atau di Jawa sering disebut sistem paro. Sistem nyakap membagi hasil panen dengan sebagian atau 50% untuk pemilik tanah dan 50% untuk penggarap atau penyakap. Namun, sekarang sistem perbandingan  pembagian hasil yang digunakan sesuai kesepakatan antara pemilik sawah dan penyakap. Hasil panen padi berupa gabah di bagi sesuai kesepakatan awal. Para petani menjual hasil panen sawahnya dalam bentuk gabah kepada pengepul, mereka lebih memilih membeli beras di toko atau di pasar agar lebih praktis. Padahal dahulu masyarakat Desa Tenganan memiliki lumbung padi, yang digunakan untuk menyimpan padi sebagai cadangan makanan masyarakat Tenganan, dan seluruh hasil panen mereka konsumsi sendiri. Namun, sekarang lumbung – lumbung padi milik warga tidak berfungsi lagi, karena warga lebih memilih membeli beras di luar Tenganan.
    Masyarakat Desa Tenganan masih menjaga kuat keyakinan dan tradisi  mereka sampai saat ini. Setiap sendi kehidupan masyakatnya tidak terlepas dari  pengaruh tradisi yang mereka jalani. Para petani di Tenganan tidak menjual lahan sawah mereka kepada orang lain atau kepada para penyekap, karena di Tenganan para tuan tanah mentaati aturan  dalam awig-awig yang melarang penjualan tanah Tenganan. Para leluhur Tenganan beralasan sebab larangan menjual lahan untuk mempertahankan luas wilayah Tenganan . Sampai saat inipun jumlah wilayah dulu sampai sekarang tetap 917,5 hektar.

    2.    Pengrajin Kain Tenun
    a.         SejarahKain Tenun Gringsing
    Secara etimologi kata Gringsing berasal bahasa Bali lokal yang terdiri dari dua kata yaitu, katagering yang berarti 'sakit' dan sing yang berarti 'tidak'. Jadi secara harafiah kain Gringsing berarti tidak sakit. Maksud yang terkandung di dalam kata tersebut adalah penolak bala, yaitu dapat mengantisipasi dan menyembuhkan penyakit. Baik itu fisiknya maupun rohaniahnya.
    Kain Gringsing mempunyai fungsi visual maupun fungsi magic pada masyarakat desa Tenganan. Penggunaan kain Gringsing salah satunya tradisi perang Pandan, ritus penghormatan kepada Dewa Indra selalu menggunakan kain Gringsing. Pada saat upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lain, dilakukan dengan bersandar pada kekuatan kain Gringsing.
    Malcolm Barnard mengemukakan bermacam-macam fungsi dari kain, yang salah satunya untuk menunjukkan kondisi magis-religius. Praktik-praktik magis dan religius bergantung pada unsur-unsur tertentu seperti status resmi yang baku atau anugerah Tuhan, dihargai tinggi dalam tradisinya untuk menjaga tatanan, serta menunjuk pemakaian jimat dan hiasan magis lain untuk menangkal kekuatan-kekuatan dengki spiritual dan magis (Barnard,1996:95). Sesuai dengan mitos yang hidup dalam tatanan masyarakat Tenganan, kain Gringsing dipercaya sebagai kain yang berfungsi tolak bala  dari segala penyakit bagi pemakainya.
    Pada tahun 1984, Urs Ramseyer (1984) dalam tulisannya yang berjudul Clothing, Ritual and Society in Tenganan Pegeringsingan Bali menyatakan bahwa masyarakat Tenganan sebagai sesama penganut Dewa Indra (Dewa Perang) merupakan imigran dari India kuno. Imigran tersebut membawa teknik dobel ikat melalui pelayaran dari Orrisa atau Andhra Pradeshdan mengembangkan teknik tersebut secara independent di DesaTenganan. Kemudian para imigran menguraikan kutipan-kutipan dari beberapa jenis tenun patola untuk dikembangkan di Bali. Kain Patola adalah jenis tenunan ikat ganda terbaik dari Gujarat di India Utara.
    b.             Jenis Tenun Gringsing
    Pada zaman dahulu, ragam jenis tenun Geringsing ada 20 jenis. Namun kini yang masih dikerjakan hanya 7jenis saja,  yaitu:
    1)      Geringsing Lubeng
    Geringsing Lubeng terdiri dari Gringsing Lubeng Luhur, Gringsing Lubeng Petang Dasa dan Gringsing Lubeng Pat Likur. Motifnya bernama Lubeng dan kekhasannya adalah berisi kalajengking. Lubeng Luhur ukurannya paling panjang dengan 3 bunga berbentuk kalajengking yang masih utuh bentuknya.
    2)      Geringsing Sanan Empeg
    Geringsing Sanan Empeg fungsi sebagai sarana upacara keagamaan dan adat, yaitu sebagai pelengkap sesajian bagi masyarakat Tenganan Pegeringsingan. Ciri khas dan motif Sanan Empeg adalah adanya tiga bentuk kotak-kotak/poleng berwarna merah dan hitam.
    3)      Geringsing Cecempakan
    Geringsing Cecempakan bermotif bunga cempaka. Jenis Geringsing Cecempakan terdiri dari Gringsing Cecempakan Petang Dasa (ukuran empat puluh), Geringsing Cecempakan Putri, dan Geringsing Cecempakan Pat Likur (ukuran 24 benang). Fungsi Geringsing Cecempakan adalah sebagai busana adat dan upacara agama.
    4)      Geringsing Cemplong
    Motif Geringsing Cemplong adalah bunga-bunga besar diantara bunga-bunga kecil seolah-olah ada kekosongan/lobang-lobang diantara bunga dan terlihat cemplong. Jenis Geringsing Cemplong adalah ukuran Pat Likur (24 benang), senteng/anteng (busana di pinggang wanita), dan ukuran Petang Dasa (40 benang). Namun ukuran Petang Dasa sudah hampir punah. Fungsi Geringsing cemplong adalah sebagai busana adat dan upacara agama.
    5)      Geringsing Isi      
    Pada Geringsing Isi ini motifnya semua berisi atau penuh, tidak ada bagian kain yang kosong. Ukuran yang ada hanya ukuran Pat Likur (24 benang) dan berfungsi untuk sarana upacara, bukan untuk busana.
    6)      Geringsing Batun Tuung
    Batun Tuung artinya biji terong. Dengan demikian pada Geringsing Batun Tuung motifnya penuh dengan biji-biji terong. Ukurannya tidak besar, untuk senteng (selendang) pada wanita dan untuk sabuk (ikat pinggang) tubumuhan bagi pria. Jenis Geringsing ini sudah hampir punah.
    Perlu diketahui bahwa pada semua kain Geringsing (double ikat) pasti ada “telupuhnya” (motif pinggirnya) dan juga “penekek” (bagian paling pinggir). Kadang-kadang diisi pula tambang, “tetubahan” semacam hiasan kreasi di pinggir kain sesuai selera pembuat.
    7)      Geringsing Wayang
    Motif Geringsing Wayang ada dua yaitu Geringsing Wayang Kebo dan Geringsing Wayang Putri. Fungsi dan ukuran kedua kain ini sama yaitu untuk selendang, yang membedakan adalah motifnya. Pada Geringsing Wayang Kebo teledunya (Kalajengkingnya) bergandengan sedangkan pada Gringsing Wayang Putri lepas. Pada tenun Geringsing Wayang Kebo berisi motif wayang laki dan wanita. Sedangkan pada tenun Geringsing Wayang Putri hanya berisi motif Wayang Wanita.Seperti gambar 1 disamping.
    c.         Proses Produksi dan Distribusi Kain Gringsing
    Proses pembuatan kain Gringsing dari awal hingga akhir dikerjakan secara manual menggunakan tangan. Benang yang digunakan merupakan hasil pintalan tangan dengan alat pintal tradisional, bukan mesin. Benang tersebut diperoleh dari kapuk berbiji satu yang didatangkan dari Nusa Penida (pulau yang terletak di sebelah tenggara Bali yang dipisahkan oleh Selat Badung), karena hanya di tempat tersebut bisa didapatkan kapuk berbiji satu. Setelah selesai dipintal, benang akan mengalami proses perendaman dalam minyak kemiri sebelum dilanjutkan ke proses ikat dan pewarnaan. Perendaman tersebut bisa berlangsung lebih dari 40 hari hingga maksimum satu tahun dengan penggantian air rendaman setiap 25-49 hari. Semakin lama perendaman, benang akan makin kuat dan lebih lembut.
    Tenun Gringsing terbuat dari benang kapas yang ditenun menggunakan teknik double ikat, yaitu teknik dengan mengikatkan benang lungsi dan benang pakan secara bersamaan. Teknik ini dikenal sangat langka, karena akan membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan satu lembar kain, berkisar antara 1-5 tahun. Di Asia hanya (Tenganan)Indonesia, Jepang dan India yang masih menerapkan teknik tenun ganda ini. Hingga tidak aneh jika kain tenun Gringsing ini memiliki harga yang sangat mahal.
    Berdasarkan sumber informan Ni Nengah Suwastini yang berusia sekitar 40 tahunan mengatakan
    rapi dan “ pembuatan kain Gringsing dari awal itu membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Proses yang cukup panjang tidak seperti batik. Bahan pewarna yang digunakan pun dari alam semua tidak menggunakan bahan pewarna buatan/kimia. Warna alami itu bisa menjadi warna yang sempurna (bagus dan tahan lama). Kain yang di buat itu dengan 3 warna, yaitu warna merah, hitam, dan kuning. Warna merah di ambil dari kulit akar mengkudu, warna hitam dari daun tarung yang warna awalnya itu biru, dan yang terakhir warna kuning dari minyak kemiri.”
    Supaya kain dapat bertahan lama sebelum ditenun, benang-benang yang sudah ditata sudah diberi warna, kemudian diberi bubur beras putih, hal ini membutuhkan ketelatenan karena harus disisir dan diangin-anginkan dengan panas sinar matahari sampai kering supaya tidak menggumpal. Selain itu manfaaat dari pemberian bubur beras itu agar benangnya mejadi kuat.
    Pengerjaan kain Gringsing ini sudah sangat spesifik, ada yang bagian memintal benang, pewarnaan, pengikatan benang, dan proses terakhir adalah menenun. Pekerjaan ini biasanaya dilakukan oleh ibu – ibu rumah tangga dan anak perempuan. Kain gringsing yang bagus harganyanya di atas sepuluh juta rupiah, pada proses penenunannya itu dilakukan oleh ahlinya sendiri biasanya untuk tenun yang bagus upah tenunnya di atas satu juta lima ratus ribu rupiah”.
    Namun bila kain Grinsing mengalami kegagalan dalam produksi seperti warna yang di inginkan pemesan tidak sesuai dengan hasil akhir, pengrajin mengalami kerugian. Pembeli hanya akan membeli kain ini dengan harga yang murah atau bahkan tidak jadi membeli. Akhirnya kain ini di jual kepada masyarakat biasa dengan harga yang juga murah. Untuk itu bagi mereka yang diminta untuk membuat kain Grinsing ini harus  hati- hati dan juga teliti agar bisa menghasilkan kain yang sempurna.
    Informan lain yaitu I Nengah Wartawan (alumni antropologi UDAYANA) suami dari Ni Nengah Suwartini menuturkan :
    “pada bulan februari ada upacara yang biasanya memakai pakaian adat dan pakaian adat tersebut biasanya memakai kain Gringsing yang telah berumur ratusan tahun. Karena didalamnya terdapat suatu gengsi tersendiri. Semakin tua usia kain yang mereka gunakan itu mereka semakin disegani atau dihormati. Karena semakin tua usia kain maka, semakin mahal harga suatu kain tersebut. Jika mereka tak mempunyai kain yang sudah tua mereka akan menggunakan kain yang baru namun mereka kurang dihormati.
    Jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan kain Gringsing yang ada pada masyarakat Desa Tenganan Bali, dijadikan tolak ukur stratifikasi sosial (semakin tinggi kedudukan suatu individu semakin lama umur kain tenun Gringsing yang digunakan) walaupun, dari berbagai sumber mengatakan tidak ada penggolongan-penggolongan semacam kasta, akan tetapi dalam pemakaian jenis kain gringsing ketika masyarakat menjalankan ritual adat atau upacara-upacara adat akan sangat tampak pembedannya.. Ini dilakukan sejak dahulu dan turun temurun.
    Hampir setiap keluarga di Desa Tenganan ini memiliki kain warisan dari leluhur. Kain yang usianya ratusan tahun memiliki nilai yang sangat tinggi. Berkisar mulai ratusan juta rupiah sampai milyaran rupiah, semakin tua usia sebuah kain gringsing dan semakin sulit motif pada kain gringsing itu maka harganya pun akan semakin tinggi.

    d.             Cara Perawatan Kain Gringsing
    Penyimpanan kain Gringsing sangat perlu diperhatikan, kain harus ditempatkan pada kotak yang rapat dan di dalamnya diberi kapur barus supaya tidak ada kutu yang akan menghancurkan kualitas kain tersebut. Kain juga tidak perlu dicuci, setelah dipakai cukup di angin-anginkan. Jika memang sudah kotor dicuci menggunakan air hujan saja tanpa menggunnakan deterjen. Perawatan kain Gringsing ini memang harus sangat hati-hati dikarenakan takut mempengaruhi kualitas kain. Kain Gringsing yang paling mahal adalah jenis Gringsing wayang, kain Gringsing jenis ini harganya hingga mencapai milyaran rupiah hal ini disebabkan karena masyarakat Tenganan sudah tidak bisa membuatnya, mereka sangat kesusahan dalam membuat motif ragam hias yang serupa dengan kain Gringsing Wayang. Kain Gringsing wayang dibuat oleh para leluhur masyarakat Desa Tenganan.
    3. Kerajinan Lontar
    Anyaman lontar adalah anyaman yang dibuat dari daun lontar dan sudah berkembang sejak zaman dahulu. Daun lontar bagi orang Bali memegang peran penting untuk sarana informasi dan komunikasi. Artinya, sebelum ditemukannya buku tulis (kertas) sebagai alat untuk menulis, orang Bali memanfaatkandaunlontarsebagaialatuntukmenulis.
    Tradisi menulis di atas daun lontar merupakan tradisi kuno yang dilakukan oleh nenek moyang masyarakat Bali sejak ratusan tahun yang laludan masih bertahan hingga sekarang. Tradisi ini masih dilestarikan terutama untuk kebutuhan menulis awig-awig adat (aturan-aturan desa).
    Ada tiga jenis lontar yang ada diDesaTenganan Bali yaitu lontarjenisPetapulau Bali, lontarjenisPrimbon (kelahiran), dan lontarjenisjodoh Usada (alat petunjuk pengobatan). Lontar jenis Usada dibagi menjadi dua yaitu ada jenis Lontar usada sari dan lontar usada punggung tiwas. Lontar Tenung (tindik sejati) digunakan untuk meramal atau mendeteksi suatu penyakit atau untuk mendeteksi keberadaan seseorang yang hilang secara gaib.
    a.    Proses Produksi Kerajinan Daun Lontar
    Proses produksi kerajinan daun Lontar masih terus berjalan sampai sekarang. Pertama, daun-daun pohon siwalan dipetik dari pohon. Pemetikan biasa dilakukan pada bulan Maret/April atau September/Oktober karena daun-daun pada masa ini sudah tua. Kemudian daun-daun dipotong secara kasar dan dijemur menggunakan panas matahari. Proses ini membuat warna daun yang semula hijau menjadi kekuningan. kemudian daun-daun yang telah berubah warna, direndam di dalam air yang mengalir selama beberapa hari dan kemudian digosok sampai bersih dengan kain atau serabut kelapa. Setelah itu, daun-daun dijemur,kemudian dipotong, dan diikat. Lalu lidi yang terdapat pada daun Lontar juga dipotong dan dibuang.Setelah kering daun-daun lalu direbus dalam sebuah kuali besar dicampur dengan beberapa ramuan. Hal inibertujuan untuk membersihkan daun-daun dari sisa kotoran dan melestarikan struktur daun supaya tetap baik.Setelah direbus lebih kurang selama 8 jam kemudian daun-daun diangkat dan dijemur kembali di atas tanah.
    Pada sore hari daun-daun diambil. Kemudian, tanah di bawah dedaunan dibasahi dengan air kemudian daun-daun ditaruh kembali supaya lembap dan menjadi lurus. Keesokan harinya diambil dan dibersihkan dengan sebuah lap.Daun-daun tersebut ditumpuk dan dipres pada sebuah alat yang di Bali disebut sebagai pamlagbagan. Alat ini merupakan penjepit kayu yang berukuran sangat besar. Daun-daun ini dipres selama kurang lebih enam bulan. Namun setiap dua minggu diangkat dan dibersihkan.Setelah itu daun-daun dipotong lagi sesuai ukuran yang diminta dan diberi tiga lubang. Tiga lubang itu adalahlubang yang berada di ujung kiri, tengah, dan ujung kanan. Jarak dari lubang tengah ke ujung kiri harus lebih pendek daripada ke ujung kanan. Hal ini dimaksudkan sebagai penanda pada saat penulisan nanti.Tepi-tepi lontar juga dicat, biasanya dengan cat warna merah. Lontar yang siap ditulisi disebut dengan istilah pepesan dalam bahasa Bali dan sebuah lembar lontar disebut sebagai lempir.
    Para pengerajin melukis dengan pensil lalu di ukir sesuai motif menggunakan pisau, kemudian digosokan buah kemiri bakar untuk memberi warna pada lontar yang telah diukir. Buah kemiri diusap dengan kain maka gambar yang telah diukir akan menampakkan warna hitam yang memperindah dan mempertegas ukiran. Mereka memilih kemiri sebagai bahan bakar karena warnanya tahan lama dan tidak mudah pudar.
    a.      Pemasaran Kerajinan Daun Lontar
    Para penjual menjualkan hasil karyanya sesuai dengan tingkat kesulitan gambar atau ukiran dan ukuran panjang atau pendeknya daun lontar tersebut. Jadi semakin rumit dan semakin panjang ukuran daun lontar maka harga jualnya juga semakin tinggi.
    Biasanya harga jual antara masyarakat dalam negeri dengan wisatawan luar negeri berbeda. Mereka menjual kapada masyarakat dalam negeri sekitar Rp 100.000,00 (sertusribu rupiah) hingga Rp 150.000,00 (seratuslimapuluh ribu rupiah). Akan tetapi mereka menjual kepada wisatawan luar negeri jauh lebih mahal yaitu sekitar harga Rp 300.000,00 (tigaratus ribu rupiah) hingga Rp 400.000,00 (empatratus ribu rupiah). Hal ini dikarenakan wisatawan luar negeri yang menyukai seni tidak mempermasalahkan soal harga. Selain itu seni ini jarang ditemukan di tempat lain. Oleh karena itu bagi para pengunjung banyak yang membeli kerajinan lukis ini sebagai oleh- oleh.
    b.      Kerajianan Ata        
    Desa Tenganan sebagai desa wisata adat, dengan kerajinankain yang terkenal di dalam dan luar negeri. Hal yang menarik di Tenganan seperti seni kerajinan semakin di gemari. Salah satu kerajinan yang di gamari adalah  kerajiana ata. Pada awalnya hasil kerajianan ata ini di kerjakan dan dikenalkan oleh I Nengah Kedep yang berasal dari Desa Tenganan. Anyaman yang pertama kali dibuat berbentuk sederhana berupa bentuk bola yang digunakan sebagai gantungan kunci.
    Kerajinan ata berasal dari tumbuhan ata atau hata dari keluarga paku-pakuan. Tanaman ata dahulu banyak ditemukan di Tegalan, pinggir jurang atau sungai di sekitar perbukitan Karangasem. Namun tanaman ate sekarang sulit ditemukan. Hal ini dikarenakan banyaknya pemburu liar tanaman ata oleh pengrajin ata lainnya selain itu, tanaman yang tumbuh di Bali berukuran lebih kecil di banding yang ada Jawa dan Flores.  Sehingga, para pengrajin ata mendatangkan bahan baku dari luar Bali seperti Jawa, Flores dan Sumatra.
    Sepintas kerajinan ata mirip seperti kerajianan ketak Lombok. Bedanya kerajianan ketak memiliki rangka yang terbuat dari rotan yang dililit anyaman ata. Sedangkan kerajianan ate Tenganan tidak memiliki kerangka dan hanya menggunkan bahan aae saja. Proses pembuatan kerajianan ata cukup rumit dan membutuhkan kesabaran tinggi. Proses pembuatan diawali dengan menganyam tumbuhan ata yang telah dikeringkan baik menggunakan proses penjemuran atau proses pengovenan. Bentuk yang dibuat sesuai dengan permintaan pasar. Kemudian anyaman yang telah dibentuk di jemur kembali diatas terik matahari  agar lebih kuat dan warnanya lebih kecoklatan.
    Bentuk Kerajinan Ata yang dihasilkan mulai dari tas, pajangan pot bunga, taplak meja, keranjang tempat pakaian (laundry basket),bokor, cindera mata untuk pernikahan, keranjang sampah, tempat tisu, tempat permen, alas piring dan gelas. Motif yang dibuat bermacam-macam seperti motif polos, segi tiga, dan motif bunga.Warna asli daun ata adalah coklat dengan variasi warna hitam di dapatkan dari akar ata yang telah dikeringkan.Metode  yang digunakan untuk mengetahui hal tersebut adalah dengan menerapkan metode penelitian kualitatif yaitu dengan melakukan wawancara dan obsevasi langsung ke Desa Tenganan Pegringsingan, Bali. Dari penelitian yang dilakukan penulis dapat menetahui bagaimana perkembangan pariwisata yang ada di Tenganan dan mengetahui ancaman-ancaman  yang dialami masyarakat Tenganan dari perkembangan wisata yang ada di Tenganan.

    Kerajianan ata di Tenganan adalah jenis usaha home Industri sejak tahun 1960,yaitu pada saat Tenganan mulai dikunjungi para wisatawan. Kerajianan ata biasanya dikerjakan oleh para  ibu rumah tangga. Mereka menganyam tumbuhan ata ini dirumah masing-masing, disamping mengurus anak-anak dan melakukan peran sebagai ibu rumah tangga.
    Dalam produksi kerajinan ata biasanya ada pemilik modal atau pengepul yang memperkerjakan para ibu rumah tangga di Desa Tenganan. Para pengrajin dibayar sesuai dengan jumlah ata yang dibuat. Dalam sehari pengerajin mampu menghasilkan tiga sampai lima kerajinan yang berukuran kecil,  dan tiga sampai lima jenis anyaman besar dalam waktu seminggu. Selain para Ibu rumah tangga yang dipekerjakan oleh pemilik modal, beberapa pengrajin juga memproduksi dan memasarkan sendiri atau independent hasilnya. Para pengrajin Independent mendapatkan bahan bakunya tidak dari penengepul namun, membeli sendiri bahan baku dari pasar.
    Kerajinan Ata merupakan kerajinan tangan yang terlihat eksotik, alami, dan tidak mudah rusak sehingga banyak diminati wisatawan dalam dan luar negeri. Para produsen memasarkan hasil kerajinan mereka di depan rumah yang difungsikan sebagai artshop, terutama pengerajin yang berada di Banjar Kauh. Pesanan juga datang dari luar negeri seperti Jepang, Korea, Australia, dan negara asal para turis yang datang ke Tenganan.
    Kerajianan Ata secara langsung berdampak pada perekonomi masyarakat Tenganan karena menjadi salah satu komoditas ekonomi lokal Tenganan. Namun, Ada beberapa kendala yang dihadapi para pengerajin Ata di Tenganan diantaranya :
    1.      Jumlah tumbuhan ata yang sulit untuk di dapat terutama adanya pembatasan pemasokan Ata dari Sumatra.
    2.  Faktor cuaca yang kurang bersahabat dan tidak menentu sehingga, menghambat proses penjemuran Ata.
    3.    Bertambahanya kebutuhan pokok. Hal ini menjadikan beberapa pengerajin beralih ke profesi lain untuk memenuhi kebutuhan.
    Kendala yang dihadapi oleh para pengrajin, terutama pada keterbatasan jumlah bahan baku ata. Padahal komuditas ekonomi lokal ini menjadi salah satu andalan sumber pendapatan masyarakat Tenganan
    B.                Sektor pariwisata sebagai sumber ekonomi masyarat Tenganan
    Sektor pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan di Bali. Segala daya tarik Pulau Bali baik alam, tradisi dan seni, serta budayanya banyak mengundang decak kagum masyarakat dunia. Banyak turis dalam dan luar negeri menjadikan Bali sebagai salah satu tujuan favorit untuk berwisata. Awal berkembanagnya pariwisata di Bali setelah pemerintah Hindia Belanda mendatangkan 213 orang turis dari KPM, salah satu agen travel tahun 1924,(Picard, 1996: 25). Berdasarkan data statistik jumlah wisatawan yang datang ke Bali selama tahun 2007 – 2011 mengalami fluktuasi, yaitu datatabel 1 sebagai berikut :

    B u l a n
    T a h u n
    2007
    2008
    2009
    2010
    2011
    (1)
    (2)
    (3)
    (4)
    (5)
    (6)
    1
    Januari
    109 875
    147 799
    174 541
    179 273
    209 093
    2.
    Pebruari
    118 483
    161 776
    147 704
    191 926
    207 195
    3.
    M a r e t
    119 458
    160 708
    168 205
    192 579
    207 907
    4.
    A p r i l
    125 393
    154 911
    188 776
    184 907
    224 704
    5.
    M e i
    129 039
    167 463
    190 803
    203 388
    209 058
    6.
    J u n i
    145 500
    178 404
    200 566
    228 045
    245 652
    7.
    J u l i
    164 972
    190 854
    235 198
    254 907
    283 524
    8.
    Agustus
    167 031
    195 549
    232 255
    243 154
    258 377
    9.
    September
    152 804
    189 346
    218 443
    240 947
    258 440
    10.
    Oktober
    146 385
    189 234
    221 282
    229 904
    247 565
    11.
    Nopember
    142 124
    173 077
    184 803
    199 861
    221 603
    12.
    Desember
    147 467
    175 963
    222 546
    227 251
    253 591

    J u m l ah :
    1 668 531
    2 085 084
    2 385 122
    2 576 142
    2 826 709
    Pertumbuhan (%)
    32.16
    24.97
    14.39
    8.01
    9.73
    Sumber: Bali Dalam Angka 2012





















    Selain dikenal sebagai daerah wisata adat, Tenganan juga terkenal sebagai penghasil berbagi jenis kerajinan yang unik dan  berkualitas tinggi, seperti kain tenun Gringsing merupakan salah satu kain langka yang hanya bisa ditemukan di Bali, India dan Jepang. Nilai jual kain Gringsing tergolong tinggi. Hal ini dikarenakan proses pembuatannya yang rumit dan lama. Adanya kelebihan kain tenun gringsing Tenganan tersebut, menjadikan semakin banyaknya pengerajin tenun Gringsing di Tenganan. Begitu juga dengan berbagai pengerajin lain seperti pengerajin lontar, dan pengerajin ata. Mereka menggantungkan hidup mereka dari penjualan hasil kerajinan yang mereka produksi. Hal ini menunjukan masyarakat Tenganan mulai menjadikan sektor pariwisata sebagai sumber ekonomi utama. Banyak-sedikitnya wisatawan akan mempengaruhi pendapat daerah Bali umumnya dan pendapatan masyarakat Tenganan pada khususnya. Namun apabila dilihat dari data statistika, jumlahwisatawan  yang dating ke  Bali mengalami fluktuasi bahkan menurun drastic sejak tahun 2008. Hal tersebut yang mesti nyamen dapat perhatian lebih, karena tidak selamanya masyarakat bisa bergantungdariparawisatawan. Sektorpertanian yang kurangdiperdulikansudahsaatnyauntuk di kembangkan secara lebih lanjut agar sumbere konomi masyarakat tidak selalu bergantung dari wisatawan yang datang saja. Larangan dalam awig– awig, yang salah satuisinya melarang masyarak at untuk menjual tanah membuka peluang bagi masyarakat untuk tetap mempertahankan dan mengelola lahan yang mereka miliki sebagai sumber mata pencahari antra disionalmasyarakat Tenganan.

    Kesimpulan
    Letak geografis Desa Tenganan yang berada di daerah perbukitan, menjadikan sumber ekonomi utama masyarakat berpusat pada sektor pertanian dan mayoritas warga Tenganan bekerja sebagai petani. Namun, sejak ditetapkannya Tenganan sebagai daerah wisata adat menjadikan masyarakat memiliki mata pencaharian ganda yaitu bekerja sebagai petani dan berkerja dalam suatu kepariwisataan, seperti pengerajin kain Gringsing, pengerajin Lontar dan pengerajin Ata. Sektor wisata menjadikan hampir seluruh masyarakat Tenganan menggantungkan hidup masyarakat dari pembuatan dan penjualan kerajinan. Perkembangan yang pesat pada sektor pariwisata masyarakat Tenganan mengakibatkan masyarakat Tenganan tidak terlalu peduli dengan sawah mereka. Hal ini dibuktikan dengan cara pengolahan sawah dengan menyerahkan garapan sawah kepada penyakap.Sektor pariwisata dipandang lebih menguntungkan dan menjajanjikan, karena mereka hanya membuat dan memasarkan hasil kerajinan di rumah yang difungsikan sebagai artshop. Namun, berdasarkan dari data statistika Bali tahun 2008 yang menunjukan jumlah wisatawan yang datang di Bali bersifat Fluktuatif bahkan bisa dikatakan menurun drastis sejak tahun 2008. Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat tidak bisa selamanya menggantungkan hidup mereka dari sektor pariwisata saja.
     Nenek moyang masyarakat Tenganan yang  melarang penjualan lahan yang diatur dalam awig – awig, dapat dijadikan sebagai solusi. Sektor pertanian yang sebelumnya tidak terlalu di perdulikan akan menjadi solusi ketika penurunan pengunjung wisata. Ditambah dengan pengembangan program Jaringan Ekowisata Desa ( JET ) yang mengkolaborasikan antara pengembangan pertanian dengan  pariwisata. Jika dilaksanakan dengan baik JET akan menjadikan masyarakat Desa Tenganan mandiri arena mampu menghasilkan komuditas padi unggulan dan menjadi pemasok beras di sekitar Bali. Pelaksaan JET setidaknya menjadikan masyarakat Tenganan tidak menggantungkan kehidupan mereka pada wisawan yang datang.
    Daftar Pustaka
    Sandra, I nyoman 2008 Desa Adat Tenganan Pegringsingan.
    Wawancara Nyoman Suastini, 2 Juni 2013
    Wawancara Nengah Wartawan, 2 Juni 2013
    http://id.m.wikipedia.org/wiki/Tenganan,_Manggis,_Karangasemselasa,18Juni2013.