KURIKULUM MERDEKA • KELAS XII • BAB 4
Pemberdayaan Komunitas Berbasis Kearifan Lokal
Membangun masyarakat yang mandiri dan berdaya dengan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur dan tradisi bangsa.
Tujuan Pembelajaran
- 1. Peserta didik diharapkan mampu menguraikan prinsip-prinsip dan strategi pemberdayaan masyarakat sesuai potensi komunitas lokal.
- 2. Peserta didik diharapkan mampu menyusun pemberdayaan masyarakat melalui perencanaan dan pengamatan lingkungan sekitar.
- 3. Peserta didik diharapkan mampu melakukan tahap-tahap evaluasi pemberdayaan secara sistematis dan kritis.
A. Pemberdayaan Komunitas Lokal dan Potensi Kearifan Lokal
1. Hakikat Komunitas Lokal
Komunitas lokal: Kelompok organisme yang hidup dan saling berinteraksi di daerah tertentu.
Komunitas lokal merupakan penggabungan dari kata "komunitas" dan "lokal". Kata komunitas berasal dari bahasa Latin, yakni communitas, yang artinya “kesamaan”. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan komunitas sebagai kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di daerah tertentu; masyarakat; paguyuban, sedangkan kata lokal dijelaskan sebagai di suatu tempat (tentang pembuatan, produksi, tumbuh, hidup, dan sebagainya); setempat. Adapun komunitas lokal dijelaskan sebagai komunitas yang bersifat lokal (setempat).
Robert Maclver (Mansyur dalam Cholil, 1987) mengemukakan bahwa community (komunitas dalam bahasa Indonesia) sebagai persekutuan hidup atau paguyuban dan dimaknai sebagai suatu daerah masyarakat yang ditandai dengan beberapa tingkatan pertalian kelompok sosial satu sama lain. Istilah community juga diistilahkan sebagai masyarakat setempat.
Masyarakat setempat ini menunjuk pada warga sebuah desa, kota, suku, atau bangsa. Selain itu, masyarakat setempat juga menunjuk pada bagian masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah (dalam arti geografis) dalam batas-batas tertentu, dengan faktor utama yang menjadi dasar adalah interaksi.
Kriteria utama suatu komunitas atau masyarakat setempat adalah adanya hubungan sosial antaranggota suatu kelompok. Dengan demikian, masyarakat setempat adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial tertentu. Keberadaan komunitas biasanya didasari oleh lokalitas dan perasaan komunitas (community sentiment).
a. Lokalitas
Lokalitas atau tempat tinggal pasti dimiliki oleh suatu komunitas. Komunitas yang memiliki tempat tinggal secara tetap biasanya memiliki ikatan solidaritas sosial yang kuat. Hal ini merupakan pengaruh kesatuan tempat tinggalnya.
b. Perasaan Komunitas
Perasaan komunitas (community sentiment) merupakan suatu perasaan antaranggota bahwa mereka saling memerlukan dan tanah yang mereka tinggali memberikan kehidupan kepada semuanya.
Menurut Robert Maciver dan Charles Horton Cooley, ada beberapa unsur dalam perasaan komunitas, yaitu:
- Seperasaan: Timbul akibat dari seseorang yang berusaha mengidentifikasikan dirinya dengan banyak orang karena memiliki kepentingan yang sama.
- Sepenanggungan: Kesadaran akan peranan dan tanggung jawab anggota komunitas dalam kelompoknya.
- Saling memerlukan: Perasaan ketergantungan terhadap komunitas baik yang sifatnya fisik maupun psikologis.
2. Hakikat Kearifan Lokal
Kearifan lokal merupakan hasil adaptasi turun-temurun masyarakat terhadap lingkungan alam tempat mereka tinggal.
Kearifan lokal masyarakat merupakan hasil dari proses adaptasi turun-temurun dalam periode waktu yang sangat lama terhadap suatu lingkungan alam tempat mereka tinggal. Kearifan lokal menjadi tata nilai kehidupan yang diwarisi antargenerasi.
Pada umumnya, kearifan lokal berbentuk lisan atau tulisan tentang sistem sosial suatu masyarakat. Namun, pada era modern ini, nilai-nilai luhur dalam kearifan lokal dikhawatirkan mulai meredup, memudar, dan kehilangan maknanya.
Berikut adalah beberapa pandangan mengenai kearifan lokal:
Kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara, dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Bertahan lama dan dianggap baik.
Pengetahuan berdasarkan pengalaman masyarakat turun-temurun. Menjadi aturan kegiatan sehari-hari saat berhubungan dengan keluarga, tetangga, dan lingkungan.
Kebenaran yang telah mentradisi atau ajek. Perpaduan nilai suci Tuhan dan keunggulan budaya. Walau lokal, nilai di dalamnya sangat universal.
Local genius adalah cultural identity (identitas budaya bangsa) yang membuat bangsa mampu menyerap kebudayaan asing sesuai watak sendiri.
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah guna memenuhi kebutuhan komunitas tersebut.
Istilah asing: local wisdom (kearifan lokal), local knowledge (pengetahuan lokal), atau local genius (kecerdasan setempat), diperkenalkan pertama kali oleh H. G. Quaritch Wales (1951).
Kearifan lokal berkaitan erat dengan kondisi geografis atau lingkungan alam. Nilai-nilai dalam kearifan lokal menjadi modal utama dalam membangun masyarakat tanpa merusak tatanan sosial dengan lingkungan alam. Kearifan lokal tecermin dalam setiap aktivitas masyarakat, seperti religi, budaya, dan adat istiadat.
Ciri-ciri Kearifan Lokal (Saragih, 2013):
- Mampu bertahan terhadap budaya luar.
- Memiliki kemampuan mengakomodasi unsur budaya luar.
- Mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke budaya asli.
- Mempunyai kemampuan mengendalikan.
- Mampu memberi arah pada perkembangan budaya.
Karakteristik (Phongphit & Nantasuwan):
- Memasukkan nilai-nilai yang mengajari masyarakat mengenai etika dan moral.
- Mengajarkan masyarakat untuk mencintai alam, tidak merusak alam.
- Berasal dari anggota-anggota tua masyarakat.
Fungsi dan Makna Kearifan Lokal (Nyoman Sirtha):
- Konservasi dan pelestarian sumber daya alam.
- Pengembangan sumber daya manusia (upacara daur hidup).
- Pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
- Petuah, kepercayaan, sastra, dan pantangan.
- Bermakna sosial (upacara integrasi komunal/pertanian).
- Bermakna etika dan moral (penyucian roh leluhur).
- Bermakna politik (upacara nangluk merana & patron client).
Bentuk kearifan lokal bisa berwujud nyata (tangible) dan tidak berwujud (intangible) (Azan, 2013).
3. Pemberdayaan Komunitas Lokal
Secara etimologis, pemberdayaan berasal dari kata "daya" yang berarti kekuatan atau mengembangkan kemampuan. Pemberdayaan dapat diartikan sebagai suatu proses menuju berdaya atau proses untuk memperoleh daya/kekuatan kemampuan atau proses pemberian daya/kekuatan/ kemampuan kepada pihak yang kurang atau belum berdaya.
Inti pemberdayaan meliputi 3 hal: pengembangan (enabling), memperkuat potensi (empowering), dan memperkuat kemandirian.
Kemampuan orang/kelompok rentan memiliki kebebasan (freedom), menjangkau sumber produktif, dan berpartisipasi dalam pembangunan.
Proses membuat berdaya (akal/ikhtiar). Upaya memberi power (kekuasaan) kepada yang powerless (masyarakat marginal).
Perluasan aset masyarakat miskin. Ada dua arti: to give power (memberi kekuasaan) dan to give ability (memberi kemampuan).
"Pada hakikatnya, pemberdayaan komunitas menurut Wilkinson adalah sebuah upaya atau perubahan (kemajuan) yang sengaja (purposive) dilakukan atau dikembangkan oleh para anggota sebuah komunitas itu sendiri... perubahan itu diyakini sebagai perbaikan (improvement)."
5 Prinsip Pemberdayaan (Herbert Rubin):
- Memerlukan break-even; keuntungan didistribusikan kembali ke masyarakat.
- Melibatkan partisipasi masyarakat (perencanaan & pelaksanaan).
- Kegiatan pelatihan tak terpisahkan dari pembangunan fisik.
- Memaksimalkan sumber daya (pembiayaan pemerintah/swasta).
- Berfungsi sebagai penghubung kepentingan makro (pemerintah) & mikro (masyarakat).
*Catatan: Terdapat juga peran aktor pemberdayaan (Pemerintah, Swasta, Masyarakat) yang saling bermitra.
8 Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan (Sumaryadi):
- Kesediaan komunitas menerima pemberdayaan.
- Persepsi pemegang kekuasaan yang takut berkorban.
- Budaya ketergantungan pada hierarki birokrasi.
- Dorongan pemimpin yang tak mau lepas kekuasaan.
- Batas kemampuan dan motivasi orang yang berbeda-beda.
- Kepercayaan pemimpin mengubah persepsi tentang anggotanya.
- Pemberdayaan tidak kondusif bagi perubahan cepat (butuh proses).
- Membutuhkan dukungan sumber daya (biaya dan waktu) yang besar.
B. Aksi Pemberdayaan Komunitas dan Partisipasi
1. Berbagai Aksi Pemberdayaan Komunitas
a. Bidang Sosial
Upaya meningkatkan kapasitas dan kemandirian memecahkan masalah sosial. Contohnya: Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) oleh Kemenkes untuk mempromosikan gaya hidup sehat.
b. Bidang Seni Budaya
Meningkatkan partisipasi dan penguasaan warisan budaya lokal. Contoh: pembentukan sanggar seni tari, musik tradisional, dan kriya untuk memperkuat identitas budaya generasi muda.
c. Bidang Ekonomi
Mengubah kondisi ekonomi demi kesejahteraan. Contoh: Program UMKM. Harus dibarengi bantuan modal, prasarana, kemitraan usaha, dan pendampingan.
d. Bidang Pendidikan
Pendidikan Nonformal (kursus/pelatihan berorientasi skill kerja) dan Pendidikan Informal (pendidikan sepanjang hayat dari keluarga/masyarakat, misal: taman baca, posyandu).
e. Bidang Lingkungan
Meningkatkan partisipasi pelestarian lingkungan. Mencakup edukasi, penyuluhan, dan penguatan kapasitas agar manusia seimbang dengan alam. Contoh konkret yang dilakukan masyarakat adalah bank sampah.
2. Partisipasi Masyarakat dalam Aksi Pemberdayaan
Petani Indonesia Bergotong Royong Menanam Padi
Wujud nyata partisipasi masyarakat pedesaan. Mereka bukan hanya objek, melainkan subjek pelaksana yang bekerja sama demi kesejahteraan komunitasnya.
Pada pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah, partisipasi komunitas sangat dibutuhkan. Komunitas bukan hanya sebagai objek pemberdayaan, tetapi juga sebagai subjek pelaksana proses pemberdayaan.
Alasan Partisipasi Penting (Moeljarto):
- Masyarakat adalah fokus utama dan tujuan akhir pembangunan.
- Menimbulkan rasa harga diri serta harkat martabat.
- Menciptakan umpan balik informasi (sikap, aspirasi, kebutuhan daerah).
- Memperluas zona penerimaan proyek pembangunan.
- Menyediakan lingkungan kondusif bagi aktualisasi potensi manusia.
- Pencerminan hak demokratis individu untuk dilibatkan.
- Cara efektif membangun kemampuan pengelola program khas daerah.
Partisipasi dan pemberdayaan merupakan strategi yang sangat potensial dalam rangka meningkatkan ekonomi, sosial, dan transformasi budaya yang berpusat pada rakyat (people centered).
Maksud Partisipasi Komunitas (Dadang Juliantara):
- Memungkinkan masyarakat mandiri mengorganisasi diri dan menolak pembangunan yang merugikan.
- Menjadi cermin ekspresi aspirasi dan garansi agar kepentingan rakyat tak diabaikan.
- Mengatasi persoalan dinamika pembangunan, titik pijak bahwa rakyat punya kemampuan (bukan kebodohan).
- Keterlibatan di pemerintahan yang terbuka menjadi basis "kepercayaan sosial politik" yang demokratis.
Tiga Tahap Partisipasi (Ericson):
1. Tahap Perencanaan
(Idea planning stage)
Masyarakat usul, saran, kritik dalam pertemuan. Terlibat di strategi/anggaran.
2. Tahap Pelaksanaan
(Implementation stage)
Terlibat langsung proyek, menyumbang ide, tenaga, uang, materi.
3. Tahap Pemanfaatan
(Utilization stage)
Memanfaatkan, memelihara (tenaga/uang), dan mengelola proyek yang selesai.
C. Pelaksanaan Pemberdayaan Komunitas Lokal
1. Strategi Pemberdayaan Komunitas Lokal
Strategi pemberdayaan masyarakat adalah suatu cara yang kita pilih untuk menggali kemampuan dari masing-masing komunitas dengan keanekaragaman kearifan lokal dalam mewujudkan harapan tiap komunitas. Melalui proses pemberdayaan, fungsi individu dapat beralih, dari yang semula hanya menjadi objek meningkat menjadi subjek.
Strategi Menurut Sunyoto Usman:
- a. Enabling (Menciptakan iklim): Pengenalan bahwa tiap manusia punya kemampuan berkembang.
- b. Empowering (Memperkuat potensi): Memberi pendidikan, kesehatan, modal, teknologi. Dorongan motivasi kerja keras. Penguatan institusi.
- c. Protection (Melindungi): Bukan mengisolasi, tapi mencegah eksploitasi lemah & persaingan tak seimbang.
Strategi 5P Menurut Edi Suharto:
- 1. Pemungkinan: Ciptakan iklim berkembang optimal, bebaskan dari sekat kultural/struktural.
- 2. Penguatan: Perkuat pengetahuan/kemampuan pecahkan masalah & tumbuhkan kemandirian.
- 3. Perlindungan: Lindungi kelompok lemah agar tak tertindas kelompok kuat (hapus diskriminasi).
- 4. Penyokongan: Beri bimbingan/dukungan agar tak makin terpinggirkan.
- 5. Pemeliharaan: Jamin keseimbangan distribusi kekuasaan agar semua punya peluang usaha.
2. Siklus Pemberdayaan (Terry Wilson)
7 Tahapan berkesinambungan:
- Keinginan masyarakat untuk berubah lebih baik.
- Mampu melepaskan halangan/faktor resisten kemajuan.
- Menerima kebebasan tambahan & merasa tanggung jawab.
- Mengembangkan peran/tanggung jawab lebih luas (minat & motivasi).
- Rasa memiliki besar = keluaran kinerja baik (hasil nyata terlihat).
- Perubahan perilaku/kesan diri sukses tingkatkan psikologis.
- Merasa tertantang untuk hasil yang lebih besar/baik lagi.
3. Tahap-Tahap Kegiatan
- Penyadaran dan perilaku peduli.
- Transformasi kemampuan (wawasan/skill) untuk ambil peran.
- Peningkatan intelektual & inovasi menuju mandiri.
- Awakening (Penyadaran): Sadar kemampuan & harapan baik.
- Understanding (Pemahaman): Paham diri & tuntutan komunitas.
- Harnessing (Memanfaatkan): Memutuskan digunakannya untuk komunitas.
- Using (Menggunakan): Skill jadi bagian hidup sehari-hari.
4. Evaluasi Kegiatan Pemberdayaan
Evaluasi adalah kegiatan sistematis untuk mengukur dan menilai objek berdasarkan pedoman (Seepersad & Henderson). Horby & Parnwell mengartikannya sebagai tindakan mengambil keputusan untuk menilai kegiatan, mencakup penilaian dampak kolektif dan deskripsi keluaran dari sudut pandang penerima manfaat.
Kegiatan evaluasi sangat penting untuk mengawasi aktivitas, mengukur ketercapaian tujuan, serta memutuskan apakah program dilanjutkan atau tidak. Evaluasi dilakukan dari perencanaan, pelaksanaan, hingga hasil agar sejalan. Hasilnya dijadikan bahan perbaikan (hikmah/kebijakan) ke depan.
a. Evaluasi Proses
Dilakukan saat program sedang berjalan. Tujuannya memperbaiki pelaksanaan. Fokus pada: apa yang dilakukan, cara kerja, siapa penerima, dan respons mereka.
b. Evaluasi Dampak
Dilakukan saat program sudah berakhir. Tujuannya mengukur dampak & menghimpun pelajaran berguna. Mengungkap seberapa besar manfaat/hasil yang diharapkan tercapai.
Berdasarkan Buku Sosiologi Kelas XII (Kurikulum Merdeka) - Maryati dkk. (Erlangga, 2023)
Semangat belajarnya, kamu pasti bisa!

0 komentar