-->
    BLANTERORBITv102

    KURIKULUM MERDEKA • KELAS XII • BAB 2 Globalisasi dan Masyarakat Digital

    Senin, 04 Mei 2026
    Materi Sosiologi: Globalisasi dan Masyarakat Digital

    KURIKULUM MERDEKA • KELAS XII • BAB 2

    Globalisasi dan Masyarakat Digital

    Menganalisis dunia yang seolah tanpa batas dan bagaimana masyarakat kita beradaptasi di era serba teknologi.

    Oleh: Sahidin

    Tujuan Pembelajaran

    • 1. Peserta didik diharapkan mampu menguraikan konsep globalisasi dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat di lingkungan sekitar.
    • 2. Peserta didik diharapkan mampu mendeskripsikan fenomena masyarakat digital dan perkembangannya.
    • 3. Peserta didik diharapkan mampu melakukan penelitian sederhana guna menganalisis sikap masyarakat terhadap fenomena globalisasi dan masyarakat digital.
    Siswa belajar digital

    A. Globalisasi dan Dampaknya terhadap Perubahan Sosial di Masyarakat

    Kemajuan teknologi memungkinkan komunikasi serta mobilisasi manusia dan barang menjadi lebih mudah dan cepat. Hal tersebut berdampak pada hubungan antarnegara. Antara negara satu dan negara lainnya seolah-olah tidak terdapat batas wilayah lagi. Hal inilah yang menandai terjadinya globalisasi.

    1. Pengertian Globalisasi

    Globalisasi sering disebut sebagai fenomena dunia berwajah banyak. Oleh karena itu, globalisasi sering diidentikkan dengan internasionalisasi, liberalisasi, universalisasi, westernisasi, dan deteritorialisasi. Berikut penjelasannya satu per satu.

    a. Internasionalisasi: Hubungan antarnegara dengan ciri meluasnya arus perdagangan dan penanaman modal.
    b. Liberalisasi: Tindakan melonggarkan kontrol pemerintah melalui pengurangan peraturan yang membatasi kegiatan sosial, terutama perekonomian dan perdagangan.
    c. Westernisasi: Ragam hidup model budaya Barat atau Amerika.
    d. Deteritorialisasi: Proses berubahnya masyarakat/kebudayaan lokal akibat meningkatnya interaksi antarmasyarakat yang melewati batas negara.

    Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan perjalanan dengan peningkatan keterkaitan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain.

    Allan Cochrane dan K. Pain menggambarkan keterkaitan antarmanusia di seluruh dunia sebagai berikut. Sekarang ini obat-obatan terlarang, kejahatan, penyakit, gagasan, gambar-gambar, berita, informasi, hiburan, polusi, barang, dan uang bergerak di seluruh penjuru dunia. Hal-hal tersebut melintasi perbatasan negara dan menghubungkan dunia dalam sebuah skala yang belum pernah terjadi dan dengan kecepatan yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya. Kenyataan bahwa kehidupan orang-orang di mana pun di dunia ini pada umumnya dibentuk oleh kejadian, keputusan, dan tindakan yang terjadi jauh dari tempat tinggal atau tempat mereka bekerja makin meningkat.

    Apa yang tengah digambarkan oleh Cochrane dan Pain adalah sebuah globalisasi, yakni munculnya sebuah sistem ekonomi dan budaya global yang membuat manusia di seluruh dunia menjadi sebuah masyarakat tunggal yang global.

    Dunia Global
    Beberapa tokoh mengemukakan pendapat mereka mengenai pengertian globalisasi.
    • a. Anthony Giddens: Menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah "dunia yang terus berubah tanpa terkendali". Dunia ini ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal yang sama, perubahan dan ketidakpastian. Globalisasi menurut Giddens adalah suatu proses radikalisasi dan universalisasi nilai-nilai modernitas peradaban Barat ke seluruh penjuru dunia yang kemudian berkembang menjadi modernitas global (Jati, 2012).
    • b. Peter Drucker: Menyebut globalisasi sebagai "zaman transformasi sosial". Lima puluh tahun kemudian, muncullah sebuah dunia baru. Globalisasi adalah sebuah istilah menyeluruh untuk proses yang berada di jantung ekonomi global (komunikasi instan, perdagangan cepat, pasar uang global). Ekonomi global memungkinkan pengusaha menanamkan uang di mana pun untuk memproduksi barang dan jasa.
    • c. Malcolm Waters: Dilihat melalui tiga dimensi (politik, ekonomi, kultur). Dilihat dari teori dependensi F.H. Cardoso, globalisasi memberi dampak negatif berupa homogenitas budaya (gaya hidup mirip kelas menengah) yang mereduksi nilai universal dan meminimalkan budaya lokal.
    • d. Martin Albrow: Keseluruhan proses ketika penduduk dunia terinkorporasi (tergabung) dalam masyarakat dunia yang tunggal atau masyarakat global.
    • e. Rosabeth Moss Kanter: Menganalogikan globalisasi seperti sebuah pusat perbelanjaan global, tempat gagasan dan produksinya tersedia di setiap tempat pada saat yang sama.
    • f. Mansour Fakih (2011): Proses yang ditandai pesatnya perkembangan paham kapitalisme (terbuka dan mengglobalnya peran pasar, investasi, produksi perusahaan transnasional) di bawah aturan perdagangan bebas global.

    Secara umum dapat didefinisikan (Ubaeidillah dan Rozak, 2016):

    • a. Globalisasi sebagai transformasi kondisi spasial temporal kehidupan (pengelolaan tata ruang dan waktu).
    • b. Globalisasi sebagai transformasi isi dan cara merasa serta memandang persoalan masyarakat dunia.
    • c. Globalisasi sebagai transformasi modus tindakan dan praktik (proses kaitan yang makin erat antar aspek kehidupan skala mondial/dunia).

    Merujuk pengertian tersebut, globalisasi adalah ketergantungan antarmasyarakat dunia dalam hal budaya, ekonomi, dan interaksi tanpa dihalangi batas negara/geografis.

    2. Karakteristik Globalisasi

    Robin Cohen dan Paul Kennedy (2013) berpendapat bahwa globalisasi adalah seperangkat transformasi yang saling memperkuat dunia. Karakteristiknya meliputi:

    a. Perubahan konsep ruang dan waktu: HP, TV satelit, internet mempercepat komunikasi. Pariwisata (pergerakan massa) memudahkan merasakan budaya berbeda.

    b. Saling bergantungnya ekonomi: Pertumbuhan perdagangan, pembagian kerja baru, dominasi perusahaan multinasional & organisasi seperti WTO.

    c. Peningkatan interaksi kultural: Lewat media massa (film, musik, berita, olahraga). Kita dapat mengonsumsi gagasan lintas budaya (mode, literatur, makanan).

    d. Meningkatnya masalah bersama: Aspek ekonomi, lingkungan hidup, dan permasalahan lazim lainnya.

    Cohen dan Kennedy menyimpulkan transformasi ini membawa kita pada globalisme, kesadaran pemahaman baru bahwa dunia adalah satu.

    3. Faktor Pendorong Globalisasi

    • a. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
    • b. Makin terbukanya sistem perekonomian negara-negara di dunia
    • c. Mengglobalnya pasar uang

    4. Transformasi Global

    Perdagangan Kapal Laut
    Eksplorasi dunia dan perdagangan antar benua telah ada berabad-abad lalu.

    Banyak sejarawan menyatakan globalisasi dapat dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional (fenomena abad-20). Sesungguhnya interaksi telah ada berabad-abad: (1) 1500 SM: Perdagangan Tiongkok & India (Jalur Sutra/Laut). (2) Dominasi Pedagang Muslim: di Asia-Afrika (menyebarkan agama, abjad, budaya). (3) Eksplorasi Eropa: Spanyol, Portugal, Inggris, Belanda (didukung revolusi industri & kolonialisasi). (4) Perang Dingin Berakhir: Komunisme runtuh, membenarkan kapitalisme. Sekat antarnegara kabur.

    Teori Sistem Dunia (Immanuel Wallerstein)

    Sistem sosial harus dilihat secara menyeluruh. Tiga sistem dalam sejarah: sistem mini, sistem kekaisaran dunia, dan sistem ekonomi dunia. Secara hierarkis, wilayah dunia dibagi 3:

    a. Negara Pusat (Inti)
    Industri lebih dulu, mendominasi negara lemah, aktor utama perubah dunia.
    b. Negara Semiperiferi
    Punya kemajuan industri/perdagangan, tapi masih bergantung pada negara pusat.
    c. Negara Periferi
    Ekonomi terbelakang, miskin, pemasok bahan mentah/pasar produk bagi negara pusat.

    Wallerstein: Negara bisa berpindah kelas sesuai dinamika sistem dunia.

    5. Teori-Teori Globalisasi

    1. Cochrane dan Pain (3 Posisi):
    • a. Kelompok globalis: Percaya globalisasi nyata. Negara/budaya lokal akan hilang diterpa ekonomi global.
    • b. Kelompok tradisionalis: Globalisasi hanya mitos/dibesar-besarkan. Fenomena ini sudah ada sejak dahulu.
    • c. Kelompok transformalis: Berada di antara keduanya. Kumpulan hubungan yang saling berkaitan tak langsung.
    George Ritzer:
    Asumsi: Awalnya via televisi/internet → Berakhir dengan terbentuknya kesadaran global.
    Thomas Friedman (Neoliberalisme):
    Tak terhindari & menguntungkan. Metafora Golden Straightjacket (Jaket Ikat Emas): membatasi pilihan pemerintah, tapi menawarkan kemakmuran jika adopsi "aturan emas".
    Roland Robertson (World Culture Theory):
    Kompresi dunia & kesadaran. Menimbulkan Glokalisasi (Global-Lokal) atau Kreolisasi/Hibridisasi (campuran budaya).
    Thomas Meyer (World Polity System):
    Isomorphism: Masyarakat jadi mirip dalam pemerintahan/kebijakan (hukum, pendidikan, kesehatan).
    William Robinson (Global Capitalism):
    Ekonomi dunia → Ekonomi global. Lahirnya Kelas Kapitalis Transnasional (Transnational Capitalist Class / TCC).

    6. Dampak Globalisasi

    Dampak perubahan sosial karena globalisasi meliputi berbagai bidang:

    a. Bidang Politik

    Belajar hal baik dari pelaksanaan demokrasi di negara lain untuk menyempurnakan demokrasi kita.

    b. Bidang Ekonomi

    Industri Global

    Meningkatnya saling ketergantungan ekonomi. Berujung munculnya pasar global tunggal. Menurut Tanri Abeng, jenisnya meliputi:

    • Globalisasi produksi: Perusahaan mendirikan pabrik di berbagai negara untuk tekan harga (lokasi manufaktur global).
    • Globalisasi pembiayaan: Mudah memperoleh pinjaman/investasi.
    • Globalisasi tenaga kerja: Kehadiran tenaga kerja asing sesuai kebutuhan.
    • Globalisasi jaringan informasi: Mudah mendapat informasi negara lain.
    • Globalisasi perdagangan: Penurunan tarif & persaingan ketat/adil.
    Upaya Mengatasi Ancaman Ekonomi Lokal: Mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan (persaingan sehat tanpa monopoli, berdayakan UMKM/Koperasi, kemitraan antara swasta-BUMN-UMKM).

    Faktor Kesenjangan Sosial Ekonomi: (1) Pendapatan kapita turun karena penduduk naik, (2) Pembangunan tak merata, (3) Mobilitas sosial rendah/malas, (4) Hancurnya kerajinan rakyat akibat monopoli, (5) Investasi hanya padat modal (capital intensive).

    Upaya Mengurangi Kesenjangan: Program BOS, JKN-KIS, Pembinaan UMKM, KUT/KUD/BPR maksimal, serta etos kerja produktif seluruh masyarakat.

    c. Bidang Sosial

    (1) Kemajuan IPTEK: Memudahkan aktivitas efisien. Ada sekolah internasional & kebutuhan SDM terampil.
    (2) Urbanisasi: Perusahaan asing butuh banyak pekerja → narik penduduk ke kota.
    (3) Kriminalitas: Keterbatasan ekonomi memicu jalan pintas (Cybercrime, perdagangan manusia, imigran gelap, bajak hak cipta).

    d. Bidang Budaya

    Kontak lintas budaya via media massa (TV, musik, film, mode makanan). Interaksi juga melalui wisatawan asing, delegasi negara, migrasi, dan ajang internasional yang menyebarkan nilai budaya.

    e. Bidang Agama

    Aplikasi ajaran konteks kekinian tanpa tabrak akidah. Memicu toleransi & imbas globalisasi sarana keagamaan.

    f. Bidang Lingkungan

    Polusi Industri

    Eksplorasi/eksploitasi merusak alam. 5 Pencemaran (D. Stanley dkk): Udara (asap), Air (limbah pabrik/pestisida), Kimiawi (plastik/detergen), Limbah padat (sampah bisnis), Polusi panas (suhu air/atmosfer naik).

    B. Perkembangan Masyarakat Digital

    Globalisasi didukung perkembangan iptek berupaya mendorong hidup manusia jadi mudah, murah, aman. Namun, perkembangan ini memiliki dampak negatif:

    1. Pergeseran tata nilai sosial (memudarnya gotong royong).
    2. Gaya hidup konsumtif (akibat tayangan materiel).
    3. Kesenjangan di berbagai bidang (ekonomi, pendidikan).
    4. Memudarnya apresiasi budaya lokal (minim minat pemuda terhadap kearifan lokal).

    Disruptive Era: Era munculnya inovasi yang tidak terlihat/disadari yang dapat mengganggu serta menghancurkan tatanan sistem lama.

    1. Masyarakat Digital

    Jaringan Global

    Masyarakat digital (Masyarakat Jaringan): Masyarakat yang memanfaatkan teknologi digital, terhubung via teknologi komunikasi modern.

    • Jan van Dijk (1991): Tipe masyarakat modern dengan infrastruktur media sosial, interaksi komputer mulai mengganti tatap muka.
    • Stein Braten: Menggunakan istilah nettsamfunn (Norwegia) untuk masyarakat yang saling terhubung via TIK.

    Manfaat Teknologi Digital:

    Akses info mudah Hapus jarak komunikasi Peluang kerja baru Peluang ekonomi Layanan publik efisien Hemat waktu
    Revolusi Industri: Bermula dari Inggris (1.0). Saat ini fase 4.0 (AI / Artificial Intelligence, Big Data, otomatisasi, IoT / Internet of Things). Beberapa negara sudah menuju fase 5.0.

    2 & 3. Kehidupan & Pengaruh Teknologi Digital

    Digitalisasi mengubah aspek kehidupan, melahirkan gaya hidup baru (e-commerce, marketplace pengganti pasar tradisional akibat kebijakan batas tatap muka).

    Dampak Positif

    • Pendidikan: Mudah dapat sumber ilmu (mandiri).
    • Ekonomi: Membuka kesempatan umum jadi produsen/distributor.
    • Sosial: Komunikasi tak terputus via sosmed/email.
    • Keuangan: Transaksi bank praktis via gawai (gadget).

    Dampak Negatif

    • Pergeseran nilai, norma, perilaku, lembaga.
    • Menurunkan keterampilan sosial (dunia nyata).
    • Penyebaran informasi negatif/hoaks.
    • Memunculkan sikap malas berpikir.
    • Memperuncing kesenjangan (penguasaan IPTEK & ekonomi).

    Perundang-undangan (UU ITE & Kejahatan Siber)

    Kejahatan siber mengancam stabilitas, sehingga dibuat aturan:

    • UU RI No. 11 Th 2008 ttg Informasi & Transaksi Elektronik (ITE).
    • UU RI No. 19 Th 2016 (Perubahan UU No.11/2008).
    • UU RI No. 1 Th 2024 (Perubahan Kedua UU No.11/2008).
    • UU RI No. 1 Th 2023 ttg KUHP (Mencabut sebagian UU 11/2008 & 19/2016).

    Manfaat UU: Mencegah korban, selesaikan kasus agar ada kepastian hukum, memberi efek jera pelaku.

    4. Peluang dan Tantangan Masyarakat Era Digital

    Peluang:

    • Partisipasi aktif ciptakan komunikasi dua arah.
    • Aksesibilitas global luas & target audiens tepat.
    • Model bisnis baru (monetisasi konten).
    • Lapangan pekerjaan baru berkembang cepat.
    • Aplikasi kampanye bantu pelestarian lingkungan.

    Tantangan:

    • Hilangnya identitas budaya lokal didominasi global.
    • Penyebaran informasi cepat tak terverifikasi (Hoaks).
    • Pelanggaran hak cipta & manipulasi konten.
    • Memicu polarisasi & konflik di medsos.
    • Otomatisasi/AI gantikan rutinitas pekerjaan manusia.

    C. Respons Masyarakat terhadap Globalisasi dan Era Digital

    1. Reaksi Komunitas Lokal

    Respons lokal terhadap arus globalisasi disimpulkan sebagai berikut:

    a. Glokalisasi (Roland Robertson): Kita memilih hal global yang menyenangkan lalu mengubahnya beradaptasi dengan budaya lokal.
    b. Kreolisasi (Cohen & Kennedy): Mencampur unsur global hasilkan penemuan baru. (Contoh: Musik beat Barat + irama tradisional Afrika).
    c. Gerakan Antiglobalisasi: Sulit tidak memikirkan "risiko" di dunia ini. Pilihan ini meningkatkan perlawanan di kalangan anak muda.
    d. Kesadaran Lokal: Pengetahuan global justru meningkatkan kesetiaan seseorang pada komunitas lokalnya.
    e. Pencegahan oleh Kelompok Religius/Etnis: Mencegah karena globalisasi dianggap penjajahan Barat/serangan keagamaan.

    2. Perspektif Masyarakat terhadap Globalisasi

    Menurut David Held, respons dibagi 3 kelompok:

    a. Kelompok Skeptis

    Protes

    (Antiglobalisasi) Ide berlebihan/bukan hal baru. Ekonomi belum full terintegrasi (regional APEC/UE lebih kuat).

    Globalisasi turunkan kesejahteraan, cuma untungkan kapitalis neoliberalisme. Ulrich Beck: Munculkan polarisasi kaya & miskin (ketimpangan akses).

    b. Kelompok Hiperglobalis

    Dunia Maya

    (Proglobalisasi) Berbanding terbalik dengan skeptis. Ini fenomena nyata tanpa batas negara/pasar.

    Pemerintah kalah kuat dari pasar bebas. Memicu denasionalisasi. Berujung pada pemerintahan global & hibridisasi budaya.

    c. Transformasionalis

    Adaptasi

    (Jalan Tengah) Pusat perubahan menuju modern tapi tetap mempertahankan pola lama.

    Pemerintah negara masih punya kekuatan. Proses 2 arah yang dinamis, percampuran berbagai jaringan global di politik, ekonomi, sosial, budaya.

    3. Sikap Selektif & 4. Menghadapi Tantangan

    Indonesia butuh sikap selektif, arif, dan bijaksana. Jangan sampai jadi materialistis dan luntur cinta tanah air. Tidak mungkin kita menutup diri. Solusi: kerja sama antar negara (terutama berkembang) & dorong potensi budaya lokal.

    Unsur Kepribadian Hadapi Globalisasi (Selo Soemardjan):

    • Setiap individu harus mempunyai pengetahuan yang luas.
    • Harus mempunyai keahlian.
    • Mempunyai cita-cita hidup.
    • Memiliki rasa harga diri dan kepercayaan diri.
    • Kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara.
    • Berperilaku sesuai nilai sosial dan kaidah hukum.
    • Kemampuan dan kebiasaan berpikir secara rasional.

    Berdasarkan Buku Sosiologi Kelas XII (Kurikulum Merdeka) - Maryati dkk. (Erlangga, 2023)

    Semangat belajarnya, kamu pasti bisa! 🚀