-->
    BLANTERORBITv102

    Materi Sosiologi SMA Kelas X Bab 1: Pengantar Sosiologi (Kurikulum Merdeka)

    Kamis, 30 April 2026

     


    🎯 Tujuan Pembelajaran

    Setelah mempelajari materi ini, diharapkan:

    1. Peserta didik mampu menyimpulkan sejarah sosiologi sebagai ilmu sosial.

    2. Peserta didik mampu memerinci beberapa konsep dan teori sosiologi.

    3. Peserta didik mampu menjelaskan beberapa paradigma dalam sosiologi.

    4. Peserta didik mampu menjelaskan fungsi dan peran sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji masyarakat.

    A. Sejarah Sosiologi

    1. Sejarah Perkembangan Sosiologi di Eropa dan Amerika

    Sosiologi pada awalnya merupakan bagian dari filsafat sosial yang membahas masyarakat. Menurut Brigette Berger dan Peter L. Berger (dalam Sunarto, 2004), sosiologi berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri karena adanya ancaman terhadap tatanan sosial yang selama ini dianggap seharusnya diterima saja (threats to the taken-for-granted world). L. Laeyendecker (dalam Sunarto, 2004) mengidentifikasi ancaman tersebut meliputi:

    • Revolusi Industri dan Revolusi Prancis

    • Kapitalisme pada akhir abad ke-15

    • Perubahan di bidang sosial dan politik

    • Perubahan akibat gerakan reformasi yang dicetuskan Martin Luther

    • Meningkatnya individualisme

    • Lahirnya ilmu pengetahuan modern, dan berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri.

    Menurut Laeyendecker, ancaman-ancaman tersebut menyebabkan perubahan-perubahan jangka panjang yang ketika itu sangat mengguncang masyarakat Eropa.

    Anthony Giddens (2001) menyatakan latar belakang lahirnya sosiologi adalah serangkaian perubahan besar yang disebabkan oleh dua revolusi besar yang terjadi di Eropa pada abad ke-18 dan abad ke-19. Kedua peristiwa ini secara permanen mengubah cara hidup manusia yang telah berlangsung selama ribuan tahun.


    Auguste Comte (1798-1857), seorang filsuf Prancis, melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat Eropa saat itu tidak saja berakibat positif, seperti berkembangnya demokrasi dalam masyarakat, tetapi juga berdampak negatif. Masyarakat tidak lagi mengetahui cara mengatasi perubahan akibat revolusi dan hukum-hukum yang dapat dipakai untuk mengatur tatanan sosial masyarakat.


    Comte menyarankan agar semua penelitian tentang masyarakat ditingkatkan menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri. Ia memberi nama bagi ilmu yang akan lahir itu dengan istilah sosiologi. Comte menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu tentang gejala sosial yang tunduk pada hukum alam dan tidak berubah-ubah. Demikian, atas jasanya terhadap lahirnya sosiologi, Auguste Comte disebut sebagai Bapak Sosiologi.

    Istilah sosiologi dipopulerkan oleh Herbert Spencer (1820-1903), melalui buku Principles of Sociology. Di dalam buku tersebut, Spencer mengembangkan sistem penelitian tentang masyarakat. Ia menerapkan teori evolusi organik pada masyarakat dan mengembangkan teori besar tentang evolusi sosial yang diterima secara luas di masyarakat.

    Sosiologi baru berkembang menjadi sebuah ilmu setelah Emile Durkheim (1858-1917) mengembangkan metodologi sosiologi melalui bukunya, The Rules of Sociological Method (1895). Durkheim menyatakan bahwa sosiologi memiliki objek kajian yang jelas, yaitu fakta sosial. Sementara untuk metodologi, Durkheim mengemukakan konsep bebas nilai (value free).

    Tokoh lain yang pemikirannya banyak berpengaruh dalam perkembangan sosiologi adalah Max Weber (1864-1920). Salah satu pemikirannya adalah mengenai perubahan sosial. Weber berpendapat bahwa ide dan nilai merupakan faktor yang sama pentingnya dengan ekonomi dalam perubahan sosial. Menurut Weber, motivasi dan ide-ide manusia merupakan pendorong terjadinya perubahan. Ia juga berpendapat bahwa struktur dalam masyarakat terbentuk dari serangkaian tindakan yang saling memengaruhi.


    Selain di Eropa, sosiologi juga berkembang di Benua Amerika. Salah satu sosiolog ternama dari Amerika Serikat adalah Talcott Parsons. Talcott Parsons dikenal dengan teorinya tentang mekanisme masyarakat dan prinsip organisasi yang melatarbelakangi struktur sosial. Parsons mengembangkan analisis fungsional dan menerapkannya pada berbagai karya tulisnya, salah satunya adalah The Social System (1951) yang secara rinci menguraikan fungsi berbagai struktur bagi dipertahankannya sistem sosial.

    2. Sejarah Perkembangan Sosiologi di Indonesia

    Sosiologi di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan setelah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Soenario Kolopaking adalah orang yang pertama kali memberikan kuliah sosiologi dalam bahasa Indonesia pada tahun 1948 di Akademi Ilmu Politik Yogyakarta (sekarang menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM).


    Sejak saat itu, sosiologi mulai mendapat tempat dalam insan akademisi di Indonesia, apalagi setelah semakin terbukanya kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menuntut ilmu di luar negeri. Sejak tahun 1950, banyak pelajar Indonesia yang khusus memperdalam sosiologi di luar negeri kemudian mengajarkan ilmu itu di Indonesia.


    Buku sosiologi dalam bahasa Indonesia pertama kali ditulis oleh Djody Gondokusumo dengan judul Sosiologi Indonesia (1946) yang memuat beberapa pengertian mendasar dari sosiologi. Sekitar tahun 1950, muncul buku Sosiologi yang diterbitkan oleh Bardosono yang merupakan sebuah diktat kuliah sosiologi mahasiswa.

    Selanjutnya, bermunculan buku-buku sosiologi baik yang ditulis oleh orang Indonesia maupun terjemahan dari bahasa asing. Contohnya:

    • Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia (1920) karya Hassan Shadily

    • Social Changes in Yogyakarta (1962) karya Selo Soemardjan

    Tulisan-tulisan tentang masalah-masalah sosiologi juga tersebar di berbagai majalah, koran, dan jurnal. Selain itu, muncul pula fakultas ilmu sosial dan politik di berbagai universitas di Indonesia. Di beberapa universitas, didirikan jurusan sosiologi yang diharapkan dapat mempercepat dan memperluas perkembangan sosiologi di Indonesia.


    Tokoh yang juga sangat berperan dalam perkembangan sosiologi di Indonesia adalah Selo Soemardjan. Selain banyak menulis buku sosiologi, Soemardjan juga mengajar sosiologi di Universitas Indonesia (UI) dan merupakan pendiri Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (sekarang menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) di universitas tersebut. Perannya yang besar membuat Selo Soemardjan dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia.

    💡 Cara Mudah Memahami & Contoh Sejarah Sosiologi:

    • Analogi: Bayangkan masyarakat Eropa zaman dulu tiba-tiba "sakit" parah karena Revolusi Industri (orang desa pindah ke kota, muncul kawasan kumuh, kejahatan naik) dan Revolusi Prancis (raja digulingkan, kekacauan aturan).

    • Auguste Comte melihat kekacauan ini dan berpikir, "Kita butuh dokter (ilmu baru) untuk mendiagnosis dan menyembuhkan penyakit masyarakat ini!" Ilmu baru itulah yang ia sebut Sosiologi.

    • Kata Kunci Tokoh: > * Comte = Bapak Sosiologi (yang kasih nama).

    • Durkheim = Bikin sosiologi jadi ilmu resmi (objeknya fakta sosial).

    • Selo Soemardjan = Bapak Sosiologi Indonesia.

    B. Sosiologi sebagai Ilmu Sosial

    1. Pengertian Sosiologi

    Berikut adalah pengertian sosiologi menurut para ahli:

    • Max Weber: Sosiologi mempelajari tindakan-tindakan sosial.

    • Pitirim A. Sorokin: Sosiologi mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial.

    • William F. Ogburn & Meyer F. Nimkoff: Sosiologi adalah ilmu tentang penelitian ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya adalah organisasi sosial.

    • Anthony Giddens: Sosiologi merupakan studi tentang kehidupan sosial manusia, kelompok, dan masyarakat.

    • Soerjono Soekanto: Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan dan hubungan-hubungan antara orang-orang dalam masyarakat.

    • Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi: Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan sosial.

    • Joseph Roucek dan Roland Warren: Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antarmanusia.

    Istilah sosiologi berasal dari kata socius dan logos. Socius (bahasa Latin) berarti 'kawan' dan logos (bahasa Yunani) berarti 'kata' atau 'berbicara'. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat; ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya.

    2. Objek Kajian Sosiologi

    Objek kajian sosiologi adalah masyarakat.

    • Selo Soemardjan: Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.

    • J. L. Gillin dan J. P. Gillin: Masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar. Mereka mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama.

    • Auguste Comte: Masyarakat merupakan kelompok makhluk hidup dengan realitas-realitas baru yang berkembang menurut hukum-hukumnya sendiri dan pola perkembangan tersendiri.

    Dalam mempelajari masyarakat sebagai objek kajian, sosiologi memfokuskan studinya pada:

    a. Hubungan timbal balik antara manusia satu dan manusia lainnya;

    b. Hubungan antara individu dan kelompok;

    c. Hubungan antara kelompok yang satu dan kelompok lainnya; dan

    d. Proses yang timbul dari hubungan-hubungan tersebut dalam masyarakat.

    Max Weber melihat bahwa pokok kajian sosiologi adalah tindakan sosial. Namun, tidak semua tindakan manusia dapat dianggap sebagai tindakan sosial. Suatu tindakan disebut tindakan sosial hanya jika tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. Max Weber mengelompokkan tindakan sosial menjadi empat, yaitu: tindakan tradisional, tindakan afektif, tindakan rasional instrumental, dan tindakan rasionalitas berorientasi nilai.

    C. Wright Mills, pokok bahasan sosiologi adalah imajinasi sosiologi (sociological imagination). Dalam buku The Sociological Imagination (1959), Mills menyebutkan bahwa imajinasi sosiologi diperlukan untuk dapat memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia.

    Peter L. Berger, pokok bahasan sosiologi adalah pengungkapan realitas sosial. Seorang sosiolog harus bisa menyingkap berbagai fenomena yang menjadi suatu realitas yang tidak terduga.


    💡 Cara Mudah Memahami & Contoh Objek & Tindakan Sosial:

    • Inti Sosiologi: Ilmu yang mempelajari "KITA" (masyarakat) dan bagaimana kita saling memengaruhi.

    • Contoh Tindakan Sosial (Menurut Weber):

    • Bukan Tindakan Sosial: Kamu bernyanyi sendirian di kamar mandi (tidak peduli orang lain).

    • Tindakan Sosial: Kamu bernyanyi di depan kelas untuk ujian seni budaya (dilakukan dengan mempertimbangkan guru dan teman-teman yang menonton).

    3. Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan

    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri karena telah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan. Adapun ciri-ciri sosiologi sebagai ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut:

    1. Bersifat Empiris: Sosiologi tidak spekulatif dan hanya menggunakan akal sehat. Sosiologi melakukan kajian tentang masyarakat berdasarkan hasil observasi.

    2. Bersifat Teoretis: Sosiologi berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi adalah kerangka dari unsur-unsur yang didapat dari observasi, disusun secara logis. Tujuannya juga menjelaskan hubungan sebab akibat.

    3. Bersifat Kumulatif: Teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori-teori yang telah ada sebelumnya, dalam arti memperbaiki, memperluas, dan memperhalus teori-teori lama.

    4. Bersifat Nonetis: Sosiologi tidak mencari baik atau buruk suatu fakta, tetapi menjelaskan fakta-fakta tersebut secara analitis.

    📖 Baca Juga: Pengertian Teori, Elemen, dan Fungsinya

    💡 Cara Mudah Memahami & Contoh Ciri Sosiologi:

    Gunakan jembatan keledai EM-TE-KU-NO (Empiris, Teoretis, Kumulatif, Nonetis):

    • Empiris (Fakta/Nyata): Peneliti turun ke lapangan melihat langsung geng motor, bukan sekadar nebak-nebak di kamar.

    • Teoretis (Menjelaskan Sebab-Akibat): Dari observasi tadi, disimpulkan "Geng motor muncul karena kurangnya fasilitas penyaluran hobi remaja."

    • Kumulatif (Menyempurnakan): Teori lama bilang geng motor itu murni kriminal. Teori baru (menyempurnakan) bilang geng motor juga bentuk pencarian identitas.

    • Nonetis (Tidak Menghakimi): Sosiolog tidak bilang geng motor itu "anak nakal/berdosa" (tidak menilai baik/buruk), tapi murni mencari tahu kenapa mereka begitu.

    4. Sosiologi sebagai Ilmu dengan Paradigma Ganda

    Paradigma dapat diartikan sebagai kerangka teoretis (theoretical framework), kerangka konseptual (conceptual framework), kerangka pemikiran (frame of thinking), sudut pandang (perspective), atau pendekatan (approach). Ritzer menyatakan paradigma adalah pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari suatu cabang ilmu pengetahuan.

    George Ritzer dan Wendy W. Murphy dalam bukunya, Introduction to Sociology (2020), menulis bahwa sosiologi tidak memiliki sebuah paradigma dominan atau tunggal. Sosiologi merupakan ilmu dengan berbagai paradigma atau paradigma ganda (multiple-paradigm science).

    Dalam bukunya, Sociology: A Multiple Paradigm Science (1975), Ritzer menyatakan ada tiga paradigma utama sosiologi:


    a. Paradigma Fakta Sosial

    Model paradigma ini adalah karya Emile Durkheim, khususnya buku The Rules of Sociological Method dan Suicide. Berdasarkan paradigma ini, kajian sosiologi adalah fakta sosial, baik sesuatu yang berbenda atau nyata ada (material entity) maupun tidak nyata ada (non material entity), seperti ide atau gagasan. Teori yang termasuk paradigma ini antara lain teori fungsionalisme struktural, teori konflik, dan teori sistem.

    b. Paradigma Definisi Sosial

    Model paradigma ini adalah berbagai karya Max Weber tentang tindakan sosial (social action). Weber tertarik pada makna subyektif yang diberikan individu terhadap tindakan yang dilakukannya. Bagi Weber, pokok persoalan ilmu sosial adalah hal mikro seperti proses pendefinisian sosial dan akibat-akibat dari suatu aksi serta interaksi sosial, bukan hal makro seperti struktur sosial atau pranata sosial. Teori yang termasuk paradigma ini antara lain teori tindakan sosial (action theory), teori interaksionisme simbolik (symbolic interactionism), teori fenomenologi (phenomenology), dan eksistensialisme (existentialism).

    c. Paradigma Perilaku Sosial

    Model paradigma ini adalah karya B. F. Skinner. Subyek dari paradigma ini adalah perilaku (behavior) individu yang menimbulkan akibat atau perubahan terhadap tindakan selanjutnya, khususnya penghargaan (reward) yang memancing perilaku yang diinginkan serta hukuman (punishment) yang mencegah perilaku yang tidak diinginkan. Menurut teori ini, manusia bukan makhluk bebas, seseorang menyesuaikan perilaku terkait respons terhadap lingkungan sosialnya. Teori yang termasuk paradigma ini antara lain teori pertukaran (exchange theory).

    💡 Cara Mudah Memahami & Contoh Paradigma Ganda:

    Paradigma itu seperti "Kacamata". Satu peristiwa bisa dilihat berbeda tergantung kacamata yang dipakai. Contoh peristiwa: Siswa memakai seragam sekolah.


    • Kacamata Fakta Sosial: Siswa pakai seragam karena ada aturan sekolah yang memaksa dari luar (kalau tidak pakai, dihukum).

    • Kacamata Definisi Sosial: Siswa pakai seragam karena bagi dia, itu memberi makna/kebanggaan bahwa dia adalah bagian dari SMA tersebut (berasal dari niat/makna dalam diri).

    • Kacamata Perilaku Sosial: Siswa pakai seragam murni sebagai bentuk respons, karena kemarin dia ditegur guru (hukuman/punishment) jadi hari ini dia pakai agar dipuji disiplin (penghargaan/reward).

    5. Fungsi dan Peran Sosiologi

    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni, karena sosiologi memiliki pengetahuan (knowledge), sistematis, dan objektif. Sosiologi disebut sebagai ilmu pengetahuan terapan karena sosiologi menggunakan cara-cara pengetahuan ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah praktis.

    a. Fungsi Sosiologi

    Fungsi sosiologi bagi masyarakat adalah sebagai berikut:

    1. Untuk pembangunan: Sosiologi berfungsi untuk memberikan data sosial yang diperlukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian pembangunan.

    2. Untuk penelitian: Berdasarkan data yang dihasilkan dari penelitian sosiologis para pengambil keputusan dapat menyusun rencana penyelesaian suatu masalah sosial.

    3. Untuk advokasi kebijakan: Sosiologi berfungsi sebagai basis data dan sumber berlangsungnya advokasi kebijakan dalam isu-isu publik, seperti pemberdayaan masyarakat marjinal (kelas buruh, petani, dan nelayan) atau konflik horizontal di masyarakat. Dalam pengambilan kebijakan dari berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta, peran sosiologi sangat dibutuhkan karena dapat memberikan data yang akurat sebagai bahan pertimbangan kebijakan.

    b. Peran Sosiologi

    Bentuk-bentuk peran sosiolog tersebut, antara lain sebagai berikut:

    1. Sosiolog sebagai ahli riset: Seperti halnya ilmuwan lain, sosiolog berfokus pada pengumpulan dan penggunaan data. Sosiolog melakukan riset ilmiah. Tujuannya adalah untuk mencari data kehidupan sosial masyarakat. Data itu kemudian diolah menjadi karya ilmiah yang berguna bagi pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah-masalah di masyarakat.

    2. Sosiolog sebagai konsultan kebijakan: Prediksi sosiologi dapat membantu memperkirakan pengaruh kebijakan sosial yang mungkin terjadi. Setiap kebijakan adalah suatu prediksi. Artinya, kebijakan diambil dengan harapan menghasilkan pengaruh atau dampak yang diinginkan. Namun, kebijakan yang diambil tidak selalu memenuhi harapan tersebut. Salah satu penyebabnya adalah ketidakakuratan kesimpulan atau dugaan terhadap suatu permasalahan.

    3. Sosiolog sebagai praktisi: Beberapa sosiolog terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan masyarakat. Mereka memberi saran-saran, misalnya dalam penyelesaian masalah hubungan masyarakat, hubungan antarkaryawan, masalah moral, atau hubungan antarkelompok dalam organisasi. Dalam kedudukan tersebut, sosiolog bekerja sebagai ilmuwan terapan (applied scientist) yang harus memperhatikan nilai-nilai budaya dan karakter kelompok yang dibahasnya karena keduanya merupakan nilai ideal. Mereka dituntut menggunakan pengetahuan ilmiah dalam mencari nilai-nilai tertentu, seperti efisiensi kerja, efektivitas program, atau kegiatan masyarakat.

    4. Sosiolog sebagai guru atau pendidik: Mengajar merupakan salah satu kegiatan yang dapat digeluti oleh seorang sosiolog. Sebagai seorang pendidik, sosiolog berperan dalam mengajarkan dan mengembangkan sosiologi sebagai ilmu di berbagai bidang dengan memberikan contoh-contoh yang terdapat di masyarakat.

    💡 Cara Mudah Memahami & Contoh Fungsi dan Peran:

    • Fungsi (Kegunaan Ilmunya): Sebelum Pemda membangun waduk (Pembangunan), ilmu Sosiologi digunakan meneliti warga sekitar (Penelitian) agar tahu cara memindahkan warga tanpa konflik (Advokasi).

    • Peran (Pekerjaan Orangnya): > * Ahli Riset: Meneliti penyebab anak putus sekolah.

    • Konsultan Kebijakan: Memberi masukan ke Kemendikbud soal sistem zonasi.

    • Praktisi: Menjadi HRD di perusahaan untuk menyelesaikan konflik antar karyawan.

    • Guru/Pendidik: Mengajarkan sosiologi di kelas SMA.

    6. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Lain

    Seorang sosiolog, sama seperti psikolog, antropolog, ilmuwan politik, ahli ekonomi, dan ilmuwan sosial lainnya, mempelajari perilaku sosial dan perubahan sosial (Andersen, 2007). Perbedaan antara sosiologi dan disiplin ilmu lainnya bukan pada topik masing-masing penelitian, tetapi dalam perspektif disiplin masing-masing terhadap objek kajiannya.

    Dalam penelitiannya, sosiologi sama seperti ilmu sosial yang lain juga menggunakan angka-angka matematis, seperti data statistik, sebagai salah satu alat analisis.


    Sumber:

    Maryati, Kun, Juju Suryawati, Nina R. Suminar. 2022. IPS: Sosiologi untuk SMA/MA Kelas X. Erlangga. Jakarta