-->
    BLANTERORBITv102

    CARA ADAPTASI MASYARAKAT SEKARAN DALAM HAL PERTANIAN DAN PERUBAHAN YANG DIAKIBATKAN ADANYA UNNE

    Kamis, 09 September 2021

     


    Sumber: sindonews

    PENDAHULUAN

    Para antropolog sepakat bahwa suatu komunitas atau masyarakat memiliki pengetahuan yang digunakan untuk menafsirkan unsur-unsur lingkungan alam dan mengelolanya menjadi sumber kehidupannya. Istilah yang diberikan oleh mereka berbedabeda, ada yang menyebut pengetahuan lokal (local knowledge),pengetahuan demikian, apapun namanya, secara umum, ia merupakan pengetahuan yang dikembangkan melalui pengalaman (experimental learning) tentang suatu realitas. Prosesnya melalui pengamatan dan percobaan dalam rentang waktu yang cukup panjang, sehingga perkembangannya tidak secepat perkembangan pengetahuan modern.Sistem pengetahuan lokal memandang bahwa manusia (mikrokosmos) dengan alam (makrokosmos) memiliki hubungan yang harmonis, suatu paham yang didasarkan pada perspektif heterogenitas (keanekaragaman). Karenanya, dalam sistem pengetahuan lokal tidak dikenal pengetahuan masyarakat merupakan hasil dari suatu hubungan dialektis antara pengetahuan itu sendiri dengan landasan sosialnya. Dengan kata lain, individu dapat bertindak berdasarkan atas pengalaman dan kepercayaan mengenai dunia, diri, dan tindakannya.

    Berdasarkan pengalaman dan kepercayaan itu, seseorang dapat mengambil keputusan memilih berbagai pilihan dan melakukan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga terakumulasi pengetahuan individu yang lama-kelamaan menjadi pengetahuan lokal. Pengetahuan lokal tersebut juga akan dimiliki oleh individu-individu lainnya sehingga terbentuk pengetahuan kolektif sebagai suatu konstruksi sosial baru yang digunakan dalam menghadapi dan memperlakukan lingkungannya.

     Dengan demikian, kajian tentang local wisdom masyarakat Sekaran tentang sistem pertanian  dapat dianalisis melalui pola adaptasinya terhadap lingkungan. Persepsi dalam hal ini dimaknai sebagai pandangan, pengamatan atau tanggapan orang terhadap suatu benda, kejadian, tingkah laku manusia, atau hal-hal yang ditemui sehari-hari.

    KONSEP ADAPTASI

                Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kemampuan adaptasi petani transmigran dari berbagai latar belakang budaya berbeda (Jawa, Sunda dan Banjar) yang hidup di daerah transmigrasi pasang surut dan irigasi Kalimantan Selatan dengan kendala ekonomi dan ekologi yang sama. Pada dasarnya kelompok sosial dan lembaga kemasyarakatan di kalangan berbagai suku bangsa tersebut adalah bentuk struktural dari masyarakat, dan dinamikanya tergantung pada pola perilaku warganya dalam menghadapi suatu situasi tertentu (Poerwanto, 1999). Hal ini diperkuat oleh Dharmawan (2007) bahwa daya kebertahanan hidup (survival capacity) atau keberhasilan para transmigran dalam melanjutkan kehidupan dan membangun sistem penghidupannya, sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya: infrastruktur sosial, struktur sosial, dan supra-struktur sosial.

    Adaptasi merupakan salah satu konsep dasar di dalam antropologi ekologi. Alland (1975) mendefinisikan adaptasi sebagai suatu strategi yang digunakan oleh manusia dalam masa hidupnya untuk mengantisipasi perubahan lingkungan  baik fisik maupun sosial. Sementara itu, McElroy dan Twonsend (dalam Abdoellah, 1990) berpendapat bahwa kemampuan suatu individu untuk beradaptasi, mempunyai nilai bagi kelangsungan hidupnya. Makin besar kemampuan adaptasi suatu makhluk hidup, makin besar pula kecenderungan hidup makhluk tersebut. Dengan demikian, adaptasi merupakan suatu proses di mana suatu individu berusaha untuk memaksimalkan kesempatan hidupnya. Jadi, adaptasi merupakan suatu proses yang sangat dinamis karena lingkungan dan populasi manusia selalu berubah.

    Teori di atas mengingatkan kembali kepada kita bahwa manusia dan lingkungan merupakan bagian yang dinamis dari ekosistemnya, yang terjadi baik pada masyarakat tradisional maupun masyarakay modern. Mereka juga menyadari adanya hubungan timbale balik yang fungsional antara system sosial dan biofisik yang menyatukan keduanya dalam satu ekosistem.

    Sahlins (1968:367) seperti juga pendapat yang lainnya, menyatakan adaptasi merupakan suatu proses di mana indovidu berusaha untuk memaksimalkan kesempatan hidupnya. Sementara itu, Bennet (1966:50) menyatakan bahwa adaptasi merupakan suatu proses saling hubungan antar manusia dengan lingkungan fisik, bahwa individu tersebut berusaha untuk menyesuaikan tingkah lakunya sesuai dengan tantangan lingkungan fisik.

    Cara pandang demikian sebenarnya sejak lama telah digunakan oleh steward yang disebut ekologi budaya. Steward (1995:65) menjelaskan ada hubungan timbal balik antara lingkungan fisik dan kebudayaan. Dasar teori Steward  ini ditindaklanjuti oleh studi Geertz dari etnis Jawa. Teori Geertz (1976:10) menegaskan bahwa sifat adaptasi suatu komunitas tergantung pada perjuangan keras atau kecerdikan mereka untuk mengalahkan lingkungan alam.

    Proses adaptasi yang digambarkan

    oleh Steward ini dapat terjadi di dalam struktur masyarakat manapun juga.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Kelurahan Sekaran merupakan salah satu kelurahan yang secara administratif berada di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah. Sebelum bergabung dengan Kota Semarang, Kelurahan Sekaran dahulu merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Semarang yang berpusat di Ungaran. Secara geografis, letak Kelurahan Sekaran cukup strategis sebab diapit oleh 2 (dua) pusat pemerintahan Kabupaten/Kota. Jarak Kelurahan Sekaran dengan Ungaran, ibukota Kabupaten Semarang adalah sekitar 9 km sedangkan dari Kota Semarang sebagai pusat pemerintahan Kota Semarang sekaligus sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah hanya berjarak 8 km.

    Kelurahan Sekaran berada di wilayah administratif Kecamatan Gunungpati yang berdasarkan data monografi desa tahun 2010 memiliki jumlah penduduk 6.241 orang. Jumlah penduduk Sekaran berdasarkan komposisi jenis kelamin terdapat 3.195 laki-laki, 3.046 perempuan dengan jumlah Kepala Keluarga 1.542 orang. Dari gambaran jumlah tersebut dapat dikatakan komposisi antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan cukup seimbang.

    Sebagaimana dipahami, dalam beradaptasi dengan lingkungan, masyarakat sekaran  memperoleh dan mengembangkan suatu kearifan yang berwujud pengetahuan atau ide, norma adat, nilai budaya, aktivitas, dan peralatan sebagai hasil abstraksi mengelola lingkungan.  Seringkali pengetahuan mereka tentang lingkungan setempat dijadikan pedoman yang akurat dalam mengembangkan kehidupan di lingkungan pemukimannya. 

    Degan Disesuaikan topografi Sekaran,yang berbukit dan juga merupakan jenis tanah yang keras dan juga akses air yang tak begitu baik maka  pertanian di daerah ini bukanlah pertanian sawah melainkan tanaman keras seperti: pepaya, singkong, pisang, sengon dan sebagainya. Walaupun akibat pembangunan yang terjadi akibat adanya universitas negeri semarang dan juga akibat mulaih bertambahnya pendatang yang merupakan mahasiswa ataupun pendatang yang membuka usaha atau juga berusaha menuntut pengurangan lahan pertaniaan menjadi bangunan rumah yang secara jelas mengurangi lahan yang tadinya sebagai lahan pertaniaan atau  Hingga saat ini lahan-lahan pertanian penduduk masih ada meski berada di luar Sekaran. Hal ini dikarenakan tidak ada lagi lahan pertanian di wilayah Sekaran. Lahan di wilayah Sekaran sudah beralih fungsi untuk lahan usaha disesuaikan dengan kebutuhan istilah modernya adalah alih fungsi lahan pertaniaan menjadi pemukimana warga Unnes.

    Seperti sudah dijelaskan diatas bagaiamana topografi wilayah sekaran yang berbukit dan juga dengan akses air yang sulit menuntut masyarakat menanam tanaman yang tahan akan kekeringan serta cocok dengan keadaan geografis wilayah sekaran seperti Tanaman yang menjadi komoditas masyarakat Sekaran adalah tanaman buah dan kayu sengon, seperti: singkong, pisang kluthuk, pepaya, durian, dan sebagainya.hal ini sebagai bentuk adaptasi masyarakat sekaran dengan topografi dan keadaan geografis daerah sekaran. Dengan interaksi dengan masyarakat pendatang khususnya mahasiswa serta interaksi dengan pemerintah yang lebih dekat  menjadikan   Perilaku petani atau masyarakat sekaran pada umumnya  dalam mengelola lahannya sudah menggunakan metode yang  modern, misalnya dengan penggunaan pupuk semprot (pestisida) bukan pupuk kandang. Persepsi mereka tentang lingkungan sangatlah sederhana, bahwa ternyata mengolah lahan pertanian sebagai aktifitas mereka sehari-hari merupakan bagian dari upaya mereka dalam melestarikan lingkungan 

    Perkembangan daerah Sekaran dengan keberadaan Kampus Unnes Sekaran telah merubah persepsi mereka tentang lingkungan alam (tanah). Perubahan persepsi tersebut sebagai cara masyarakat beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi setelah pembangunan Unnes. Dalam kajian ekologi budaya, pola adaptasi manusia dengan lingkungan adalah cara sesuatu budaya memanfaatkan lingkungan. Laksono (2001: 14) mengatakan bahwa persepsi tersebut antara lain ditentukan oleh penglihatan, pendengaran, penilaian, dan interpretasi yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman masa lalu.

    Masyarakat Sekaran dari pengalaman mereka sebelum dan sesudah pembangunan Unnes dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Mereka tidak lagi memandang tanah sebagai sumber penghidupan mereka yang harus mereka jaga dan lestarikan, melainkan sebuah komoditas yang dapat mendatangkan uang. Hal ini terbukti dengan sebagian masyarakat Sekaran dan sekitarnya yang memilih untuk menjual tanah mereka kepada pendatang, yang oleh pendatang biasanya dipergunakan untuk tempat kos maupun usaha lain yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Terlebih tidak membutuhkan waktu lama bagi masyarakat Sekaran untuk menjual tanahnya karena selalu ada orang yang berminat untuk membeli tanah di Sekaran dengan harga yang tinggi.

    Aktifitas pertanian yang berbeda dengan aktifitas pertanian pada masyarakat pegunungan yang melimpah dengan air. Menjadikan adanya sebuah Transformasi nilai akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan kebersihan lingkungan yang khas sesuatu local wisdom yang kerap mereka lakukan melalui ritual dan aktifitas budaya yang mereka selenggarakan. Mulai dari nyadran, bersih desahal diatas berfungsi sebagai mana bentuk komfromi manusia dengan lingkunganganya karena hala diatas sebagai motivasi masyarakat untuk selalu berkonfromi dalam bentuk nilai dan norma masyarakat terhadap lingkungan yang mereka tinggali

    Namun secara umum seiring dengan dibangunnya Universitas Negeri Semarang (Unnes), terjadi perubahan pada pola hidup masyarakat Sekaran. Hal diatas lah yang menjadikan masyarakat sekaran lebih senang menjual tanah yang masyarakat miliki. hal itulah yang menjadikan masyarakat kembali mendapati kenyataan bahwa masyarakat harus mengolah pengetahuan masayrakat untuk beradabtasi terhadap tanah pertaniaan yang beralih fungsi menjadi pemukiman penduduk. Hal itulah yang menjadikan masyarakat lebih beralih dungsi kepada pekerjaan non agraris atau pertaniaan.

    Dengan wilayah pertanian yang semakin berkurang menjadikan masyarakat sekaran pertanian bukan pada pertaniaan intensif namun melainkan dengan istilah kebun. Kebun disinipun dalam bentuk bukan sebenarnya karena masyrakat hanya menanam pohon ataupun buah buahan yang mereka konsumsi sendiri. Tidak intensif karena hanya dirawat seadanya tanpa perawatan intensif terhadap tumbuhan yang masyarakat tanam yang umumnya berada didekat rumah.

    Dengan tergerusnya lahan pertanian yang diakibatkan oleh adanya pertumbuhan pemukiman yang semakin pesat.menjadikan pola bertani berubah menjadi penyedian jasa atau dengan berdagang menyediaakna kebutuhan masyarakat asli ataupun masyarakat pendatang

                SIMPULAN

    Masyarakat Sekaran Memiliki Sistem Pengetahuan Yang Didapat Dari Pengalaman Masyarakat alami sebagai implikasi dari interaksi masyarakat dengan lingkungan. Pada masyarakat sekaran memiliki sistem pertanian yang berbeda masyarakat pertanian lainya dengan jenis topografi  perbukitan serta memiliki akses air yang tak sebaik daerah pertanian lainya di daerah jawa menjadikan masyrakat bertani tanaman keras yang notabene tahan terhadap karakteristik topografi daerah sekaran. Sistem pertania tanaman keras ini sebagai pengetahuan adaptasi masyarakat terhadap kenyaatan lingkungan yang didapati. Namun dengan adanya pembangunan unnes yang mengakibatkan semakin menyempitanya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi bangunan bangunan rumah tinggal menjadikan masyarakat bukan lagi beranggapan pertanian  sebagai bentuk  masyarakat mengolah lingkungan sekitar. Hal itulah yang menjadi kenyataan lingkunagan yang masyarakat sekaran hadapai dengan adanya pembangaunan pusat pendidikan tinggi.


     

    DAFTAR PUSTAKA

    Ahimsa-Putra, H.S. 1986. ‘Antropologi Ekologi: Beberapa Pendekatan dan

    Perkembangannya”. Dalam Masyarakat Indonesia: Majalah Ilmu-ilmu

    Luthfi, A. 2010. Persepsi Masyarakat Sekaran Tentang Konservasi Lingkungan. Jurnal

    Komunitas 3 (1)  : 29-39