Sumber: sindonews
PENDAHULUAN
Para
antropolog sepakat bahwa suatu komunitas atau masyarakat memiliki pengetahuan
yang digunakan untuk menafsirkan unsur-unsur lingkungan alam dan mengelolanya
menjadi sumber kehidupannya. Istilah yang diberikan oleh mereka berbedabeda,
ada yang menyebut pengetahuan lokal (local knowledge),pengetahuan demikian,
apapun namanya, secara umum, ia merupakan pengetahuan yang dikembangkan melalui
pengalaman (experimental learning) tentang suatu realitas. Prosesnya melalui
pengamatan dan percobaan dalam rentang waktu yang cukup panjang, sehingga
perkembangannya tidak secepat perkembangan pengetahuan modern.Sistem
pengetahuan lokal memandang bahwa manusia (mikrokosmos) dengan alam
(makrokosmos) memiliki hubungan yang harmonis, suatu paham yang didasarkan pada
perspektif heterogenitas (keanekaragaman). Karenanya, dalam sistem pengetahuan
lokal tidak dikenal pengetahuan masyarakat merupakan hasil dari suatu hubungan
dialektis antara pengetahuan itu sendiri dengan landasan sosialnya. Dengan kata
lain, individu dapat bertindak berdasarkan atas pengalaman dan kepercayaan
mengenai dunia, diri, dan tindakannya.
Berdasarkan
pengalaman dan kepercayaan itu, seseorang dapat mengambil keputusan memilih
berbagai pilihan dan melakukan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
terakumulasi pengetahuan individu yang lama-kelamaan menjadi pengetahuan lokal.
Pengetahuan lokal tersebut juga akan dimiliki oleh individu-individu lainnya
sehingga terbentuk pengetahuan kolektif sebagai suatu konstruksi sosial baru
yang digunakan dalam menghadapi dan memperlakukan lingkungannya.
Dengan demikian, kajian tentang local wisdom masyarakat Sekaran tentang
sistem pertanian dapat dianalisis
melalui pola adaptasinya terhadap lingkungan. Persepsi dalam hal ini dimaknai
sebagai pandangan, pengamatan atau tanggapan orang terhadap suatu benda, kejadian,
tingkah laku manusia, atau hal-hal yang ditemui sehari-hari.
KONSEP
ADAPTASI
Penelitian ini bertujuan untuk
menggambarkan kemampuan adaptasi petani transmigran dari berbagai latar
belakang budaya berbeda (Jawa, Sunda dan Banjar) yang hidup di daerah
transmigrasi pasang surut dan irigasi Kalimantan Selatan dengan kendala ekonomi
dan ekologi yang sama. Pada dasarnya kelompok sosial dan lembaga kemasyarakatan
di kalangan berbagai suku bangsa tersebut adalah bentuk struktural dari
masyarakat, dan dinamikanya tergantung pada pola perilaku warganya dalam
menghadapi suatu situasi tertentu (Poerwanto, 1999). Hal ini diperkuat oleh
Dharmawan (2007) bahwa daya kebertahanan hidup (survival capacity) atau
keberhasilan para transmigran dalam melanjutkan kehidupan dan membangun sistem
penghidupannya, sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya:
infrastruktur sosial, struktur sosial, dan supra-struktur sosial.
Adaptasi
merupakan salah satu konsep dasar di dalam antropologi ekologi. Alland (1975)
mendefinisikan adaptasi sebagai suatu strategi yang digunakan oleh manusia
dalam masa hidupnya untuk mengantisipasi perubahan lingkungan baik fisik maupun sosial. Sementara itu,
McElroy dan Twonsend (dalam Abdoellah, 1990) berpendapat bahwa kemampuan suatu
individu untuk beradaptasi, mempunyai nilai bagi kelangsungan hidupnya. Makin
besar kemampuan adaptasi suatu makhluk hidup, makin besar pula kecenderungan
hidup makhluk tersebut. Dengan demikian, adaptasi merupakan suatu proses di
mana suatu individu berusaha untuk memaksimalkan kesempatan hidupnya. Jadi,
adaptasi merupakan suatu proses yang sangat dinamis karena lingkungan dan
populasi manusia selalu berubah.
Teori
di atas mengingatkan kembali kepada kita bahwa manusia dan lingkungan merupakan
bagian yang dinamis dari ekosistemnya, yang terjadi baik pada masyarakat
tradisional maupun masyarakay modern. Mereka juga menyadari adanya hubungan
timbale balik yang fungsional antara system sosial dan biofisik yang menyatukan
keduanya dalam satu ekosistem.
Sahlins
(1968:367) seperti juga pendapat yang lainnya, menyatakan adaptasi merupakan
suatu proses di mana indovidu berusaha untuk memaksimalkan kesempatan hidupnya.
Sementara itu, Bennet (1966:50) menyatakan bahwa adaptasi merupakan suatu
proses saling hubungan antar manusia dengan lingkungan fisik, bahwa individu
tersebut berusaha untuk menyesuaikan tingkah lakunya sesuai dengan tantangan
lingkungan fisik.
Cara
pandang demikian sebenarnya sejak lama telah digunakan oleh steward yang
disebut ekologi budaya. Steward (1995:65) menjelaskan ada hubungan timbal balik
antara lingkungan fisik dan kebudayaan. Dasar teori Steward ini ditindaklanjuti oleh studi Geertz dari
etnis Jawa. Teori Geertz (1976:10) menegaskan bahwa sifat adaptasi suatu
komunitas tergantung pada perjuangan keras atau kecerdikan mereka untuk
mengalahkan lingkungan alam.
Proses
adaptasi yang digambarkan
oleh
Steward ini dapat terjadi di dalam struktur masyarakat manapun juga.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Kelurahan
Sekaran merupakan salah satu kelurahan yang secara administratif berada di
Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah. Sebelum bergabung
dengan Kota Semarang, Kelurahan Sekaran dahulu merupakan bagian dari wilayah
Kabupaten Semarang yang berpusat di Ungaran. Secara geografis, letak Kelurahan
Sekaran cukup strategis sebab diapit oleh 2 (dua) pusat pemerintahan
Kabupaten/Kota. Jarak Kelurahan Sekaran dengan Ungaran, ibukota Kabupaten
Semarang adalah sekitar 9 km sedangkan dari Kota Semarang sebagai pusat
pemerintahan Kota Semarang sekaligus sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah hanya
berjarak 8 km.
Kelurahan
Sekaran berada di wilayah administratif Kecamatan Gunungpati yang berdasarkan
data monografi desa tahun 2010 memiliki jumlah penduduk 6.241 orang. Jumlah
penduduk Sekaran berdasarkan komposisi jenis kelamin terdapat 3.195 laki-laki,
3.046 perempuan dengan jumlah Kepala Keluarga 1.542 orang. Dari gambaran jumlah
tersebut dapat dikatakan komposisi antara penduduk laki-laki dan penduduk
perempuan cukup seimbang.
Sebagaimana
dipahami, dalam beradaptasi dengan lingkungan, masyarakat sekaran memperoleh dan mengembangkan suatu kearifan
yang berwujud pengetahuan atau ide, norma adat, nilai budaya, aktivitas, dan
peralatan sebagai hasil abstraksi mengelola lingkungan. Seringkali pengetahuan mereka tentang
lingkungan setempat dijadikan pedoman yang akurat dalam mengembangkan kehidupan
di lingkungan pemukimannya.
Degan
Disesuaikan topografi Sekaran,yang berbukit dan juga merupakan jenis tanah yang
keras dan juga akses air yang tak begitu baik maka pertanian di daerah ini bukanlah pertanian
sawah melainkan tanaman keras seperti: pepaya, singkong, pisang, sengon dan
sebagainya. Walaupun akibat pembangunan yang terjadi akibat adanya universitas
negeri semarang dan juga akibat mulaih bertambahnya pendatang yang merupakan
mahasiswa ataupun pendatang yang membuka usaha atau juga berusaha menuntut
pengurangan lahan pertaniaan menjadi bangunan rumah yang secara jelas
mengurangi lahan yang tadinya sebagai lahan pertaniaan atau Hingga saat ini lahan-lahan pertanian penduduk
masih ada meski berada di luar Sekaran. Hal ini dikarenakan tidak ada lagi
lahan pertanian di wilayah Sekaran. Lahan di wilayah Sekaran sudah beralih
fungsi untuk lahan usaha disesuaikan dengan kebutuhan istilah modernya adalah
alih fungsi lahan pertaniaan menjadi pemukimana warga Unnes.
Seperti
sudah dijelaskan diatas bagaiamana topografi wilayah sekaran yang berbukit dan juga
dengan akses air yang sulit menuntut masyarakat menanam tanaman yang tahan akan
kekeringan serta cocok dengan keadaan geografis wilayah sekaran seperti Tanaman
yang menjadi komoditas masyarakat Sekaran adalah tanaman buah dan kayu sengon,
seperti: singkong, pisang kluthuk, pepaya, durian, dan sebagainya.hal ini
sebagai bentuk adaptasi masyarakat sekaran dengan topografi dan keadaan
geografis daerah sekaran. Dengan interaksi dengan masyarakat pendatang
khususnya mahasiswa serta interaksi dengan pemerintah yang lebih dekat menjadikan
Perilaku petani atau masyarakat
sekaran pada umumnya dalam mengelola
lahannya sudah menggunakan metode yang modern, misalnya dengan penggunaan pupuk
semprot (pestisida) bukan pupuk kandang. Persepsi mereka tentang lingkungan
sangatlah sederhana, bahwa ternyata mengolah lahan pertanian sebagai aktifitas
mereka sehari-hari merupakan bagian dari upaya mereka dalam melestarikan
lingkungan
Perkembangan
daerah Sekaran dengan keberadaan Kampus Unnes Sekaran telah merubah persepsi
mereka tentang lingkungan alam (tanah). Perubahan persepsi tersebut sebagai
cara masyarakat beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi setelah
pembangunan Unnes. Dalam kajian ekologi budaya, pola adaptasi manusia dengan
lingkungan adalah cara sesuatu budaya memanfaatkan lingkungan. Laksono (2001:
14) mengatakan bahwa persepsi tersebut antara lain ditentukan oleh penglihatan,
pendengaran, penilaian, dan interpretasi yang didasarkan pada
pengalaman-pengalaman masa lalu.
Masyarakat
Sekaran dari pengalaman mereka sebelum dan sesudah pembangunan Unnes dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Mereka tidak lagi memandang
tanah sebagai sumber penghidupan mereka yang harus mereka jaga dan lestarikan,
melainkan sebuah komoditas yang dapat mendatangkan uang. Hal ini terbukti
dengan sebagian masyarakat Sekaran dan sekitarnya yang memilih untuk menjual
tanah mereka kepada pendatang, yang oleh pendatang biasanya dipergunakan untuk
tempat kos maupun usaha lain yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Terlebih tidak
membutuhkan waktu lama bagi masyarakat Sekaran untuk menjual tanahnya karena
selalu ada orang yang berminat untuk membeli tanah di Sekaran dengan harga yang
tinggi.
Aktifitas
pertanian yang berbeda dengan aktifitas pertanian pada masyarakat pegunungan
yang melimpah dengan air. Menjadikan adanya sebuah Transformasi nilai akan
pentingnya menjaga kelestarian alam dan kebersihan lingkungan yang khas sesuatu
local wisdom yang kerap mereka lakukan melalui ritual dan aktifitas budaya yang
mereka selenggarakan. Mulai dari nyadran, bersih desahal diatas berfungsi
sebagai mana bentuk komfromi manusia dengan lingkunganganya karena hala diatas
sebagai motivasi masyarakat untuk selalu berkonfromi dalam bentuk nilai dan
norma masyarakat terhadap lingkungan yang mereka tinggali
Namun
secara umum seiring dengan dibangunnya Universitas Negeri Semarang (Unnes),
terjadi perubahan pada pola hidup masyarakat Sekaran. Hal diatas lah yang
menjadikan masyarakat sekaran lebih senang menjual tanah yang masyarakat
miliki. hal itulah yang menjadikan masyarakat kembali mendapati kenyataan bahwa
masyarakat harus mengolah pengetahuan masayrakat untuk beradabtasi terhadap
tanah pertaniaan yang beralih fungsi menjadi pemukiman penduduk. Hal itulah
yang menjadikan masyarakat lebih beralih dungsi kepada pekerjaan non agraris
atau pertaniaan.
Dengan
wilayah pertanian yang semakin berkurang menjadikan masyarakat sekaran
pertanian bukan pada pertaniaan intensif namun melainkan dengan istilah kebun.
Kebun disinipun dalam bentuk bukan sebenarnya karena masyrakat hanya menanam
pohon ataupun buah buahan yang mereka konsumsi sendiri. Tidak intensif karena
hanya dirawat seadanya tanpa perawatan intensif terhadap tumbuhan yang
masyarakat tanam yang umumnya berada didekat rumah.
Dengan
tergerusnya lahan pertanian yang diakibatkan oleh adanya pertumbuhan pemukiman
yang semakin pesat.menjadikan pola bertani berubah menjadi penyedian jasa atau
dengan berdagang menyediaakna kebutuhan masyarakat asli ataupun masyarakat
pendatang
SIMPULAN
Masyarakat
Sekaran Memiliki Sistem Pengetahuan Yang Didapat Dari Pengalaman Masyarakat
alami sebagai implikasi dari interaksi masyarakat dengan lingkungan. Pada
masyarakat sekaran memiliki sistem pertanian yang berbeda masyarakat pertanian
lainya dengan jenis topografi perbukitan
serta memiliki akses air yang tak sebaik daerah pertanian lainya di daerah jawa
menjadikan masyrakat bertani tanaman keras yang notabene tahan terhadap
karakteristik topografi daerah sekaran. Sistem pertania tanaman keras ini
sebagai pengetahuan adaptasi masyarakat terhadap kenyaatan lingkungan yang
didapati. Namun dengan adanya pembangunan unnes yang mengakibatkan semakin
menyempitanya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi
bangunan bangunan rumah tinggal menjadikan masyarakat bukan lagi beranggapan
pertanian sebagai bentuk masyarakat mengolah lingkungan sekitar. Hal
itulah yang menjadi kenyataan lingkunagan yang masyarakat sekaran hadapai
dengan adanya pembangaunan pusat pendidikan tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Ahimsa-Putra, H.S.
1986. ‘Antropologi Ekologi: Beberapa Pendekatan dan
Perkembangannya”.
Dalam Masyarakat Indonesia: Majalah Ilmu-ilmu
Luthfi, A. 2010. Persepsi
Masyarakat Sekaran Tentang Konservasi Lingkungan. Jurnal
Komunitas
3 (1) : 29-39

0 komentar